PTPN XI ingin tumpang sari "Bule" wujudkan ketahanan pangan

Manajemen PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI berharap program Tumpangsari tebu dan kedelai (Bule) dapat mewujudkan ketahanan pangan di Indonesia.


Direktur PTPN XI R. Tulus Panduwidjaja bersama sejumlah jajaran direksi melakukan panen perdana kedelai di demplot program Tumpangsari Bule milik PTPN XI di HGU Djatiroto, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Jumat.


"Varietas kedelai yang diimplementasikan adakah Varietas Dena 1 yang ditanam pada Juli 2022, kini memasuki masa panen perdana," kata Tulus dalam siaran pers yang diterima di Kabupaten Lumajang.


Menurut dia, produktivitas kedelai yang akan dipanen antara 1,2 hingga 1,5 ton per hektare, namun jumlah itu tidak sesuai harapan dari taksasi awal yakni 2,0 ton per hektare.


"Hal itu disebabkan karena tingginya curah hujan yang menyebabkan polong kedelai sebagian busuk dan berjamur, bahkan berkecambah," tuturnya.


Ia mengatakan akan mengevaluasi waktu tanam, termasuk pola terbaik untuk kedelai di masa datang sehingga produktivitas akan optimal dan diharapkan program Bule itu dapat dikembangkan di lahan milik PTPN Group lainnya.

Baca juga: PTPN XI giling lebih dari 4 juta ton tebu pada pertengahan September

"Analisa yang telah kami lakukan bahwa bulan tanam optimal tumpangsari tebu kedelai antara bulan Mei hingga bulan Juli mengikuti pola ratoon larikan dengan catatan benih kedelai ditanam maksimal 30 hari setelah dilakukan kepras tebu," katanya.


Tumpangsari Bule merupakan pola tanam terintegrasi antara tebu dengan kedelai yang bertujuan untuk meningkatkan daya guna lahan di perkebunan tebu serta mempunyai beberapa keuntungan yakni mampu meningkatkan kesehatan lahan.


"Hal itu karena ada penambahan asupan biomasa kedelai ke dalam lahan pertanaman tebu dan kedelai sebagai salah satu leguminosa dapat meningkatkan ketersediaan Nitrogen (N) bagi tanaman tebu," ujarnya.


Komisaris Utama PTPN XI Osmar Tanjung mengatakan pihaknya mendukung program Bule karena merupakan langkah strategis yang membantu kelangkaan kedelai di masyarakat dan mendukung tercapainya ketahanan pangan.

Baca juga: PTPN XI siapkan lahan 10 hektar untuk produksi kedelai program Bule

"Selain itu, kedelai dapat memperbaiki struktur tanah menjadi lebih sehat. Kedelai juga memiliki kemampuan kemampuan fiksasi nitrogen secara biologis sehingga meningkatkan ketersediaan nitrogen (N) bagi tanaman tebu," katanya.


Menurut dia, adanya asupan nitrogen akan mengurangi pemakaian pupuk urea di masa datang, sehingga sistem tumpangsari Bule jika bisa dikembangkan di setiap lahan tebu, baik milik PTPN Gula, perusahaan swasta gula dan utamanya tebu rakyat.


"Harapan pemerintah yakni untuk pemenuhan kebutuhan kedelai di masyarakat akan tercapai, bahkan Indonesia 10-15 tahun mendatang bisa swasembada kedelai," ujarnya.


Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Aris Toharisman memberikan apresiasi atas program Bule yang dilaksanakan dan berharap pola tumpangsari tebu dan kedelai sebagai solusi mendukung pencapaian ketahanan pangan nasional.


"Ke depan kami berharap dapat ditingkatkan produktivitas nya baik tebu maupun kedelainya untuk memenuhi kebutuhan pabrik gula dan permintaan kedelai oleh masyarakat dalan mewujudkan ketahanan pangan nasional," katanya.