Punya Riwayat Keluarga dengan Diabetes? Tak Perlu Khawatir, Begini Cara Mencegahnya

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), sebanyak 90 persen diabetes adalah pasien diabetes tipe 2 atau diabetes melitus. Kenaikan jumlah diabetesi tipe 2 ini didorong oleh kondisi saling mempengaruhi yang kompleks antara pertumbuhan sosio-ekonomi, demografis, lingkungan, dan faktor genetis.

Kontributor utama lainnya termasuk arus urbanisasi, populasi penduduk yang menua, berkurangnya aktivitas fisik di tengah masyarakat urban, dan meningkatnya obesitas serta kelebihan berat badan. Diabetes juga menjadi salah satu penyakit menurun dari keluarga.

Namun, jika seseorang memiliki riwayat kelurga pengidap diabetes tak perlu khawatir. Menurut pakar penyakit dalam, Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo menyampaikan diabetes bisa dicegah walau ada riwayat keluarga yang terkena penyakit ini.

Seperti yang paling penting ialah gaya hidup yang sehat, mulai dari makanan sehat yang tidak memicu diabetes, olahraga rutin, tidak merokok.

"Jadi memang harus kembali pada diri kita sendiri dengan menerapkan gaya hidup yang sehat. Diabetes bisa dicegah walau kita ada keturuanan keluarga diabetes," ujar Prof. Sidartawan dalam acara World Diabetes Day 2020 bersama Diabetasol.

Rutin periksa kesehatan

Cara Deteksi Dini Diabetes Mellitus pada Anak (Andrey_Popov/Shutterstock)
Cara Deteksi Dini Diabetes Mellitus pada Anak (Andrey_Popov/Shutterstock)

Selain menjaga pola hidup sehat, Prof. Sidartawan juga menyarankan jika sudah memiliki riwayat keluarga diabetes sebaiknya lakukan pengecekan kesehatan seperti cek gula darah.

"Jadi kita juga cek kesehatan karena bukan hanya gula darah saja, jadi harus mencegah dari penyakit lainnya yang mengakibatkan diabetes. Jangan sudah ada gejala atau parah baru berobat," papaprnya. Jadi tak hanya gula darah saja diperhatikan, melainkan tekanan darah, kolesterol, dan pola makan.

Presiden Pengurus Besar Persatuan Diabetes Indonesia (PB PERSADIA) Dr. dr. Sony Wibisono mengatakan, pemeriksaan gula darah bisa dilakukan setahun sekali, sekaligus melakukan pemeriksaan medis menyeluruh (MCU) yang mencakup kolesterol, trigliserida.

"Kalau sudah ada faktor risiko bisa periksa 3 sampai enam bulan sekali. Tapi kalo dalam keadaan normal bisa satu sampai tiga tahun sekali," ujarnya.

Pemeriksaan gula darah bisa menggunakan alat pemantauan tusuk jari atau monitor glukosa berkelanjutan misalnya glukometer untuk mengukur gula darah dan tes HbA1c yang dilakukan oleh dokter untuk menggambarkan rata-rata kadar gula darah seseorang selama tiga bulan terakhir.

Target gula normal yakni 70-99 mg/dL saat puasa, lalu kurang dari 140 mg/dL 1-2 jam setelah makan dan kurang dari 5,7 persen pada tes HbA1c.

Sedangkan seseorang dengan diabetes, target gula darah harus mencapai 80-130 mg/dL saat puasa, kurang dari 180 mg/dL 1-2 jam setelah makan dan tes HbA1c kurang dari 7 persen.

"Kadar gula berbeda tergantung berat badan, jenis kelamin, dan faktor lainnya,"

#changemaker