PT Len mulai produksi ventilator

Ahmad Buchori

PT Len Industri (Persero) mulai memproduksi emergency ventilator untuk penanganan pasien COVID-19 yang menggunakan komponen lokal dan desain dari BPPT dan ITB.

Langkah tersebut diambil untuk menjaga bisnis tetap berjalan di masa pandemi COVID-19.

Direktur Utama Len Industri, Zakky Gamal Yasin, Selasa, mengatakan Len juga melakukan pengembangan Controlled Ventury Base CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) yang membantu percepatan penyembuhan pasien COVID-19 stage 2 melalui proses menjaga konsistensi level oksigenasi dalam hemoglobin pasien.

Ia mengatakan merebaknya wabah virus corona, menyebabkan banyak efek negatif, baik kesehatan, pendidikan, kehidupan sosial, hingga ekonomi dan di Indonesia, mau pun di dunia, tak terkecuali

"Ini adalah kondisi sekarang yang penuh tantangan. Selain harus mencegah dan memutus penyebaran virus corona, namun juga harus tetap menjaga roda bisnis perusahaan tetap berjalan," kata dia.

Zakky menjelaskan kondisi pekerjaan di lapangan sekarang dibatasi dan mengikuti Protokol Pencegahan COVID-19 sedangkan di kantor sudah menerapkan WFH (Work From Home) sejak 18 Maret 2020 hingga 20 Mei masih WFH.

Proyek-proyek strategis pertahanan hampir semuanya masih terus dijalankan, meski ada kemungkinan beberapa akan di-reschedule dan yng masih berjalan di antaranya seperti Rudal Pertahanan Udara Statstreak, Pamtas (Pengamanan Perbatasan) Indonesia-Malaysia, dan pengadaan sistem datalink.

Di bidang ICT dan energi contohnya pemeliharaan stasiun seismic gempa bumi, pemeliharaan InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), serta pembangunan jaringan gas (jargas).

“Di bidang migas ini baru, kini Len berperan sebagai kontraktor penunjang migas dan mendukung target lifting minyak dan gas bumi,” ujarnya.

Sedangkan di bidang perkeretaapian, proyek seperti pembangunan sistem persinyalan dan telekomunikasi jalur kereta api lintas Makassar-Parepare, jalur ganda kereta api lintas Bogor-Cicurug, fasilitas operasi LRT Palembang, serta pemeliharaan Skytrain/APMS Basoetta, juga masih tetap berjalan.

"Mari lah kita menjaga sikap, ucapan, tingkah laku kita yang dapat melemahkan imunitas fisik dan mental di tengah pandemi COVID-19 ini. Tumbuhkanlah nuansa positif agar kekompakan dan solidaritas dapat terus kita jaga. Semoga wabah pandemi ini segera berlalu, dan kita semua bisa beraktifitas seperti biasanya," kata Zakky.

Sementara itu, Manajer Rekayasa Produk Unit Bisnis Industri, Sentot Rakhmad Abdi menjelaskan untuk Ventilator BPPT saat ini sudah disertifikasi BPFK (Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan).

Sentot menuturkam Len juga sedang memproduksi 10 unit ventilator untuk keperluan uji klinis di rumah sakit sebelum peralatan tersebut diedarkan secara legal ke rumah sakit seluruh Indonesia.

Setelah lolos uji klinis maka produksi massal peralatan ini akan segera dilakukan. Kapasitas produksi PT Len industri per hari bisa mencapai 50 unit ventilator tergantung pada ketersediaan komponen.

Target produk yang diperlukan BPPT 600 unit, produksi secara massal akan dikerjakan oleh dua industri, PT Len Industri akan melakukan produksi sebanyak 300 unit. Informasi yang diterima sementara seperti itu.

Alat kesehatan buatan dalam negeri tersebut menggunakan material 100 persen local content (kandungan lokal), tidak ada yang impor.

Adanya produksi ventilator tidak merubah line production di Len, karena pada dasarnya produksi di Len bersifat fleksibel.

“Untuk saat ini, harga kedua ventilator, baik dari BPPT maupun ITB belum secara resmi ditetapkan, karena produk yang dibuat masih ada penambahan fitur dan ventilator ITB saat ini masih ditujukan untuk keperluan donasi,” ujar Sentot.

