PT Timah harap pemerintah segera tertibkan RKAB tambang

PT Timah Tbk berharap pemerintah segera menertibkan rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) milik perusahaan tambang yang terindikasi menjalin kerja sama dengan penambang ilegal atau pertambangan tanpa izin (peti).

Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar Baswedan mengatakan penertiban RKAB itu dapat memberikan pengaruh positif terhadap produksi timah perseroan.

"Kami percaya regulator punya aturan terdokumentasi saat pengajuan RKAB," katanya di Jakarta, Jumat.

Pada semester I 2022, perseroan mencatat angka produksi bijih timah sebanyak 9.901 ton atau turun 14 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 11.457 ton.

Dari jumlah tersebut, 39 persen atau 3.829 ton berasal dari penambangan darat. Sedangkan, sisanya 61 persen atau 6.072 ton berasal dari penambangan laut.

Di sisi lain, produksi logam timah turun sebesar 26 persen menjadi 8.805 metrik ton bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 11.915 metrik ton.

Adapun penjualan logam timah tercatat sebesar 9.942 metrik ton atau turun sebesar 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 12.523 metrik ton.

Abdullah menerangkan produksi timah yang menurun itu lantaran rakyat yang menambang timah di lokasi milik perusahaan dengan skema kemitraan tidak memberikan hasil produksinya kepada Timah.

Menurutnya, penertiban RKAB yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM dapat menjamin angka produksi bijih timah perseroan karena dokumen itu dapat mengetahui jejak cadangan dan produksi timah.

"Mereka tambang di lokasi kami dengan kerja sama dan kompensasi, tapi harga logam naik sangat tinggi, ada tambang dari lokasi kami tidak masuk ke Timah," jelas Abdullah.

Emiten berkode saham TINS itu mencatat harga jual rata-rata logam timah sebesar 41.110 dolar AS per metrik ton atau naik signifikan 48 persen dibandingkan periode semester pertama tahun lalu sebesar 27.858 dolar AS per metrik ton.

Timah berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp7.479 miliar atau naik 27 persen jika dibandingkan periode paruh pertama tahun lalu Rp5.870 miliar, laba operasi naik 127 persen menjadi Rp1.427 miliar, dan laba bersih baik 301 persen menjadi Rp1.082 miliar.

Laba bersih yang meningkat itu didukung karena performa harga jual logam timah selama periode pertama tahun ini dengan rata-rata harga 41.110 dolar AS per ton.

Baca juga: PT Timah bukukan laba bersih Rp1.082 miliar
Baca juga: PT Timah raih predikat saham terbaik kategori 'big cap'
Baca juga: Pj Gubernur Babel hentikan tambang timah ilegal di Tahura Menumbing