Puasa di Tengah Rimba Gelap, Jenderal Kopassus Temukan Surat Rahasia

Bayu Adi Wicaksono
·Bacaan 3 menit

VIVA – Dunia militer Indonesia berduka, Jenderal TNI (Purnawirawan) Wismoyo Arismunandar telah berpulang untuk selamanya pada Kamis 28 Januari 2021.

Almarhum menutup mata di usia ke-80 di kediamannya di Jakarta. Jenazah Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) ke-17 itu dikebumikan di pemakaman Astana Giribangun, Karanganyar, Jawa Tengah.

Kepergian Komandan Jenderal Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassus) ke-9 menyisakan banyak kisah tentang perjalanan hidup sang jenderal TNI lulusan Akademi Militer (Akmil) 1963 itu.

Salah satu kisah hidup Jenderal TNI Wismoyo yang sangat menarik ialah, cerita saat beliau memimpin pasukan tempur TNI untuk menumpas gerilyawan dari Pasukan Gerilya Rakyat Serawak (PGRS)/Paraku.

Kisah Jenderal TNI Wismoyo ini diungkapkan Jenderal TNI (Purnawirawan) AM Hendropriyono melalui tulisan singkat di akun media sosialnya.

Dilansir VIVA Militer, Jumat 29 Januari 2021, dalam tulisanya Jenderal TNI Hendro mengawali cerita dengan kesan-kesannya bersama Jenderal TNI Wismoyo ketika masih aktif dinas TNI dan menukangi Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI)

'Kesan saya tentang almarhun Jenderal TNI Wismoyo Arismunandar demikian dalam. Saya tahu sejak saya kenal dari awalnya dulu waktu masih muda, beliau adalah seorang atlit judo nasional sampai mencapai Dan 3 Sabuk Hitam dari Kodokhan Jepang. Selain karier perjalanan hidupnya di militer yang cemerlang, beliau juga menjadi Ketua Umum Persatuan Judo Seluruh Indonesia (PJSI) dimana saya menjadi wakilnya. Saya merasa beliau itu seorang yang mumpuni sebagai seorang pemimpin di mana saja, di militer, kemudian di bidang olahraga. Pak Wismoyo yang saya tahu dan ingat adalah seorang yang pintar, inovatif, banyak sekali penemuan dan pemikiran yang out of the box' tulis Jenderal TNI berdarah baret merah itu.

Lalu, Jenderal TNI Hendropriyono menuliskan kisah nyata tentang apa yang telah dialami Jenderal TNI Wismoyo ketika ditugas dalam Operasi Militer Anti Gerilya untuk menumpas PGRS/Paraku di Kalimantan.

Dikisahkan Jenderal TNI Wismoyo ditugaskan dalam operasi itu ke Kalbar pada tahun 1969 hingga 1970. Operasi militer ini tak mudah, karena pasukan gerilya yang dilawan merupakan pasukan yang awalnya memang mendapatkan pelatihan militer dari Kopassus, saat terjadi konfrontasi RI dengan Malaysia.

Nah pada saat operasi berjalan, seperti dituliskan Jenderal TNI Hendro bawah Jenderal TNI Wismoyo menjadi satu-satunya prajurit TNI yang berhasil menemukan dan membongkar sistem komunikasi pasukan gerilya tersebut.

'Pak Wismoyo adalah satu-satunya tentara yang menemukan apa yang disebut Death Letter Box, ketika kita sedang melakukan operasi militer anti gerilya dari Pasukan Gerilya Rakyat Serawak / Paraku di Malaysia. Sistem komunikasi dari Pasukan Gerilya itu menggunakan Death Letter Box, yaitu kurir membawa pesan dari satuan induknya untuk satuan induk yang lainnya, kurir itu meletakkan suratnya di dalam tanah, diambil oleh kurir yang lainnya nanti di tempat yang sudah disepakati sebelumnya'

Untuk menemukan kotak surat kematian alias Death Letter Box itu bukan sebuah perkara mudah lho. Menurut Jenderal TNI Hendro, untuk menemukannya Jenderal TNI Wismoyo berjuang melawan ganasnya medan hutan rimba Kalimantan.

'Pak Wismoyo dengan pasukannya bergerak ratusan kilometer jalan kaki di tengah hutan rimba, yang pada waktu itu bahkan ketika siang hari kita tidak bisa melihat matahari karena tertutup oleh pohon yang besar'

Hebatnya, dalam kondisi sesulit itu Jenderal TNI Wismoyo tetap mendekatkan diri pada Allah SWT, selama operasi itu beliau terus rutin berpuasa. Dan siapa sangka, beliau menemukan surat itu.

'Pak Wismoyo jalan kaki dalam keadaan puasa, karena itu aneh dia bisa menemukan satu tempat yang digali kemudian ditemukan surat. Karena itu bisa terbongkar komunikasi antar satuan PGRS/Paraku.

Itu komunikasi pasukan klandestin, awalnya dari penemuan Kapten Wismoyo Arismunandar. Untuk selanjutnya ketika Pak Wismoyo sudah kembali ke Jakarta, kemudian saya berangkat ikut pasukan Pak Sintong Panjaitan teman Pak Wismoyo satu angkatan di Akmil 1963, saya menjadi Kepala Seksi Intelijen, saya tinggal melanjutkan membuka Death Letter Box yang lain, tapi awal dari pembongkaran adalah penemuan Pak Wismoyo'.

Baca: Preman Penginjak Prajurit TNI Saat Sekarat Ternyata Pembunuh Sadis