PUPR dorong pemenuhan air baku terintegrasi hulu ke hilir

Kelik Dewanto
·Bacaan 2 menit

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat atau PUPR mendorong kebijakan dan strategi program from source to tap yang terintegrasi dari hulu ke hilir dalam rangka memenuhi kebutuhan air baku bagi masyarakat.

"Terkait kebijakan dan strategi untuk mengatasi hal tersebut, kita mencanangkan program from source to tap," ujar Direktur Air Tanah dan Air Baku Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Iriandi Azwartika dalam seminar daring di Jakarta, Rabu.

Menurut Iriandi, kebijakan source to tap ini adalah mengalokasikan, melakukan desain dan perhitungan kebutuhan secara terintegrasi dari sumber air baku hingga offtaker-nya yakni PDAM dan pada akhirnya sampai ke tangan konsumen atau masyarakat.

Baca juga: PUPR: SPAM Jatiluhur-Karian jadi andalan pasok air baku Jakarta

Perlunya desain secara menyeluruh bagi kebijakan source to tap yang terintegrasi, mengingat potential capacity air baku yang cukup besar yakni tujuh meter kubik per detik dan potencial capacity instalasi pengolahan air yang cukup besar juga yakni lebih dari 30 meter kubik per detik, katanya.

Di samping itu, lanjutnya, Kementerian PUPR juga akan mengupayakan konsep re-use air irigasi dan modernisasi irigasi sebagai sumber-sumber air baku.

"Kemudian, kita juga mengupayakan konsep re-use air irigasi dan modernisasi irigasi karena seperti kita ketahui terdapat penurunan luasan lahan di mana sawah-sawah berubah menjadi perumahan dan sebagainya. Tentunya, hal ini juga kita alihkan untuk sumber-sumber air baku," kata Iriandi.

Sebelumnya, Kementerian PUPR mengungkapkan kondisi pandemi COVID-19 membuat tren konsumsi air bersih secara domestik atau rumah tangga mengalami peningkatan.

Direktur Bina Teknik Ditjen SDA Eko Winar Irianto mengatakan perbandingan konsumsi air domestik sebelum dan setelah pandemi yakni pada 2019, konsumsi air domestik mencapai 15,41 meter kubik per bulan, sedangkan pada 2020 mengalami peningkatan menjadi 16,07 meter kubik per bulan.

Kebijakan work from home atau WFH di pemerintahan dan perusahaan menyebabkan banyaknya pelanggan berada di rumah, sehingga konsumsi air domestik naik.

Kemudian, peningkatan konsumsi air domestik pada masa COVID-19 juga dipengaruhi oleh peningkatan kebutuhan air bersih untuk mendukung perilaku hidup bersih sehat dan disiplin protokol kesehatan, misalnya mencuci tangan dan mandi.

Baca juga: PII dukung pengembangan infrastruktur air minum
Baca juga: Presiden Jokowi resmikan SPAM Umbulan di Pasuruan, ini harapannya