PTBA rehabilitasi mangrove bantu pulihkan 600.000 Ha

PT Bukit Asam (Persero) mendukung rehabilitasi mangrove yang diusung pemerintah dengan target memulihkan 600.000 Hektare hingga 2024.

Rilis pers diterima Antara, Kamis, PT Bukit Asam (PTBA) turut serta dalam penandatanganan Kesepahaman Bersama (NKB) Kegiatan Rehabilitasi Mangrove sebagai Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan di Bali, Kamis.

Kerja sama ini diinisiasi oleh sembilan pihak, yaitu Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), PT Pelabuhan Indonesia (Persero) dan PTBA.

Kemudian, PT Trimegah Bangun Persada (PT TBP), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), dan Asosiasi Produsen Biodiesel Indonesia (APROBI).

Baca juga: PTBA gandeng ITB dan Unpad kembangkan teknologi dekarbonisasi

Kesepahaman Bersama ditandatangani untuk meningkatkan sinergi dan koordinasi antar lembaga dalam upaya pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat dan pengembangan ekowisata.

Melalui sinergi berbagai pihak, diharapkan target nasional rehabilitasi mangrove 600.000 Hektare (Ha) hingga 2024 dapat tercapai.

Capaian rehabilitasi mangrove di 32 Provinsi pada 2021 sudah mencapai 34.912 Ha, sementara target luasan pada 2022 mencapai 181.500 Ha.

Kontribusi dari kelompok usaha BUMN dan swasta untuk rehabilitasi hutan dan mangrove sampai tahun 2024 diharapkan sedikitnya dapat mencapai 100.000 ha.

Turut hadir dalam kesempatan ini, di antaranya Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves Nani Hendiarti, Sekretaris Jenderal KLHK Bambang Hendroyono, Sekretaris Jenderal KKP Antam Novambar. Adapun PTBA diwakili oleh Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PTBA Suherman dan VP Sustainability PTBA Hartono.

Baca juga: Bukit Asam raup laba bersih Rp10 triliun kuartal III/2022

Dalam sambutannya, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves Nani Hendiarti mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar terkait carbon credit khususnya pada area pesisir.

Pemerintah memiliki program besar dalam rehabilitasi mangrove. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya peran TJSL dalam pengembangan komunitas, khususnya komunitas masyarakat pesisir sebagai bagian dari program pengembangan mangrove yang berkelanjutan.

"Indonesia memiliki hutan hujan tropis, lahan gambut, mangrove, rumput laut. Hutan mangrove Indonesia seluas 3,36 juta Ha atau sama dengan 20 persen mangrove dunia, di mana mangrove merupakan bagian dari ekosistem blue carbon," kata Nani.

Sementara itu Direktur SDM PTBA Suherman menjelaskan kerja sama ini bukan hanya menanam namun juga melakukan pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan pusat bibit (nursery), pemeliharaan, serta membantu sarana dan prasarana dalam rangka melakukan hilirisasi dari tanaman mangrove tersebut.

Sebagai perusahaan pertambangan yang memegang Izin Pinjam Pakai Kawasan Hutan (IPPKH), PTBA memiliki mandat untuk melakukan rehabilitasi daerah aliran sungai di mana implementasinya sesuai dengan SK Rehabilitasi DAS dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

"Terkait penanaman mangrove pada tahun 2022 ini, sekitar 300 ha di Taman Nasional Sembilang, Kabupaten Banyuasin, pesisirnya Sumatera Selatan, sudah selesai dilakukan penanaman," ujar dia.

Rehabilitasi Mangrove merupakan program nasional yang masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024.

Program ini menjadi salah satu pilar dalam upaya pelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan untuk mendukung pengembangan ekowisata di sekitar wilayah operasi perusahaan.

"PTBA berterima kasih telah diundang untuk terlibat dalam kerja sama rehabilitasi mangrove nasional sebagai bagian dari upaya pelestarian lingkungan, aksi iklim, pemberdayaan masyarakat, dan mendukung pengembangan ekowisata yang mana hal ini sesuai dengan noble purpose perusahaan," kata Suherman.