Untuk ventilator ITB, target diselesaikan oleh Len sebanyak 300 unit dan kapasitas produksinya mencapai 50 unit per hari dan saat ini sedang kejar produksi untuk keperluan donasi.

"Perusahaan lain yang ikut serta dalam produksi, yaitu PT MRB dan PT DI. Beberapa komponen ventilator dibuat sendiri oleh ITB. Saat ini kegiatan assembly komponen tersebut dilakukan oleh SMK, Polman, dan Polban," lanjut Sentot.

Teknologi Ventilator

Terdapat dua tipe ventilator, yaitu invasif dan non-invasif. Ventilator invasif adalah alat bantu pernafasan yang mana alat ini mengontrol keseluruhan pernafasan pasien disebabkan pasien dalam kondisi darurat.

Sedangkan ventilator non-invasif digunakan untuk pasien yang masih sadar dan mampu mengatur pernafasannya sendiri meskipun dalam kondisi sesak nafas.

Untuk pasien COVID-19, biasanya akan ditemui gejala pasien susah bernafas, sehingga dalam kondisi ini pasien bisa dibantu dengan CPAP (Continuous Positive Airway Pressure) atau ventilator non-invasif untuk membantu kerja paru-paru agar tidak terjadi disfungsi.

Teknologi ventilator yang dikembangkan ITB memiliki fungsi non-invasif atau menggunakan CPAP, yaitu untuk membantu memberikan pasokan oksigen kepada pasien secara terus menerus sesuai standar yang dibutuhkan.

Alat ini tidak mengambil kontrol pernafasan, sehingga perannya hanya membantu kerja paru-paru.

Tetapi apabila kondisi pasien semakin parah dan tidak dapat mengontrol pernafasannya sendiri, maka pasien dapat menggunakan ventilator invasif yang akan mengambil alih kontrol pernafasan.

Mulai dari tarik nafas serta buang nafas. Ventilator invasif inilah yang dikembangkan BPPT yang diberi nama Emergency Ventilator.

Ventilator invasif ini menggunakan alat bantu endotracheal tube ( ETT) dengan cara intubasi yaitu dipasang dalam trakea pasien melalui mulut.

Berdasarkan laporan yang diterima terkait kondisi di rumah sakit, banyak pasien covid yang mengalami sesak nafas. Sedangkan ventilator yang ada jumlahnya tidak memadai, sehingga pasien harus mengantri.

Sebagai solusinya, maka dibuatlah ventilator tersebut untuk membantu pernafasan pasien, atau yang dinamakan dengan automatic resuscitator.

Ventilator invasif ini diseting disesuaikan dengan kondisi pasien berdasarkan volume, tekanan dan frekuensi udara yang diberikan ke paru-paru pasien.

Desain ventilator yang diadopsi oleh BPPT merupakan jenis ventilator yang telah teruji secara medis di Spanyol. Ventilator jenis ini sudah diproduksi secara massal di negara tersebut .

Desainnya bersifat open, artinya lembaga manapun bisa menggunakannya. Tentunya disesuaikan dengan ketersediaan komponen dan bahan pendukung yang ada di masing-masing negara.

Desain dari BPPT berbasis Semi-Automatic BVM (Bag Valve Mask), atau disebut juga Ambu Bag.

Desain tersebut terinspirasi dari desain terbuka yang mampu membuat dukungan mekanik pada proses pemerasan (bagging) kantong resusitasi manual untuk mempermudah kerja tenaga kesehatan dalam menangani lonjakan jumlah pasien.

Alat ini bekerja dengan menirukan gerakan meremas kantong resusitator untuk mendistribusikan sejumlah udara dengan volume tertentu, rasio inspirasi:ekspirasi tertentu dan mampu mengatur frekuensi pernafasan dengan tetap memperhatikan keamanan tekanan udara terhadap keselamatan organ paru-paru pasien.

Baca juga: Dua unit solar tree dipasang di Alun-alun Bandung

Baca juga: BMKG-Len kerja sama bangun 194 stasiun seismic

Baca juga: PLN-LEN-Pertamina bentuk perusahaan patungan kembangkan PLTS