Puluhan Siswa Miskin Mukomuko Belum Ambil Beasiswa

REPUBLIKA.CO.ID, MUKOMUKO - Pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu, menyebutkan masih banyak siswa miskin yang belum mengambil beasiswa, terutama mereka yang tinggal di wilayah terpencil.

"Keterangan dari pihak kantor Pos masih sekitar Rp54 juta dana subsidi siswa miskin (SSM) yang belum diambil oleh siswa yang bersangkutan sampai sekarang," kata Kepala Seksi SD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mukomuko, Widodo, Selasa (28/8).

Padahal, kata dia, sudah ada pemberitahuan dari dinas kepada setiap kepala sekolah SD, agar disampaikan kepada siswa miskin yang menerima bantuan SSM yang bersumber dari APBN itu.

Permasalahan siswa belum dan terlambat mengambil beasiswa di kantor pos, menurut Kepala Seksi SMP Suryono, baru tahun ini terjadi di daerah itu setelah terjadi perubahan sistem penyaluran beasiswa.

Sebelumnya, lanjutnya dia, penyaluran beasiswa untuk siswa miskin dari APBN melalui dan sepengetahun dari dinas pendidikan terlebih dahulu setelah itu disampaikan kepada kepala sekolah selanjutnya dibagikan kepada siswa.

Kalau sistem sekarang itu, kata dia, penyaluran beasiswa tidak boleh diwakili termasuk oleh kepala sekolah melainkan siswa bersangkutan yang datang ke kantor pos untuk mengambil beasiswanya.

Degan perubahan sistem tersebut justru kurang menguntungkan bagi siswa yang berada di wilayah terisolir di daerah itu karena kendala akses jalan menuju kantor pos sangat buruk justru mengambat mereka untuk mengangkaunya.

"Kalau sebelumnya kepala sekolah sendiri yang datang ke kantor pos yang kemugkinan ada kegiatan di luar atau kebetulan lewat bisa sekalian mengambil beasiswa siswanya secara kolektif," ujarnya.

Namun dengan nominal beasiswa untuk satu tahun yang diterima oleh siswa SD sebesar Rp 360.000 per orang justru tidak sesuai dengan biaya yang harus mereka keluarkan untuk mengambil uang tersebut.

"Kita bisa saja hitung dengan dana sebesar itu sudah berapa banyak ongkos dan biaya yang harus dikeluarkan belum lagi saat datang ke kantor pos uangg belum masuk atau petugasnya sedang keluar jadi urusan tidak bisa selesai hanya dalam satu hari saja," ujarnya.

Kecuali susbsidi beasiswa miskin untuk siswa SMP, kemungkinan tidak ada kendala dan mereka masih masih bisa mengambil sendiri beasiswanya ke kantor pos karena sebagian ada yang bisa pakai motor.

Selain kesulitan siswa miskin tingkat SD mengambil beasiswa di kantor pos, ia menjelaskan, pihak dinas pendidikan juga hingga sekarang tidak mengetahui berapa banyak kuota siswa yang mendapatkan beasiswa yang bersumber dari APBN.

"Kalau dulu ada laporan dan kuota siswa termasuk nama penerimanya, kini kami tidak tahu apakah kuota yang dapat dengan yang diusulkan sama atau tidak karena informasi yang kami terima justru berbeda dan ada penambahan," ujarnya lagi.

Dalam rapat kordinasi di tingkat provinsi dan pusat, ia mengatakan, pihaknya mengusulkan agar sistem penyaluran dikembalikan seperti semula dari dinas pendidikan dan kepala sekolah.

Sementara itu ia menyebutkan, tahun ini siswa SD yang menerima subsidi siswa miskin pada tahap pertama 1.450 orang, tahap kedua 1.548 orang, dan terakhir diusulkan dalam APBNP sebanyak 4.547 orang, dan nilai yang diterima setiap tahun sebesar Rp 360.000 per siswa.

Sedangkan siswa SMP di daerah itu yang menerima subsidi siswa miskin sebanyak 1.292 orang denga nilai berasiswa yang diterima setiap tahun sebesar Rp 550.000 per siswa.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.