Psikolog: Raffi Ahmad Kena Sindrom Peter Pan

TEMPO.CO , Semarang:Psikolog Universitas Diponegoro Semarang Hastaning Sakti, menduga Rafi Ahmad punya kecenderungan sindrom Peter Pan. »Ia sendiri (Rafi) sulit bertangung jawab atas dirinya yang seharusnya sudah bertangung jawab untuk berumah tangga,” ujar Hastaning saat dimintai komentar mengenai dugaan hubungan asmara Raffi dengan politikus dan mantan artis Wanda Hamidah, Senin 28 Januari 2013.

Peter Pan Syndrome merupakan perilaku sesorang yang belum matang dan memerlukan perlindungan dari pasangan yang lebih tua. Penilaian Hastaning berdasarkan kecenderungan Raffi terkait kisah asmaranya dengan Yuni Sara. Namun kini tiba-tiba dikabarkan dekat dengan Wanda Hamidah yang usianya juga lebih tua.

Hubungan asmara keduanya mencuat setelah pengrebekan Badan Narkotika Nasional. Hastaning menduga Raffi merasa kehilangan Yuni, kemudian mencari kenyamanan dari Wanda. »Nah karakter tak bertangung jawab ini terjadi pada dirinya yang enggan menikah dan mencari yang lain,” ujar Hastaning.

Kecenderungan Peter Pan Syndrome Raffi Ahmad beda dengan Oedipus Complex Syndrome. Sindrom jenis terakhir terjadi pada seseorang yang cenderung mencintai wanita lebih tua. Hastaning memastikan kecenderungan Oedipus Complex Syndrome bisa dipastikan bila seorang rela menikah karena benar-benar mencintai orang yang lebih tua darinya. »Yang membedakan hanya serius dan tidak saja,” katanya.

Pengajar Universitas Diponegro ini mengaku kecenderungan Raffi bisa terjadi pada siapa pun, khususnya anak yang kurang kasih sayang dari orang tua. Dugaan Peter Pan Syndrome pada diri Raffi Ahmad bukan kelainan, karena ia masih bisa menjalankan aktivitas dengan baik , termasuk talenta dalam dunia hiburan.

EDI FAISOL

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.