Puluhan Warga Kota Serang Terjangkit HIV, Kaum Gay Mendominasi

Merdeka.com - Merdeka.com - Puluhan warga Kota Serang dilaporkan mengidap HIV ((human immunodeficiency virus). Pengidap didominasi orang-orang yang memiliki seks menyimpang, seperti kaum gay.

Data ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Serang Ahmad Hasanuddin. Dia mengajak semua pihak untuk berpartisipasi menanggulanginya.

"Memang paling banyak (pelaku seks menyimpang). Tapi seharusnya bukan hanya Dinkes saja, tapi dari berbagai sektor juga ikut berpartisipasi melakukan penanggulangan," ujarnya, Jumat (28/10).

Hasanudin mengungkapkan, kasus Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) dan wanita penjaja seks komersial (WPSK) di Kota Serang lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. "Tahun ini menjadi yang paling banyak,"katanya.

Terbanyak di Kecamatan Serang

Berdasakan data Dinas Kesehatan Kota Serang, pada tiga puskesmas di Kecamatan Kasemen tercatat 207 warga terindikasi LSL. Tidak ditemukan wanita penjaja seks komersial (WPSK), namun ada 12 wanita pria atau waria.

Selamjutnya, di Kecamatan Walantaka terdapat 75 orang LSL , 55 WPSK, serta 30 waria. Di Kecamatan Curug, terdapat 28 LSL dan 28 WPSK.

Lalu, di Kecamatan Taktakan, 23 orang terindikasi LSL dan 18 WPSK. Kecamatan Cipocok Jaya 148 orang terindikasi LSL dan 74 WPS.

Jumlah tertinggi ada di Kecamatan Serang. Berdasarkan data dari lima puskesmas terdapat 486 LSL, 281 WPSK, dan 20 waria yang mengidap HIV.

Didominasi Laki-Laki

Berdasarkan data Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Serang, sejak Januari hingga Oktober 2022, terdapat 58 warga Kota Serang terjangkit HIV/AIDS.

Penyebab penularan HIV didominasi perilaku seks menyimpang seperti LSL. Warga yang terjangkit didominasi lelaki dengan usia 15-25 tahun.

"Paling banyak yang terkena itu lelaki, usianya fluktuatif bahkan ada kasus yang 15 tahun," ujarnya Koordinator Program KPA Kota Serang Ahmad Budiman.

Dia menjelaskan, peningkatan tren kasus HIV positif diduga dipicu gaya hidup. "Mungkin tren kasus ini meningkat karena gaya hidup. Kalau tahun 1998 sampai 2.000 kebanyakan ditemukan akibat penggunaan narkoba dan jarum suntik. Kemudian 2005 kasus pada ibu-ibu, makin ke sini banyak ditemukan pada komunitas gay," pungkasnya. [yan]