PT DI Akan Produksi Pesawat Komersial

  • Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    Tempo
    Lima Ribu Hektare Sawah Hilang untuk Jalan Tol

    TEMPO.CO, Surakarta - Pembangunan jalan tol yang menghubungkan dua kota terbesar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, berdampak menyusutnya lahan pertanian. …

  • Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNnews.com
    Orang Indonesia Rentan Menjadi Miskin

    TRIBUNNEWS.COM - Sekitar 75 persen dari penduduk Indonesia memenuhi kehidupannya dengan uang kurang dari 4 dollar AS per hari. …

  • Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    Merdeka.com
    Potensi hasil laut senilai Rp 360 triliun raib

    MERDEKA.COM. Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai, sejak Presiden SBY mengeluarkan Instruksi Presiden No.15 Tahun 2011 tentang Perlindungan Nelayan, armada perikanan nasional justru bertumpuk di perairan kepulauan. …

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (DI) berencana merealisasikan proyek pembuatan pesawat komersil seperti N250 di masa silam."Pesawatnya tetap komersil, tapi bukan N-250, melainkan pesawat sejenis," kata Direktur Bidang Kualitas sekaligus Juru Bicara PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, di tempat kerjanya, Rabu (20/2/2013).

Sonny mengemukakan, pihaknya berkeinginan memproduksi pesawat komersil berkapasitas penumpang 80-100 orang, karena pasar jenis pesawat itu terbuka lebar.

Proyek itu bekerja sama dengan PT Ragio Aviasi Industri (RAI), yang terbentuk bersama dua perusahaan swasta, yakni PT Ilhabi Rekatama, milik Ilham Akbar Habibie, putra BJ Habibie, dan PT Modal Elang milik mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Erry Firmansyah.  Sejauh ini pihaknya masih menanti kabar dan perkembangan selanjutnya dari PT RAI.

Apabila program dan rencana itu tidak terealisasi, PT DI tetap berusaha mewujudkan pembangunan pesawat komersil tersebut. "Tentunya, kami mencari berbagai cara, terutama dalam hal pendanaan. Itu karena, biayanya kami prediksikan sangat besar," ujar Sonny.

PT DI tahun ini sudah melakukan langkah awal dengan menyiapkan dan menyusun konsep pesawat tersebut. Jika perencanaan tahap awal ini terealisasi pembuatan pesawat itu berlangsung selama 3 tahun. Sonny memperkirakan, harga jual pesawat komersil tersebut hampir setara dengan ATR. "Nilainya, kurang lebih 42 juta dolar Amerika AS per unit," ujarnya.

Berkenaan dengan rencana kerja 2013, Sonny mengatakan, pihaknya bersiap menjalin kerja sama dengan Airbus Military dalam hal pemeliharaan pesawat. Kerja sama itu saat ini belum bergulir. karena masih menunggu hasil audit yang dilakukan otoritas Airbus Military.

Kerja sama pemeliharaan pesawat bernilai sangat besar. Setiap tahunnya,  nilai kontrak pemeliharaan pesawat dapat mencapai 600 juta dolar AS. "Nilai terbesar yaitu pesawat produksi Boeing dan Airbus. Nilainya, masing-masing 270 juta dolar AS. Sisanya pesawat kecil," ujarnya.

Apabila pada akhirnya PT DI dapat menjalin kerja sama dengan Airbus Military, PT DI menargetkan kontrak Rp 500 miliar-600 miliar. "Kami melakukan berbagai persiapan. Di antaranya, menambah peralatan pemeliharaan pesawat. Kami pun memberikan pelatihan kepada beberapa teknisi agar memperoleh sertifikasi Airbus Military," katanya.

Sedangkan target kontrak tahun ini, kata Sonny, senilai Rp 3,1 triliun. Sejauh ini, nilai kontrak yang sudah terealisasi sekitar Rp 2,3 triliun. Penyerapan itu, bersumber pada kontrak sejumlah pesawat, baik dengan beberapa negara maupun di dalam negeri.

Saat ini PT DI terikat kontrak dengan luar negeri untuk membangun CN 235 sebanyak 4 unit, CN-212 sejumlah 2 unit, dan CN-295 sebanyak 2 unit. Sedangkan untuk kontrak dalam negeri,  antara lain pembuatan CN-235 sebanyak 3 unit dan 3 unit Helikopter Bell. (Tribun Jabar/win)

Baca juga:

  • Tahun ini Telkomsel Bangun 1200 BTS 3G di Sumbagteng
  • Meski Mayoritas Kedelai Dari Impor, Harga Harus Stabil
  • PHRI Sulsel Soroti Pembatasan Impor Hortikultura
  • Longsor Enam Jam, Jasa Marga Rugi Rp 150 Juta


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...