PSBB Kota Depok hanya Sebatas Kebijakan di Atas Kertas?

Syahdan Nurdin, ayutarikurnia8-617

VIVA – Penyebaran Covid-19 di Indonesia yang semakin merajalela membuat banyak kepala daerah mengambil keputusan kebijakan terbaik untuk daerahnya, salah satunya Kota Depok. Wali Kota Depok Mohammad Idris kini mengambil langkah untuk menjalankan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB.

Sejak awal pertama diterapkan PSBB di Depok, keadaan keluar masuk yang menuju Kota Depok masih terbilang cukup ramai. Hal tersebut sangat bertentangan dengan maksud dari adanya kebijakan PSBB tersebut. Hal ini didukung dari pernyataan juru bicara penanganan Covid-19 Kota Depok yaitu Dadang Wihana yang mengatakan bahwa tidak ada pembatasan keluar masuk selama PSBB hanya sebatas pengecekan.

Pada hari pertama diberlakukannya kebijakan ini, masih banyak masyarakat Depok yang berlalu lalang bepergian tanpa menggunakan masker. Hal ini didukung oleh pernyataan Mohammad Idris bahwa masih banyak warga yang berkumpul melebihi batasan yang sudah ditentukan dalam kebijakan PSBB.

Meskipun aparat kepolisian langsung menegurnya, namun teguran tersebut tidak menjadikan masyarakat Depok sendiri tertib dalam melakukan kebijakan PSBB.

Melihat dari gaya kepemimpinan Wali Kota Depok yang belum terlalu tegas dalam menghadapi Covid-19 ini menyebabkan kasus positif di Depok terus bertambah. Kolaborasi Walikota Depok dengan jajaran bawahnya juga terbilang masih kurang, karena masih banyak kelurahan bahkan tingkat RW yang belum sadar akan bahaya Covid-19 ini. 

Selain itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat secara intens dapat menjadikan solusi paling mudah untuk memberikan edukasi kepada masyarakat. Sosok Pak Idris yang dapat digambarkan memiliki sifat kebapakan sebenarnya dapat lebih dekat kepada warganya. Sesuai dengan karakteristik kepribadian yang disampaikan oleh Davis yaitu kedewasaan dan keluasan pandangan sosial.

Selaras dari pernyataan Robbins dan Judge (2007) dalam meningkatkan kepemimpinan efektif yaitu konsiderasi dan struktur inisiasi. Kedua aspek tersebut dapat dikombinasi untuk mengatasi keadaan sekarang, di mana dengan pemimpin yang memberikan tugas namun juga dekat dengan bawahan.

Dapat kita ketahui, sosok pemimpin yang dekat oleh masyarakatnya mampu memberikan perubahan yang cukup signifikan. Dengan begitu, kebijakan PSBB ini dapat berjalan dengan efektif apabila sosok pemimpin langsung terjun untuk memberikan sosialisasi.

Setelah 2 minggu diterapkannya PSBB di Depok, Mohammad Idris pun mengatakan bahwasannya pelanggaran yang terjadi masih banyak dan hukuman yang diberikan belum sepadan atau pun kurang tegas. Ia juga mengatakan belum efektifnya penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB di Kota Depok.