PUPR: Klasifikasi Ketersediaan Air di Jawa Dalam Status Kelangkaan

Dusep Malik, Arrijal Rachman
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyatakan, klasifikasi ketersediaan air per kapita di pulau Jawa dalam status ada kelangkaan. Meskipun klasifikasi neraca airnya surplus.

Direktur Bina Teknik Sumber Daya Air Kementerian PUPR Eko Winar Irianto mengatakan, berdasarkan data jumlah penduduk pada 2015, di Jawa mencapai 143 juta jiwa. Sedangkan luas irigasinya 2,46 juta hektare.

"Di Jawa kondisinya secara klasifikasi neraca air adalah surplus namun dari segi klasifikasi ketersediaan air per kapita maka disebutnya ada kelangkaan," kata dia dalam diskusi virtual, Senin, 22 Maret 2021.

Adapun untuk wilayah lain seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua dikatakannya klasifikasi ketersediaan air per kapita dalam status tanpa tekanan sedangkan Bali dan Nusa Tenggara ada tekanan.

Dia merincikan di Sumatera jumlah penduduk pada 2015 berjumlah 55,93 jiwa dengan luas irigasi 1,26 juta hektare. Kalimantan 14,81 juta jiwa dengan 598,76 ribu hektare dan Sulawesi 18,4 juta jiwa dengan 1,1 juta hektare.

Sementara itu, Maluku 2,79 juta jiwa dengan 106,77 ribu hektare dan Papua 4,02 juta jiwa dengan 80,07 ribu hektare. Adapun Bali dan Nusa Tenggara tercatat sebanyak 13,96 juta jiwa dengan luas irigasi 349,88 hektare.

"Untuk Pulau Sumatra dan sebagainya tanpa tekanan sedangkan Pulau Bali dan Nusa Tenggara istilah klasifikasi ketersedaian air per kapitanya ada tekanan," tutur Eko.

Secara umum, dia juga menekankan, potensi ketersediaan air permukaan Indonesia adalah 24,84 persennya dapat dimanfaatkan. Total potensi air permukaan 2.783,2 miliar meter kubik per tahun.

"Potensi air yang dapat dimanfaatkan adalah 691,3 miliar meter kubik per tahun ini tentu sekitar sepertiga atau seperempat dari total potensi air yang ada di Indonesia. Tapi pemanfaatan terbesar tentu air irigasi," ucap dia.

Untuk potensi air tanah, Eko mengatakan tergambar dari cekungan air tanah (CAT) yang teridentifikasi sebanyak 421 buah dengan potensi sebanyak 500 miliar meter kubik per tahunnya.

"Jadi di Indonesia pemakaian air tanah sekitar 47,2 persen yang dari non CAT 52,8 persen dan jumlah CAT kita sekitar 421 buah dengan potensi 500 miliar meter kubik per tahun," papar Eko.