Puncak Musim Pertarungan Hewan di Afganistan

Kabul (AFP/ANTARA) - Musim semi menandai awal dari "musim perang" bagi manusia yang terlibat selama satu dekade perang Afghanistan - tetapi untuk burung, anjing, unta dan bahkan laying-layang, sedang mencapai puncaknya.


Saat subuh pada Jumat di taman pusat kota Kabul, ratusan orang berkumpul dengan kandang penuh dihiasi burung petarung, termasuk burung puyuh dan ayam jantan, serta anjing, untuk memperingati hari pertempuran berdarah.


"Saya lahir dan besar dalam keadaan perang, saya senang melihat pertempuran, itu adalah cara yang enak untuk menghabiskan waktu," kata Najibullah (30), saat dia mempersiapkan burungnya untuk pertarungan besar.


"Jumat lalu, puyuh saya mengalahkan dua puyuh lain, dia adalah jagoan," katanya.


Di sudut lain dari taman ada pertarungan ayam jantan dengan paruh berdarah-darah, anjing mengoyak satu sama lainnya saat kerumunan pria yang bersemangat berteriak di sekitar mereka.


Di luar ibukota, khususnya di daerah utara negara itu, orang juga membuat pertarungan unta, domba jantan dan sapi jantan, untuk "menyenangkan" penonton - dan berjudi.


Pertempuran hewan dilarang karena tidak Islami di bawah rezim Taliban 1996-2001, tetapi sekali lagi ini merupakan kekerasan dalam kehidupan sehari-hari di Afghanistan - seperti perang antara gerilyawan Taliban dan 130.000 tentara NATO.


Taliban mengincar pertarungan hewan beberapa kali di masa lalu. Pada Februari 2008, sekitar 80 orang tewas ketika seorang pembom bunuh diri menyerang kerumunan orang pada pertarungan anjing di Kandahar.


Tapi warga Afghanistan, yang hidup dengan perang setiap hari, tidak takut. Bahkan ketika keluarga dan teman-teman berkumpul di puncak-puncak bukit berangin untuk menerbangkan layang-layang, mereka melakukannya untuk saling menyerang.

Di bagian atas bukit Maranjan di pusat Kabul ratusan orang berkumpul setiap Jumat untuk perang layang-layang.


"Tidak ada hal menyenangkan, hanya ada layang-layang terbang, anda harus bertarung dengannya", kata Ahmad Shah, mengendalikan layang-layang berwarna-warni dalam pertempuran udara melawan para pesaing, masing-masing berusaha untuk memutuskan tali yang dilumuri pecahan gelas layang-layang lawan dan menjatuhkan layang-layang.


Orang yang tidak suka dengan perkelahian hewan yang kejam, menyukai pertempuran layang-layang, katanya.


"Selama yang saya ingat, rakyat Afghanistan selalu berperang untuk sebab-sebab yang berbeda, kita tidak dapat mencintai apapun selain peperangan", kata Shah. (as/ik)

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.