Punya Kekebalan Jangka Pendek, Vaksin COVID-19 Tak Cukup Sekali Suntik

Adinda Permatasari, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 1 menit

VIVA – Para pakar mengakui bahwa vaksin COVID-19 yang saat ini tengah dikembangkan oleh peneliti, memiliki kekebalan jangka pendek alias tak bisa bertahan lama. Dikatakan Ketua Satgas COVID PB IDI, Prof Dr dr Zubairi Djoerban, SpPD(K), hal itu disebabkan vaksin berasal dari virus yang dilemahkan.

Salah satu kandidat vaksin COVID-19 di Indonesia dari perusahaan Sinovac, China, pun berasal dari virus yang dilemahkan. Menurut Prof Zubairi, hal itu memberi efek samping yang lebih minimal pada tubuh.

Baca juga: Bicara Vaksin, WHO Peringatkan Hal yang Akan Memperpanjang Pandemi

"Vaksin Sinovac dari virus utuh yang dilemahkan total sehingga memang harusnya pengalaman dari vaksin lain seperti ini akan jadi lebih aman, efek samping minimal," tutur Prof Zubairi dalam acara virtual VIVA Talk bersama VIVA.co.id, Senin 26 Oktober 2020.

Lebih lanjut, Prof Zubairi menjelaskan, kekurangan dari vaksin jenis ini, berdasarkan pengalaman yang ada, kekebalannya tak jangka panjang. Bisa saja hanya beberapa minggu atau jangka tiga bulan saja.

"Tapi virus itu yang dilemahkan ini memang kekebalan tidak jangka panjang sekitar 3 bulan. Harapan kita memang lebih dari 6 bulan," tuturnya.

Lantaran kekebalan yang tak jangka panjang, Prof Zubairi menjelaskan, penyuntikan vaksin kemungkinan akan diberi lebih dari satu kali. Ia mencontohkan pada penyakit hepatitis B, vaksin yang diberikan hanya satu kali tak memberikan kekebalan seumur hidup.

Baca juga: Soal Mekanisme Pemberian Vaksin COVID-19, Ini Kata Ketua Satgas

Untuk itu, dibutuhkan vaksin booster setiap tahun agar memperkuat kekebalan. Hal yang sama juga terjadi pada vaksin influenza yang tak menjamin kekebalan seumur hidup.

"Vaksin influenza masih ada beberapa orang Amerika yang kena dan ada yang meninggal karena flu. Jadi enggak melindungi 100 persen. Itu lah perlunya vaksin booster setiap tahun," paparnya.