PTBA Bakal Bangun PLTS di Bekas Tambang

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana segera mulai proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada 2021.

Namun, biaya pembangunan PLTS ini secara keseluruhan lebih mahal dibandingkan PLTU karena butuh lahan yang luas untuk operasionalnya.

"PLTS itu membutuhkan lahan. Biaya yang mahal itu ada di lahan. Untuk satu hektar lahan itu menghasilkan ekuivalen sekitar 1 megawatt," ujar Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Suryo Eko Hadianto, dalam diskusi virtual, Senin (7/6/2021).

Namun, dengan catatan jika PLTS itu bekerja selama 24 jam penuh. Sementara matahari hanya ada di siang hari. Suryo memperkirakan PLTS hanya bisa efektif 20-25 persen. Dengan presentasi itu, ekuivalen yang didapat berkisar seperempat megawatt tiap satu hektarnya.

Kabar baiknya, PTBA akan menggunakan lahan bekas tambang untuk merealisasikan proyek ini. Dengan demikian, PTBA sudah terbantu dari sisi permodalan dalam hal pengadaan lahan.

"Bagi PTBA, lahan sudah punya. Lahan tadinya dibebaskan untuk tambang. sekarang sudah ditambang, sudah selesai beberapa lahan. Itu kita jadikan modal gratisan untuk masuk PLTS. Sehingga PLTS hasilkan listrik yang beban biayanya relatif murah. Jadi kompetitif,” beber Suryo.

PTBA berencana membangun PLTS di beberapa area bekas tambang. Antara lain ada di Sawahlunto Sumatera Barat dengan luas hingga ribuan hektar. Kemudian juga di Tanjung Enim, Perseroan memiliki IUP dengan luas hingga 93 ribu hektar. Kemudian juga ada di Kalimantan Timur.

"Di Kalimantan Timur kita punya area bekas tambang yang cukup besar. Jadi kompetitifnya kita enggak perlu bebasin lahan. Kita sudah punya modal membuat PLTS murah," pungkas Suryo.

Cadangan Batu Bara PTBA

Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)
Aktivitas pekerja saat mengolah batu bara di Pelabuham KCN Marunda, Jakarta, Minggu (27/10/2019). Berdasarkan data ICE Newcastle, ekspor batu bara Indonesia menurun drastis 33,24 persen atau mencapai 5,33 juta ton dibandingkan pekan sebelumnya 7,989 ton. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Sebelumnya, emiten BUMN pertambangan batu bara, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) diproyeksikan masih bisa beroperasi hingga 100 tahun mendatang. Hal itu merujuk pada ketersediaan cadangan batu bara yang dimiliki Perseroan mencapai 8,3 miliar ton.

"PTBA menguasai cadangan sekitar 8,3 miliar ton resources. Cadangan mineable kita sekitar 3,1 miliar ton, sisanya hari ini,” kata Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Suryo Eko Hadianto dalam diskusi virtual, Senin (7/6/2021).

Eko menambahkan, dari angka tersebut, PTBA akan bisa beroperasi setidaknya hingga 100 tahun ke depan.

"Jadi kalau tahun ini produksi kita 30 juta bisa dibayangkan 3 miliar ton dibagi 30 juta ton, masih 100 tahun lah kita masih bisa beroperasi seperti saat ini,” kata dia.

Sepanjang 2020, PTBA memproduksi 24,8 juta ton batu bara. Atau 99 persen dari target yang telah disesuaikan menjadi 25,1 juta ton. Selain itu, kinerja angkutan batu bara juga menunjukkan performa yang terjaga. Kapasitas angkutan batu bara tercatat mencapai 23,8 juta ton naik 3 persen dari target 2021.

Dari sisi kinerja penjualan batubara yang terealisasi sebesar 26,1 juta ton atau naik 5 persen dari target 2020. Hal ini terjadi karena masih terjaganya kinerja operasional perusahaan sepanjang 2020.

Sementara itu, tahun 2021 PTBA menargetkan kenaikan volume produksi menjadi 29,5 juta ton. Kenaikan penjualan juga ditingkatkan dari 26,1 juta ton di 2020 menjadi 30,7 ton di 2021.

Tahun ini, Perseroan juga berencana untuk meningkatkan investasi dalam mengembangkan diversifikasi usaha dan hilirisasi batu bara. Total investasi yang direncanakan pada 2021 untuk sektor tersebut adalah sebesar Rp 3,8 triliun.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini