PT DI Akan Produksi Pesawat Komersial

  • Dahlan sebut tol Trans Sumatera buat tiru sukses AS dan China

    Dahlan sebut tol Trans Sumatera buat tiru sukses AS dan China

    Merdeka.com
    Dahlan sebut tol Trans Sumatera buat tiru sukses AS dan China

    MERDEKA.COM. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan menuturkan ada alasan khusus mengapa pemerintah ngotot meneruskan megaproyek Tol Trans Sumatera. Dari hitungan awal, sudah jelas jalan bebas hambatan di Bumi Andalas tidak terlalu menguntungkan.Akan tetapi, Dahlan mengingatkan bahwa negara-negara maju mencapai perkembangan ekonomi signifikan selepas ada jaringan jalan tol."Amerika menjadi booming setelah jaringan jalan tol jadi. Itu dicopy oleh Tiongkok, sekarang seluruh jalan …

  • Saran Hidup Hemat Untuk Anak Muda dari Pebisnis Terkaya di Asia

    Saran Hidup Hemat Untuk Anak Muda dari Pebisnis Terkaya di Asia

    Studentpreneur
    Saran Hidup Hemat Untuk Anak Muda dari Pebisnis Terkaya di Asia

    Redaksi Studentpreneur Memodifikasi Saran Li Ka-shing Agar Lebih Cocok Bagi Anak Muda Indonesia. …

  • Lebaran, Tarif Bus Lorena Naik 25 Persen  

    Lebaran, Tarif Bus Lorena Naik 25 Persen  

    Tempo
    Lebaran, Tarif Bus Lorena Naik 25 Persen  

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Direktur PT Eka Sari Lorena, Eka Sari Lorena Surbakti, menjamin tarif bus Lorena hanya naik antara 20-25 persen dalam arus mudik dan balik Lebaran tahun ini. Kenaikan itu disebut Eka berlangsung sejak 21 Juli hingga 4 Agustus 2014. "Naiknya H-7 (21 Juli) hingga H+7 (4 Agustus) Lebaran," kata Eka, usai menghadiri buka bersama di kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, kemarin. …

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - PT Dirgantara Indonesia (DI) berencana merealisasikan proyek pembuatan pesawat komersil seperti N250 di masa silam."Pesawatnya tetap komersil, tapi bukan N-250, melainkan pesawat sejenis," kata Direktur Bidang Kualitas sekaligus Juru Bicara PT DI, Sonny Saleh Ibrahim, di tempat kerjanya, Rabu (20/2/2013).

Sonny mengemukakan, pihaknya berkeinginan memproduksi pesawat komersil berkapasitas penumpang 80-100 orang, karena pasar jenis pesawat itu terbuka lebar.

Proyek itu bekerja sama dengan PT Ragio Aviasi Industri (RAI), yang terbentuk bersama dua perusahaan swasta, yakni PT Ilhabi Rekatama, milik Ilham Akbar Habibie, putra BJ Habibie, dan PT Modal Elang milik mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Erry Firmansyah.  Sejauh ini pihaknya masih menanti kabar dan perkembangan selanjutnya dari PT RAI.

Apabila program dan rencana itu tidak terealisasi, PT DI tetap berusaha mewujudkan pembangunan pesawat komersil tersebut. "Tentunya, kami mencari berbagai cara, terutama dalam hal pendanaan. Itu karena, biayanya kami prediksikan sangat besar," ujar Sonny.

PT DI tahun ini sudah melakukan langkah awal dengan menyiapkan dan menyusun konsep pesawat tersebut. Jika perencanaan tahap awal ini terealisasi pembuatan pesawat itu berlangsung selama 3 tahun. Sonny memperkirakan, harga jual pesawat komersil tersebut hampir setara dengan ATR. "Nilainya, kurang lebih 42 juta dolar Amerika AS per unit," ujarnya.

Berkenaan dengan rencana kerja 2013, Sonny mengatakan, pihaknya bersiap menjalin kerja sama dengan Airbus Military dalam hal pemeliharaan pesawat. Kerja sama itu saat ini belum bergulir. karena masih menunggu hasil audit yang dilakukan otoritas Airbus Military.

Kerja sama pemeliharaan pesawat bernilai sangat besar. Setiap tahunnya,  nilai kontrak pemeliharaan pesawat dapat mencapai 600 juta dolar AS. "Nilai terbesar yaitu pesawat produksi Boeing dan Airbus. Nilainya, masing-masing 270 juta dolar AS. Sisanya pesawat kecil," ujarnya.

Apabila pada akhirnya PT DI dapat menjalin kerja sama dengan Airbus Military, PT DI menargetkan kontrak Rp 500 miliar-600 miliar. "Kami melakukan berbagai persiapan. Di antaranya, menambah peralatan pemeliharaan pesawat. Kami pun memberikan pelatihan kepada beberapa teknisi agar memperoleh sertifikasi Airbus Military," katanya.

Sedangkan target kontrak tahun ini, kata Sonny, senilai Rp 3,1 triliun. Sejauh ini, nilai kontrak yang sudah terealisasi sekitar Rp 2,3 triliun. Penyerapan itu, bersumber pada kontrak sejumlah pesawat, baik dengan beberapa negara maupun di dalam negeri.

Saat ini PT DI terikat kontrak dengan luar negeri untuk membangun CN 235 sebanyak 4 unit, CN-212 sejumlah 2 unit, dan CN-295 sebanyak 2 unit. Sedangkan untuk kontrak dalam negeri,  antara lain pembuatan CN-235 sebanyak 3 unit dan 3 unit Helikopter Bell. (Tribun Jabar/win)

Baca juga:

  • Tahun ini Telkomsel Bangun 1200 BTS 3G di Sumbagteng
  • Meski Mayoritas Kedelai Dari Impor, Harga Harus Stabil
  • PHRI Sulsel Soroti Pembatasan Impor Hortikultura
  • Longsor Enam Jam, Jasa Marga Rugi Rp 150 Juta


Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.

Memuat...
POLL

Apakah kemampuan berbahasa Inggris dengan lancar wajib dimiliki oleh kandidat capres maupun cawapres?

Memuat...
Opsi Pilihan Jajak Pendapat