PSSI dan PT LIB Jangan Umbar Janji, Dampaknya Bisa Bahaya

Riki Ilham Rafles
·Bacaan 1 menit

VIVAPSSI dan PT Liga Indonesia Baru diminta untuk tegas dalam mengagendakan kompetisi mulai dari Liga 1 sampai Liga 3. Jangan lagi janji-janji muluk yang diucapkan, tapi tidak ada realisasinya.

Budi Setiawan dari Football Institute mengurutkan bagaimana janji PSSI dan PT LIB sepanjang 2020 hingga 2021. Tidak ada satu pun rancangan agenda yang mereka gagas bisa diwujudkan.

Budi membandingkan PSSI kepemimpinan Mochamad Iriawan ini tertinggal jauh dibanding era sebelumnya. Banyak konflik terjadi bahkan sampai dibekukan pun, ada kompetisi yang bisa dijalankan.

"Kompetisi tidak akan bisa bergulir jika tidak ada kompetensi dari pihak penyelenggara, ini mungkin jadi catatan khusus di mana periodisasi PSSI-nya tidak sanggup menggelar kompetisi," ujar Budi, Senin 8 Februari 2021.

"Jaman Nurdin Halid dan Djohar Arifin saja sampai ada dua kompetisi yang legal dan ilegal (ISL dan IPL). Jaman PSSI dibekukan pun juga masih ada kompetisi. Ditambah lagi ketika jajaran Direksi PT LIB yang tidak familiar di dunia sepakbola. Hal ini sempat menjadi keraguan di publik," imbuhnya.

Belakangan pun mulai terkuat betapa buruknya kinerja PSSI dan PT LIB setahun belakangan ini. Menurut Budi, semestinya kedua belah pihak memastikan lebih dulu izin dari Kepolisian baru berbicara soal lanjutan kompetisi.

Jangan sampai pada akhirnya suporter yang sudah tidak sabar untuk melihat kompetisi berjalan lagi malah memendam kecewa kepada Kepolisian. Dampaknya akan sangat tidak bagus ke depannya.

"Akhirnya terjawab dengan kinerja yang jauh dari memuaskan selama hampir satu tahun terakhir ini. Lebih bijak seandainya PSSI dan PT LIB merampungkan dulu izin keamanan, baru memberi statement yang jelas ke publik," tutur Budi.

"Ini seperti sedang kampanye. Mengumbar janji-janji muluk. Nanti kalau izin keamanan tidak keluar, suporter merasa dijanjikan. Lalu ada konflik horizontal antara Polisi dan suporter bagaimana? Siapa yang mau tanggung jawab?" tambahnya.