PT AAS Rugi Miliaran Akibat Diamuk Massa

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Merdeka.com
    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    MERDEKA.COM. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai, sejak Presiden SBY mengeluarkan Instruksi Presiden No.15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan, armada perikanan nasional justru bertumpuk di perairan kepulauan. …

Jambi (ANTARA) - PT Agronusa Alam Sejahtera atau AAS mengaku rugi Rp10 miliar akibat kejadian amuk massa di Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun, pada Rabu 29 Agustus lalu.

Direksi PT AAS Idaman Zega kepada wartawan di Jambi, Jumat, mengatakan, kerugian itu di antaranya adalah empat blok campatau, 24 pintu bangunan, satu unit kantor habis dirusak ratusan massa yang mengamuk.

"Tidak itu saja, tiga unit alat berat, dua unit truk, dua unit mobil perusahaan dan dua unit tanki BBM juga habis dirusak," ujarnya.

Ia mengaku menyayangkan aksi perusakan oleh sekitar 600 warga yang berdomisili di sekitar kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) PT.AAS.

Menurut dia, perusakan oleh warga sudah terjadi untuk kesekian kalinya. Namun, kejadian perusakan pada Rabu 29 Agustus 2012 sekitar pukul 07.30 WIB pagi itu merupakan perusakan yang paling besar.

"Ini perusakan yang ke 19 kali berdasarkan catatan kami. Dan pembakaran di kamp pada Rabu kemarin merupakan yang paling besar," jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, konflik dengan warga sudah terjadi beberapa tahun belakangan. Begitu juga dengan upaya mediasi yang difasilitasi pemerintah dan pihak kemanan sudah sering dilakukan. Hanya saja, tidak membuahkan hasil dan menemui jalan buntu. "Warga tetap dengan tuntutan mereka kepada perusahaan, dan tidak ada jalan keluar," ujarnya lagi.

Ia menjelaskan, permasalahan berawal dari adanya klaim masyarakat yang berada di kawasan HTI dan mengaku 90 persen lahan HTI PT.AAS dan PT.Wanakasita Nusantara adalah milik warga.

Padahal, kata dia, pihak perusahaan sudah mendapatkan izin dari Kementerian Kehutanan untuk mengelola HTI di daerah itu seluas 31 ribu hektar.

"HTI milik PT.AAS dan Wanakasita Nusantara terdapat di Kabupaten Merangin, Kabupaten Sarolangun dan Bajubang, Kabupaten Batanghari. Untuk PT.AAS izin HTI-nya keluar pada 2009, dan untuk PT. Wanakasita Nusantara keluar sejak 1995," jelasnya lagi.

Terpisah, Kapolres Sarolangun, AKBP. Satria Adhy Permana, melalui Kasat Reskrim AKP. Sahlan Umagapi, mengatakan, pihaknya sudah memanggil dan memerikasa 12 orang saksi.

"Saksi saksi ini berasal dari pihak perusahaan dan pihak yang berada di lokasi pada saat aksi pembakaran berlangsung," ujarnya.

Menurut dia, situasi dan kondisi di lokasi pembakaran telah kondusif. Sebelum aksi pembakaran warga terjadi, kepolisian melalui Polsek Mandiangin sudah berupaya melakukan pendekatan terhadap massa yang ingin berdemo, hanya saja, aksi demo justru berujung anarkis.

Untuk diketahui, kamp PT.AAS di Desa Jati Baru, Kecamatan Mandiangin, Kabupaten Sarolangun diserang sedikitnya oleh 600 warga pada Rabu 29 Agustus 2012 sekitar 07.30 WIB pagi.

Diduga, pelaku perusakan dan pembakaran adalah kelompok masyarakat dari tujuh desa. Diantaranya adalah Desa Butang Baru, Sungai Butang, Jati Baru, Guruh Baru, Meranti Baru, Petiduran, dan desa Bungku Kecamatan Bajubang Kabupaten Batanghari.(rr)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...

Artikel Bisnis Terpopuler