Puluhan balita "stunting" di Kelurahan Kartini karena faktor ekonomi

Kelurahan Kartini Sawah Besar Jakarta Pusat, mencatat setidaknya ada 26 balita di enam lingkungan Rukun Warga (RW) mengalami "stunting" atau kekerdilan karena kekurangan asupan gizi dalam jangka waktu lama.

Lurah Kartini, Ati Mediana, menjelaskan salah satu penyebab penderita stunting di wilayahnya karena keterbatasan ekonomi orangtua akibat pandemi COVID-19.

Baca juga: Atasi gizi buruk, Pemkot Jaktim bagikan bantuan bagi balita di Cakung

"Awalnya ada 36 balita, saat ini sudah menjadi 26 balita," kata Ati saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.

Menurut Ati, saat ini kondisi balita yang mengalami stunting sudah membaik melalui layanan Posyandu dan Puskesmas.

Posyandu dan Puskesmas Kelurahan Kartini memberikan jadwal pemeriksaan rutin dan makanan yang sehat, seperti biskuit, vitamin dan sayuran.

Baca juga: Anies: "Stunting" dan "obesitas" sama-sama ekstrem

Selain karena faktor ekonomi, ada juga balita yang stunting karena faktor genetik dan pola makan yang buruk.

"Kemungkinan karena pandemi karena ekonomi, tetapi ada yang bawaan dari badannya sudah kurus bisa jadi dari gen. Ada yang stunting karena orang tuanya malas masak, sering makanan instan," ujar Ati.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau agar orang tua balita dapat memerhatikan kondisi gizi anaknya. Jika mendapat gizi buruk, mereka dapat meminta bantuan Puskesmas untuk asupan makanan.

Baca juga: Anies luncurkan beras fortifikasi untuk turunkan angka "stunting"

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel