PSSI Hentikan Liga 2, CEO PSIM: Ini Langkah Mundur!

Bola.com, Yogyakarta - Kelanjutan Liga 2 2022/2023 sudah diputuskan dalam rapat Exco PSSI di kantor pusat federasi sepak bola Indonesia itu yang terletak di GBK Arena, Kamis (12/1/2023). Hasilnya, kompetisi kasta kedua Liga Indonesia itu dihentikan.

Keputusan tersebut jelas sangat disayangkan beberapa klub, terutama mereka yang menghendaki kompetisi Liga 2 tetap bergulir. Tak terkecuali wakil kontestan asal Yogyakarta, PSIM Yogyakarta.

Sejak awal, PSIM memang jadi klub yang menginginkan kompetisi tetap jalan. Sayang, setelah penantian selama hampir empat bulan klub berjulukan Laskar Mataram itu harus gigit jari menyusul keputusan dari federasi.

"Kami sangat menyayangkan keputusan penghentian Liga 2. Sejak awal PSIM tegas mendorong Liga 2 tetap berlangsung. Sekarang ya mau apa lagi? Kami sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi, keputusan sudah diambil," ujar CEO PSIM, Bima Sinung Widagdo, Kamis (12/1/2023) malam.

Langkah Mundur

Pemain PSIM Yogyakarta berjalan meinggalkan lapangan usai laga lanjutan Grup B Liga 2 2022/2023 antara FC Bekasi City melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Senin (19/09/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Pemain PSIM Yogyakarta berjalan meinggalkan lapangan usai laga lanjutan Grup B Liga 2 2022/2023 antara FC Bekasi City melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Senin (19/09/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Mantan CEO Sulut United itu mengatakan penghentian kompetisi akan menimbulkan kerugian besar bagi klub. Mulai dari segi bisnis hingga pembinaan.

"Kalau kita ngomongin sepak bola ideal, ya kompetisi harus bergulir. Masa iya sih kompetisi bisa dihentikan oleh klub-klub tertentu saja, itu menurut saya enggak masuk akal," ucapnya.

"Kami klub Liga 2 sejak liga dihentikan itu sampai saat ini nasibnya terkatung-katung. Operasional terus membengkak, kami harus tetap bayar gaji pemain. Semua jadi kacau, ini berat sekali buat kami sebetulnya," jelas pria asal Jakarta itu.

Menurut Bima Sinung, situasi saat ini tidak ideal untuk iklim sepak bola Indonesia. Meski berat, dia mengaku legawa dengan keputusan tersebut.

"Ini jadi langkah mundur, tetapi kalau keadaan tidak memungkinkan ya bagaimana lagi. Ini sepertinya jadi sejarah ya untuk pertama kali Liga 1 jalan, tetapi kompetisi di bawahnya disetop," tutur Bima Sinung.

"Harusnya misal enggak lanjut, ya enggak lanjut semua, termasuk Liga 1 juga. Itu namanya force majeure, berlakunya keseluruhan. Jangan hanya Liga 2 dan Liga 3 saja yang dihentikan, sangat aneh," tegasnya.

Ayo PSSI, Berbenah!

Bima Sinung menyinggung masalah infrastruktur yang tak terawat dengan baik. Hal itu terjadi karena keterbatasan pemerintah daerah untuk menyediakan dana pemeliharaan fasilitas stadion. Ia menawarkan kedepannya agar stadion di Indonesia bisa diserahkan ke pihak swasta dalam hal ini klub untuk pengelolaannya. (Bola.com/Arief Bagus)
Bima Sinung menyinggung masalah infrastruktur yang tak terawat dengan baik. Hal itu terjadi karena keterbatasan pemerintah daerah untuk menyediakan dana pemeliharaan fasilitas stadion. Ia menawarkan kedepannya agar stadion di Indonesia bisa diserahkan ke pihak swasta dalam hal ini klub untuk pengelolaannya. (Bola.com/Arief Bagus)

Manajemen Laskar Mataram meminta kepada PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) agar benar-benar berbenah. Bima Sinung berharap pada musim berikutnya kasus serupa tak terulang kembali.

Ke depan diharapkan kompetisi sepak bola Indonesia dapat lebih baik dan lebih berkualitas lagi. PSIM juga meminta kepada operator liga untuk segera memberikan kepastian kapan kompetisi musim 2023/2024 digelar.

"Karena sekarang dihentikan, ya harus segera lakukan evaluasi. Kami minta penyelenggara cepat memberikan kepastian kapan Liga 2 2023 diputar, tidak perlu jadwal, bulan apa dulu saja deh. Jadi nanti manajemen klub bisa mempersiapkan langkah-langkah berikutnya," kata Bima Sinung.

 

PSSI: Mayoritas Klub Minta Dihentikan

Sekjen PSSI, Yunus Nusi memberikan keterangan saat konferensi pers mengenai kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, pada Minggu (02/10/2022) di Stadion Madya, Senayan, Jakarta. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)
Sekjen PSSI, Yunus Nusi memberikan keterangan saat konferensi pers mengenai kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, pada Minggu (02/10/2022) di Stadion Madya, Senayan, Jakarta. (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Diunggah di laman PSSI, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Yunus Nusi, menyampaikan ada tiga hal yang melatarbelakangi keputusan tersebut.

Pertama, adanya permintaan dari sebagian besar klub Liga 2 yang menginginkan kompetisi tidak berlanjut. Alasan menurut PSSI karena tidak ada kesesuaian konsep pelaksanaan lanjutan kompetisi antara klub dan operator.

Pelaksanaan atau kelanjutan Liga 2 sangat sulit diselesaikan sebelum Piala Dunia U-20 2023 dimulai pada 20 Mei 2023.

Selanjutnya, terdapat rekomendasi dari tim transformasi sepak bola Indonesia setelah Tragedi Kanjuruhan yang menyatakan bahwa sarana dan prasarana belum memenuhi syarat.

Terakhir, berdasarkan Perpol No. 10 Tahun 2022 mengamanatkan proses perizinan yang baru dengan memperhatikan periode waktu pemberitahuan, pengajuan rekomendasi dan izin, hingga bantuan pengamanan.

 

BRI Liga 1 Tanpa Degradasi

Liga 1 - Ilustrasi BRI Liga 1 dengan Nuansa Suporter (Bola.com/Adreanus Titus)
Liga 1 - Ilustrasi BRI Liga 1 dengan Nuansa Suporter (Bola.com/Adreanus Titus)

Penghentian Liga 2 2022/2023 berdampak kepada tidak adanya degradasi di BRI Liga 1 2022/2023. Nantinya, wakil Indonesia di kompetisi AFC musim 2023/2024 akan ditentukan melalui laga playoff yang diikuti juara Liga 1 2021/2022 versus juara Liga 1 2022/2023.

Tak hanya Liga 2 2022/2023, Liga 3 putaran nasional 2022/2023 juga resmi dihentikan. Bagi Asprov PSSI yang sudah menggulirkan kompetisi Liga 3, kuotanya tetap dapat digunakan pada kompetisi selanjutnya.

 

Persaingan BRI Liga 1 saat Ini