Puluhan Jemaah Salat Tarawih di Banyumas Terjangkit COVID-19

Mohammad Arief Hidayat
·Bacaan 2 menit

VIVA – Puluhan jemaah salat tarawih di Desa Pekaja, Kecamatan Kalibagor, dan Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, dilaporkan terkonfirmasi positif COVID-19, kata Bupati Banyumas Achmad Husein.

"Untuk klaster tarawih di Desa Pekaja, siang ini keluar hasil tambahan 22 orang positif dari 54 kontak erat, sehingga total ada 44 kasus positif," kata Acmad Husein di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis, 29 April 2021.

Ia mengatakan awalnya, Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas menemukan dua kasus positif dari jemaah salat tarawih di Desa Pekaja, sehingga dilakukan tracing dan testing terhadap kontak erat dan akhirnya mendapatkan 45 orang yang terkonfirmasi positif.

"Hari ini (29/4), dari 44 orang yang terkonfirmasi positif, salah seorang di antaranya dirawat di RSUD Banyumas, sedangkan 43 orang lainnya menjalani isolasi mandiri," katanya.

Bupati mengatakan, untuk klaster tarawih di Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede, berawal dari seorang warga yang sedang sakit tetap berangkat ke musala untuk melaksanakan salat tarawih pada awal Ramadhan 1442 H.

Berdasarkan hasil tes usap yang dilaksanakan pada 22 April 2021, kata dia, diketahui sebanyak tujuh warga yang merupakan jemaah salat tarawih terkonfirmasi positif COVID-19.

"Sekarang sedang menjalani karantina di RK (Rumah Karantina) Diklat mulai 26 April 2021, satu orang dengan kondisi gejala ringan berupa pilek dan batuk, sedangkan enam orang lainnya tanpa gejala," katanya.

Mengenai munculnya klaster tarawih dalam penularan COVID-19, Bupati mengatakan dalam dua hari ke depan, pihaknya akan mengadakan pertemuan yang melibatkan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompimda) Banyumas dan tokoh agama guna membahas permasalahan itu.

Kepala Dinkes Kabupaten Banyumas Sadiyanto mengatakan, setelah diketahui adanya kasus positif, puskesmas setempat langsung berkoordinasi dengan satuan tugas di tingkat desa. Aparat desa telah melakukan disinfeksi serta penutupan dua masjid dan dua musala di wilayah itu.

"Warga desa sekitar sudah diberikan edukasi untuk tarawih di rumah. Permasalahan di lapangan, ada kelompok jemaah tertentu yang berpindah masjid ke wilayah lain, sehingga tracking berkembang ke masjid wilayah lain," katanya dalam pesan WhatsApp yang disampaikan Bupati kepada wartawan. (ant)