Puing Roket China Jatuh ke Perairan Dekat Maladewa

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Beijing - Badan Antariksa China menyebut puing roket Long March-5b yang membawa modul utama telah jatuh ke Samudra Hindia.

Sebagian besar roket itu hancur saat masuk kembali ke atmosfer, tetapi media pemerintah melaporkan bahwa puing-puing itu mendarat tepat di sebelah barat Maladewa pada Minggu, 9 Mei 2021.

Dikutip dari laman BBC, Senin (10/5/2021), sebelumnya muncul sejumlah spekulasi berhari-hari mengenai di mana roket itu mendarat.

Para pejabat Amerika Serikat serta pakar lainnya memperingatkan kembalinya roket itu berisiko menimbulkan korban.

Tetapi China bersikeras bahwa risikonya rendah.

Long March-5b kembali memasuki atmosfer pada pukul 10:24 waktu Beijing (02:24 GMT) pada Minggu, 9 Mei 2021, lapor media pemerintah melaporkan.

Dikatakan puing-puing dari roket seberat 18 ton itu, salah satu barang terbesar dalam beberapa dekade yang jatuh tanpa arah ke atmosfer, mendarat di Samudra Hindia pada titik 72,47 ° BT dan 2,65 ° Utara.

Komando Ruang Angkasa AS sempat mengatakan bahwa roket itu "masuk kembali ke Semenanjung Arab".

Layanan pemantauan Space-Track, yang menggunakan data militer AS, mengatakan roket itu tercatat di atas Arab Saudi sebelum jatuh ke Samudra Hindia dekat Maladewa.

Jatuhnya puing roket yang tidak terkendali menyebabkan kecaman tajam dari AS di tengah kekhawatiran bahwa roket itu bisa mendarat di daerah berpenghuni.

Situs web AS dan Eropa melacak ada banyak spekulasi di media sosial tentang di mana puing-puing itu mungkin mendarat.

"Negara antariksa harus meminimalkan risiko terhadap manusia dan properti di Bumi," kata Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin dalam sebuah pernyataan.

"Jelas bahwa China gagal memenuhi standar yang bertanggung jawab terkait puing-puing ruang angkasa mereka."

Prediksi Hancur di Atmosfer

Roket Long March 5B membawa modul inti Stasiun Luar Angkasa Tianhe lepas landas dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di Provinsi Hainan, China, Rabu (29/4/2021). Saat ini, satu-satunya stasiun ruang angkasa di orbit adalah Stasiun Ruang Angkasa Internasional, tidak termasuk China. (STR/AFP)
Roket Long March 5B membawa modul inti Stasiun Luar Angkasa Tianhe lepas landas dari Pusat Peluncuran Luar Angkasa Wenchang di Provinsi Hainan, China, Rabu (29/4/2021). Saat ini, satu-satunya stasiun ruang angkasa di orbit adalah Stasiun Ruang Angkasa Internasional, tidak termasuk China. (STR/AFP)

Sebelumnya, harian Global Times, yang diterbitkan oleh Partai Komunis China mengatakan, tubuh roket yang terbuat dari aluminium tipis ini akan secara mudah terbakar ketika masuk ke atmosfer, sehingga tidak membahayakan untuk orang di Bumi.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) menduga tubuh roket ini akan jatuh ke Bumi pada Sabtu 8 Mei.

"Di mana jatuhnya tidak bisa dipastikan sampai beberapa jam sebelum re-entry atau sebelum masuk ke atmosfer Bumi," kata Pentagon pada Selasa 4 Mei.

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Lloyd Austin, Kamis 6 Mei mengatakan, pihak militer Amerika tidak punya rencana untuk menembak jatuh tubuh roket itu.

Juru bicara Gedung Putih Jen Psaki pada jumpa pers pada Rabu (5/5) mengatakan, Komando Antariksa Amerika tahu dan melacak lokasi roket China ini.

Organisasi nirlaba, Aerospace Corporation, mengantisipasi kepingan tubuh roket ini akan jatuh di Pasifik dekat khatulistiwa setelah melewati kota-kota di pesisir timur Amerika. Orbitnya melintasi sebuah jalur dari planet bumi mulai dari Selandia Baru sampai ke Newfoundland.

Saksikan Video Berikut Ini: