Pulau Panjang Jepara Jadi Kawasan Konservasi

TEMPO.CO , Jepara--Pulau Panjang, yang terletak satu mil dari Pantai Kartini, Kabupaten Jepara, diusulkan sebagai kawasan konservasi daerah. "Pulau ini memiliki banyak fungsi, selain untuk wisata, yaitu ekologis dan tempat penelitian mahasiswa,"kata Zainul Arifin, Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Jepara, Senin 24 Desember 2012.

Berdasarkan diskusi yang melibatkan banyak pihak dan beberapa kali digelar, kata Zainul, Pulau Panjang layak diusulkan ke pusat dan mendorong pemerintah Jepara untuk mendalami usulan itu.

Hasil kajian dari tahun ke tahun, menurut Suyono Ketua II DRD Jepara, menunjukkan potensi biofisik dan bioekogi, Pulau Panjang mengalami penurunan kualitas. Padahal pulau itu tidak hanya aset Pemerintah Jepara, tapi juga aset Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Pemerintah Pusat. "Karena memiliki potensi khas pulau kecil di pantura," kata Suyono.

Pulau itu memiliki potensi keaneragaman hayati, ekosistem terumbu karang, lamun, hewan yang berasosiasi dengan karang. "Kondisi ikan karang masih dalam kondisi paling baik di kawasan pantura Jawa Tengah," ujar Suyono.

Selama ini, terumbu karang di P. Panjang masih dalam kondisi baik hanya tinggal tujuh persen. Sisanya, 57 persen kondisinya sedang dan 29 persen kondisinya buruk dan 5 persen buruk sekali. Hasil survei lainnya, kata Suyono, terjadi penurunan pada keanekaragaman dan kelimpahan ikan karang. Pada tahun 2001 ditempat itu ditemukan 360 ekor per transek, sedangkan hasil sensus tahun ini hanya tinggal 61 ekor per transek.

Namun kondisdi lamun di Pulau Panjang terbilang masih cukup baik di banding di tempat lain di pantura. Ini dibuktikan dengan kerapatan total lamun masih 388 individu per meter persegi dengan prosentasi penutupan total 85 persen. Faktor penurunan akibatgangguan alam dan gangguan dari aktivitas kegiatan manusia. Penyelamatan P. Panjang sangat diperlukan karena sebagai penghasil plasma nuftah kelautan bagi perairan Jawa Tengah. Karena itu, P. Panjang dapat dikelola dengan model ekowisata bahari berbasis masyarakat.

Pulau ini merupakan tempat wisata laut yang kini digemari masyarakat. Terutama saat upacara tradisional Pesta Lomban, yakni satu pekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Puluhan kapal pesiar disiapkan untuk melayani para wisatawan untuk berkunjung ke Pulau Panjang. Lokasi Pulau Panjang, tampak mengalami kerusakan yang sangat serius. Menurut peta tahun 1858, Pulau Panjang pernah memiliki luas sekitar 70 hektare. Kerusakan pulau ini, akibat maraknya pencurian trumbu karang, penebangan hutan mangrove dan sedimentasi dari gelontoran lumpur dari hulu melalui muara sungai. Akibatnya, pulau ini sekarang tinggal sekitar 30 hektare. Di sekitar pulau itu, larva terumbu karang tidak dapat berkembang.

Karena itu, tahun lalu, Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara menghijaukan Pulau Panjang dengan lima ribu batang tanaman mangrove jenis api- api. Kemudian tahun ini (2012), kembali dihijaukan dengan empat ribu pohon mangrove. "Ini untuk mengurangi abrasi ," kata Ahmad Junaedi, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara.

Namun, adanya tekstur tanah di perairan itu yang lunak, kata Junaedi, maka mangrove yang ditanam sering mati. Selain menanam mangrove, Badan Lingkungan Hidup juga menanam 270 batang berbagai tanaman buah, seperti pohon kresen, ketapang dan waru, karena di pulau itu sebelumnya dilepas ratusan burung berbagai jenis.

Tahun lalu, Pemerintah Jepara membangun pemecah gelombang sepanjang 670 meter dari beton, dengan anggaran APBN sebesar Rp 900 juta. Pulau ini sudah lama mengalami abrasi. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara, Achid Setiawan, pemecah gelombang ini untuk mengurangi abrasi. Jarak terdekat beton pemecah gelombang dibangun dari bibir pantai sekitar 10 meter dan terjauh 50 meter.

Pembangunannya dimulai dari barat daya pulau, dekat menara mercu suar. Hasil dari bangunan pemecah gelombang sudah tampak nyata. "Sudah terjadi sedimen pasir putih di bangunan pemecah gelombang sepanjang 539 meter," kata Dian Satriadi, Kepala Seksi Pengelolaan Pulau- pulai kecil Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara.

Sedimen ini berhasil mewmbentuk daratan baru dan mulai mengembalikan beberapa daratan yang hilang, di antaranya jalan di depan makam Syeh Abu Bakar yang hampir terputus, sekarang tersambung lagi. Bangunan pemecah gelombang itu memang belum ideal. Idealnya pemecah gelombang itu mengelilingi P. Panjang.

Selama ini Pulau Panjang dijadikan sebagai tempat wisata karena lokasinya sangat strategis dan dekat dengan Pantai Kartini. Apalagi, setelah Pantai Kartini dilengkapi museum kura- kuranya, sebuah pesawat terbang, kolam kecek,dan taman bermain anak serta gazebo. Sejak 10 tahun terakhir ini, Jepara kehilangan pantai seluas 61 hektare, akibat abrasi. Daerahnya tersebar di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Kedung terkena abrasi 9,7 hektare, Kecamatan Jepara 7,3 hektare, Kecamatan Mlonggo 5,5 hektare, Kecamatan Keling 37,8 hektare dan Kembang 0,5 hektare.

BANDELAN AMARUDIN

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.