Puluhan Pekerja Migran Indonesia Dipulangkan dari Suriah dengan Cerita Menyedihkan

·Bacaan 2 menit
Puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Suriah, tiba di Tanah Air melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jumat (28/5/2021). (Liputan6.com/Pramita Tristiawati)

Liputan6.com, Jakarta Puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja di Suriah, tiba di Tanah Air melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta, Jumat (28/5/2021).

Tepatnya ada sebanyak 22 PMI yang berhasil kembali pulang, setelah tiga tahun mereka mengadu nasib di negeri yang sering bergejolak tersebut. Makanya, meski lelah dan harus kembali menjalani karantina sesuai Protokol Kesehatan Covid-19, raut wajah bahagia tampak jelas dari puluhan PMI yang didominasi perempuan itu.

Mereka tiba di Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), dengan menumpang pesawat Qatar Airways QR-954. Kepulangan mereka yang direpatriasi dari negara konflik itu diterima langsung oleh Kepala Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) Benny Rhamdani di Terminal 3 Bandara Soetta.

"Kita menerima kepulangan 22 PMI dari Suriah. Suriah adalah negara konflik. Mereka ini jelas adalah korban tindak pidana perdagangan orang," kata Benny.

Benny mengatakan, para PMI tersebut mendapat perlakuan kurang baik selama bekerja di Suriah. Mulai dari gaji yang tidak sesuai, mereka juga mendapat kekerasan fisik bahkan tidak sedikit yang menjadi korban pelecehan seksual.

"Tadi kita tanya, berapa gaji mereka, tidak lebih dari Rp 2 juta. Apa yang mereka alami selama bekerja, kekerasan fisik dari majikan, pemberlakuan jam kerja, mereka menyebut tadi bagaimana mereka dieksploitasi yang tidak diberikan waktu istirahat," ungkap Benny.

Dari 22 PMI tersebut satu di antaranya terpaksa menggunakan kursi roda akibat menderita rapuh tulang belakang dan 2 lainnya harus mendapatkan perawatan khusus akibat penyakit yang dideritanya.

"Ada tiga orang ya, kita akan rawat khusus mereka setelah mendapatkan rujukan dari Gugus Tugas di Wisma Atlet," ujar Benny.

Sebelum dipulangkan ke daerah asalnya masing-masing, mereka akan menjalani karantina selama 5 hari di Wisma Atlet, Pademangan, Jakarta Utara.

Tidak Tahu Negara Tujuan

Sementara, salah satu PMI asal Jawa Timur, Rahmayati mengaku tidak mengetahui akan ditempatkan di negara konflik saat diberangkatkan dari Indonesia. Dirinya diberangkatkan ke Suriah pada tahun 2018 silam.

"Alhamdulillah, saya digaji. Tapi banyak juga yang bermasalah. Suriah negara konflik kan, tapi Alhamdulillah saya pulang," tuturnya.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel