Puluhan korban tewas akibat terjangan Badai Eta di Amerika Tengah

·Bacaan 3 menit

Guatemala City (AFP) - Puluhan orang, termasuk 50 orang di Guatemala, tewas ketika sisa-sisa Badai Eta pada Kamis menyebabkan banjir dan memicu tanah longsor setelah menerjang kawasan Amerika Tengah.

Eta melanda pantai Karibia di utara Nikaragua sebagai badai Kategori 4 pada Selasa, menerjang daerah pesisir yang miskin dan menyapu seluruh desa.

Dua hari kemudian, badai itu keluar dari Honduras sebagai depresi tropis, meskipun prakiraan cuaca memperingatkan badai itu bisa kembali menguat menjadi badai tropis saat menuju ke Kuba.

Badai tersebut membawa hujan lebat yang menyebabkan banjir mematikan di Nikaragua, Honduras, Guatemala, Kosta Rika, El Salvador dan Panama.

Lebih dari 50 orang di Guatemala tewas dalam tanah longsor yang disebabkan oleh Eta, kata Presiden Alejandro Giammattei Kamis.

"Pada pagi hari kami mengalami empat orang tewas, sekarang jumlahnya lebih dari 50 orang tewas," kata Giammattei kepada wartawan Kamis malam ketika ia mengunjungi daerah yang dilanda banjir di pantai Karibia yang porak poranda di negara itu.

Giammattei mengatakan bahwa tanah longsor mengubur 25 rumah di komunitas adat di bagian utara negara itu.

Presiden mengatakan, tidak mungkin mencapai daerah itu karena jalan ambruk akibat hujan deras.

Sekitar 10 orang tewas di Huehuetenango di Guatemala barat laut, dalam tanah longsor lainnya.

Badan perlindungan sipil sebelumnya melaporkan bahwa lima orang tewas dalam tanah longsor terpisah, termasuk dua anak berusia 11 dan dua tahun, ketika tempat tinggal keluarga mereka hanyut.

Kematian Guatemala membuat jumlah keseluruhan dari Eta menjadi lebih dari 60 orang, karena pejabat sebelumnya mengatakan 18 orang telah meninggal di seluruh wilayah.

Panama juga merasakan kekuatan kemarahan Badai Eta, ketika tanah longsor mengubur dua rumah di provinsi Chiriqui di perbatasan Kosta Rika, menewaskan lima orang, kata Sistem Perlindungan Nasional. Di antara korban adalah tiga orang anak.

Tanah longsor juga merenggut nyawa dua anak di Honduras, layanan darurat melaporkan.

Di Kosta Rika, seorang warga AS berusia 71 tahun dan istrinya warga Kosta Rika meninggal ketika tanah longsor mengubur rumah mereka di kanton selatan Coto Brus, di perbatasan dengan Panama. Pekerja darurat berhasil menemukan jenasah mereka.

Di Honduras, Presiden Juan Orlando Hernandez memerintahkan tentara untuk memobilisasi helikopter dan perahu untuk mengevakuasi daerah banjir di tengah laporan hujan "hebat dan dahsyat" yang melanda ibu kota Tegucigalpa dengan populasi satu juta orang.

Tanah longsor juga menyapu jalan dan jembatan di seluruh negeri.

San Pedro Sula, kota terbesar kedua di negara itu, serta lembah industri di kota itu, dilanda banjir parah setelah sungai Ulua dan Chamelecon meluap.

Di seluruh Honduras utara sejumlah orang terpaksa mengungsi ke atap rumah mereka saat air banjir naik, kata badan-badan bantuan.

Secara keseluruhan lebih dari 330.000 orang telah terkena dampak banjir di Honduras, badan bencana COPECO mengatakan, dengan 3.000 orang telah dievakuasi dari jalur badai pada Rabu.

Dua anak, berusia delapan tahun dan balita 11 bulan, meninggal ketika tanah longsor menyapu rumah mereka di bagian barat laut Santa Barbara, kata polisi.

Dua anak lainnya tewas dalam keadaan serupa di selatan negara itu, pihak berwenang melaporkan Rabu.

Di Morales, Guatemala timur laut, korban bencana banjir ditampung di sebuah stadion olahraga.

"Seluruh rumah saya penuh air. Saya kehilangan segalanya. Ayam dan anak babi saya tersapu sungai," kata Eliseo Gonzales, pensiunan sopir yang mengungsi di sana.

Di El Salvador, para pejabat melaporkan 26 tanah longsor yang memblokir jalan, dan mengatakan hampir 2.000 orang telah dievakuasi di tengah hujan lebat dan banjir.

Bahkan saat Eta mereda, Pusat Badai Nasional AS terus memperingatkan tentang "banjir bandang yang mengancam jiwa" di sebagian Amerika Tengah.

Eta menghantam pantai di kota Bilwi, utara Nikaragua - juga dikenal sebagai Puerto Cabezas - pada hari Selasa membawa angin berkecepatan 130 mil (210 kilometer) per jam yang merobohkan tembok, menumbangkan pohon, kabel listrik dan merobek atap rumah.

Saat lapisan permukaan lautan menghangat karena perubahan iklim, badai menjadi lebih kuat dan membawa lebih banyak air, meningkatkan ancaman bagi komunitas pesisir dunia, kata para ilmuwan.