PSI Jawab Sindiran Megawati: Dukungan ke Ganjar Bukan Berarti Kami Ambil Kader PDIP

Merdeka.com - Merdeka.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merespons sindiran Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri mengenai parpol membajak kadernya jelang Pilpres 2024. Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie menegaskan partainya tidak membajak kader PDI Perjuangan.

Kader yang dimaksud adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Ganjar bergabung dengan PDI Perjuangan sejak 1996.

"Dukungan terhadap Mas Ganjar bukan berarti kami mengambil kader PDIP. Kami hanya menyampaikan aspirasi para pendukung PSI yang menginginkan Mas Ganjar Pranowo, sebagai calon presiden berikutnya," kata Grace melalui keterangan pers diterima, Rabu (11/1).

Grace menambahkan, nama Ganjar Pranowo muncul bukan tanpa alasan. Sebab sebelumnya, partainya telah melakukan jajak pendapat terhadap para pendukung melalui giat rembuk rakyat. Hasilnya, dari sejumlah nama dijajaki, Ganjar Pranowo yang menjadi jawaban.

"Nama Mas Ganjar yang muncul dari hasil Rembuk Rakyat PSI, para rakyat pendukung PSI," jelas dia.

Grace ingin tidak terjadi kesalahpahaman, dengan apa yang sudah dilakukan partainya terhadap Ganjar dan PDIP. Menurut dia, PSI menjadi partai muda yang harus terus diasah dan dukungan terhadap Ganjar merupakan sebuah pengakuan.

"PSI memang masih muda, belum berpengalaman, masih harus banyak belajar. Sebagai partai baru kami belum bisa melahirkan calon presiden. Justru ini merupakan pengakuan dari kami bahwa senior kami telah menghasilkan para pemimpin hebat," Grace menutup.

Megawati Sindir Parpol Bajak Kader PDIP

Pada peringatan hari ulang tahun (HUT) ke-50 PDI Perjuangan di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Selasa (10/1), Megawati menyindir partai politik (parpol) yang membajak kadernya menjelang Pilpres 2024.

Megawati heran ada parpol yang mengusung calon presiden di Pilpres 2024 bukan kader sendiri. Namun, Megawati tidak blak-blakan menyebut nama partai yang dimaksud.

“Orang berpolitik kok lucu ya, kayak gitu. Emang enggak punya kader sendiri? Iya dompleng-dompleng,” sindir Megawati dengan raut wajah kesal.

Dia pun mempertanyakan soal aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) terkait pengusungan capres kepada Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto. Apakah KPU sudah mengeluarkan aturan baru atau masih menerapkan ketentuan lama.

“To, di KPU aturannya sudah lain to? ’Enggak bu masih sama' jadi samanya gimana to?” kata Megawati menirukan pembicaraan dengan Hasto.

Megawati menegaskan, aturan pencalonan presiden adalah calon presiden dan calon wakil presiden diusung oleh partai atau gabungan partai politik. Namun kenyataannya, ada parpol yang tidak menjalankan aturan tersebut.

“Aturannya ngono, tapi ya kok aneh-aneh, ono wae. Aku sendiri mikir, ini opo to yo, makanya sorry,” ucap Megawati.

“Aduh gawat dah. Kalau kayak gini konotasinya partai kayak enggak punya kader coba bayangin padahal jelas pemilu ada calon itu ada," imbuhnya.

Presiden kelima RI ini kemudian menyinggung tujuan membangun parpol. Menurut Megawati, sebuah parpol seharusnya mempersiapkan kader internal untuk menjadi pemimpin masa depan.

Dia mencontohkan, di PDIP untuk menjadi kader harus mendaftar dulu ke partai. Lalu ada jenjang masuk struktur partai, kemudian menjadi calon legislatif hingga eksekutif. Maka di PDIP juga ada penggemblengan internal melalui sekolah partai.

"Jadi pertanyaan saya. Mau bikin partai untuk opo. Jangan lupa itu organisasi partai politik. Internal harus mempersiapkan. Saya enggak tahu lain partai gimana persiapkannya kalau di kita jadi kader susah," tegas Megawati.

Reporter: Radityo
Sumber: Liputan6.com [tin]