PTBA Siap Kembangkan PLTS demi Genjot Bisnis Energi Terbarukan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Melebarkan bisnis ke energi baru terbarukan (EBT), PT Bukit Asam Tbk (PTBA) siap mengembangkan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lahan bekas tambang miliknya.

Direktur Utama PTBA Suryo Eko Hadianto mengatakan, perseroan saat ini memiliki sekitar 93 hektar tanah yang bisa dimanfaatkan sebagai PLTS.

"Saat ini terdapat 3 PLTS yang sedang kami kembangkan, pertama di Ombilin, Sumatera Barat. Kapasitas kurang lebih 200 megawatt dan sudah ada banyak mitra yang menawarkan ke kami untuk kerja sama," ujar dia secara virtual, Rabu (14/7/2021).

Selanjutnya terdapat PLTS di Bantuas, Kalimantan Timur dengan kapasitas 30 megawatt dan Tanjung Enim. Untuk tahap pertama, PTBA akan membangun 200 megawatt dan masih bisa dikembangkan lagi.

"Lalu yang masuk dalam anggaran kami juga ada proyek PLTS terapung Dam Sigura-gura INALUM. Lalu ada juga pengembangan penjajakan PLTS di bandara," ujarnya.

Tak hanya itu, PTBA juga tengah menjajaki untuk PLTS di Jasa Marga Bali Mandara, sebagai alat penerangan. Lalu juga ada penjajakan pengembangan PLTS di pelindo II-IPC. Dalam pemaparannya, PTBA juga mengaku memiliki keinginan untuk mendukung Energy Mix Indonesia- EBT sebesar 23 persen pada 2025.

Bakal Bangun PLTS di Bekas Lahan Tambang

Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)
Teknisi melakukan perawatan panel pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di atap Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (6/8/2019). PLTS atap yang dibangun sejak 8 bulan lalu ini mampu menampung daya hingga 20.000 watt. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Sebelumnya, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) berencana segera mulai proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pada 2021.

Namun, biaya pembangunan PLTS ini secara keseluruhan lebih mahal dibandingkan PLTU karena butuh lahan yang luas untuk operasionalnya.

"PLTS itu membutuhkan lahan. Biaya yang mahal itu ada di lahan. Untuk satu hektar lahan itu menghasilkan ekuivalen sekitar 1 megawatt," ujar Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk, Suryo Eko Hadianto, dalam diskusi virtual, Senin, 7 Juni 2021.

Namun, dengan catatan jika PLTS itu bekerja selama 24 jam penuh. Sementara matahari hanya ada di siang hari. Suryo memperkirakan PLTS hanya bisa efektif 20-25 persen. Dengan presentasi itu, ekuivalen yang didapat berkisar seperempat megawatt tiap satu hektarnya.

Kabar baiknya, PTBA akan menggunakan lahan bekas tambang untuk merealisasikan proyek ini. Dengan demikian, PTBA sudah terbantu dari sisi permodalan dalam hal pengadaan lahan.

"Bagi PTBA, lahan sudah punya. Lahan tadinya dibebaskan untuk tambang. sekarang sudah ditambang, sudah selesai beberapa lahan. Itu kita jadikan modal gratisan untuk masuk PLTS. Sehingga PLTS hasilkan listrik yang beban biayanya relatif murah. Jadi kompetitif,” beber Suryo.

PTBA berencana membangun PLTS di beberapa area bekas tambang. Antara lain ada di Sawahlunto Sumatera Barat dengan luas hingga ribuan hektar. Kemudian juga di Tanjung Enim, Perseroan memiliki IUP dengan luas hingga 93 ribu hektar. Kemudian juga ada di Kalimantan Timur.

"Di Kalimantan Timur kita punya area bekas tambang yang cukup besar. Jadi kompetitifnya kita enggak perlu bebaskan lahan. Kita sudah punya modal membuat PLTS murah," pungkas Suryo.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel