Puan: Krisis di Myanmar berpotensi ganggu stabilitas kawasan

Ketua DPR RI Puan Maharani menilai krisis yang terjadi di Myanmar berpotensi mengganggu stabilitas di tingkat kawasan sehingga semua negara harus membantu memulihkan kondisi demokrasi di Myanmar.

"Situasi di Myanmar mengkhawatirkan, sehingga kita harus bekerja sama membantu memulihkan demokrasi di Myanmar. Dalam kaitan ini, krisis di Myanmar juga berpotensi untuk mengganggu stabilitas kawasan," kata Puan dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Puan mengatakan hal itu saat melakukan kunjungan kehormatan (courtesy call) dengan Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Sen di Distrik Doun Penh, Phnom Penh, Kamboja, Kamis. Puan ke Kamboja untuk menghadiri Sidang Umum Forum Parlemen ASEAN (AIPA) ke-43.

Dalam pertemuan itu, PM Hun Sen sempat membahas isu konflik Laut China Selatan dan krisis di Myanmar. Puan lalu menyinggung soal implementasi Lima Poin Konsensus ASEAN terkait Myanmar yang tidak berjalan dengan lancar serta kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terus terjadi di negara tersebut.

"Kami tidak ingin stabilitas kawasan terganggu karena berlanjutnya krisis di Myanmar. Stabilitas kawasan merupakan prasyarat utama bagi pemulihan dan pembangunan ekonomi, sehingga dukungan parlemen dalam penyelesaian krisis di Myanmar sangat dibutuhkan," jelasnya.

Baca juga: Puan: keselamatan warga jadi prioritas untuk tangani gempa Cianjur

Dalam pertemuan tersebut, Puan menyatakan bahwa Kamboja merupakan salah satu negara yang cukup dekat dengan keluarganya. Dia mengaku Presiden pertama RI Soekarno dan Raja Norodom Sihanouk merupakan sahabat, bahkan seperti keluarga yang bertemu secara rutin.

"Kamboja seperti rumah kedua bagi Presiden Soekarno saat itu. Hubungan baik di masa lalu tersebut merupakan modal berharga bagi pengembangan kerja sama masa depan," katanya.

Hun Sen kemudian juga menceritakan kenangannya terhadap Soekarno. Hun Sen mengaku sempat menjadi penyambut saat Bung Karno datang ke Kamboja.

Dia mengungkapkan rasa bangga dan senangnya karena dapat bekerja sama dengan keturunan Soekarno saat Megawati Soekarnoputri menjadi presiden ke-5 Ri dan saat ini dengan Puan sebagai Ketua DPR RI.

"Dulu, waktu saya kecil berdiri, kibar-kibarkan bendera ketika Presiden Soekarno berkunjung. Kemudian saya bekerja sama dengan anak Presiden Soekarno, ketika Bu Mega menjabat presiden, dan sekarang bisa bertemu dan berbicara dengan cucu Presiden Soekarno," kata Hun Sen.

Baca juga: Puan: Tanggap darurat gempa Cianjur harus prioritaskan korban

Dia mengapresiasi hubungan baik Indonesia dan Kamboja yang sudah berlangsung sejak lama. Hun Sen juga menitipkan harapannya kepada Puan agar Indonesia melakukan investasi pada sektor beras karena padi merupakan hasil pertanian utama di Kamboja.

"Kami ingin Indonesia investasi di rantai produksi beras, dari pengolahan padi sampai menjadi beras," ujar Hun Sen.

Puan memastikan akan menyampaikan harapan Hun Sen tersebut kepada Pemerintah dan para investor Indonesia.

Dalam pertemuan dengan Hun Sen, Puan didampingi Ketua BKSAP DPR RI Fadli Zon, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Charles Honoris, Wakil Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI Gilang Dhielafararez, dan Anggota BKSAP Irene Yusiana Roba Putri.

Baca juga: Puan: Kerja sama parlemen RI dan Kamboja perlu terus ditingkatkan