PSIS Semarang Mulai Fokus Cetak Bibit Unggul

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 1 menit

VIVAPSIS Semarang kini fokus untuk mencetak bibit unggul dalam sepakbola. Manajemen meluncurkan PSIS Development sebagai wadah pembinaan batak usia muda.

Nantinya pemain yang dibina mulai dari usia 6 sampai 18 tahun. Kurikulum pembinaan sepakbola menggunakan standar modern.

Lapangan berstandar internasional di Stadion Citarum akan jadi lokasi latihannya. Kemudian akan ada pelatih dengan lisensi AFC seperti Muhammad Ridwan, Khusnul Yakin, Imam Rohmawan, Rifqi Hadiyanto, dan pelatih kiper Riyadi.

Selain berlatih teknik dan taktik di lapangan, anak didik di PSIS Development akan diberikan menu gym, kelas analisa video, konsultasi, dan program nutrisi.

Chief Executive Officer (CEO) PSIS, Yoyok Sukawi berharap dari program ini bakal muncul bibit baru sepakbola. Animo masyarakat diharapkan juga bisa ikut ramai.

"Alhamdulillah, inilah keseriusan PSIS membangun tim di masa depan. Nantinya akan diajarkan bagaimana bermain sepak bola modern dan segala ruang lingkup sepak bola baik di dalam mau pun luar lapangan," kata Yoyok.

Namun, untuk sementara PSIS Development belum menerapkan sistem asrama. Tapi tidak tertutup kemungkinan langkah itu akan ditempuh oleh manajemen tim berjuluk Laskar Mahesa Jenar.

Ridwan yang dipercaya menjadi pelatih sekaligus Direktur Akademi PSIS mengatakan program ini bertujuan untuk mencetak generasi emas. Sehingga mereka bisa bersaing di tingkat nasional dan juga internasional.

“Terima kasih, saya dipercaya manajemen PSIS mengelola PSIS Development. Harapannya PSIS Development ini bisa sebagai wadah pembinaan usia muda untuk mencetak pesepak bola modern yang memiliki kepribadian unggul di dalam mau pun luar lapangan,” ujar mantan pemain Timnas Indonesia tersebut.

PSIS Development sudah dibuka pendaftarannya melalui laman resmi klub. Nantinya akan ada pungutan biaya pendaftaran sebesar RP3 juta dan uang bulanan pertama Rp750 ribu. Anak didik nantinya mendapatkantiga set perlengkapan latihan seperti jersey, celana, kaos kaki, rompi, tas punggung, bola, dan tempat minum.

Laporan Teguh Joko Sutrisno/tvOne Semarang