Pura-Pura Bahagia Itu Melelahkan, tapi Kenapa Kita Masih Sering Melakukannya?

·Bacaan 2 menit

Fimela.com, Jakarta Kita sedang punya masalah pribadi tapi tetap berusaha tersenyum di depan orang lain. Kita baru saja patah hati, tapi masih berusaha menguatkan orang lain yang sedang sedih. Kita sedang tidak baik-baik saja, tapi kita memilih untuk pura-pura bahagia.

Tidak sedikit di antara kita yang pada situasi tertentu memilih untuk pura-pura bahagia. Meski tahu bahwa pura-pura bahagia itu bisa sangat melelahkan, tapi kita masih saja memilih untuk memasang topeng bahagia di depan orang lain meski punya masalah pribadi yang sangat pelik. Kenapa bisa begitu?

TERKAIT: Tanpa Bahu untuk Bersandar saat Diberi Cobaan, Perempuan Bisa Lebih Tegar

TERKAIT: FIMELA FEST 2020: 5 Alasan Mencintai Diri Sendiri Membuatmu Lebih Bahagia

TERKAIT: FIMELA FEST 2020: 5 Cara Sederhana untuk Kembali Mencintai Diri Sendiri

Kadang Lebih Mudah Tersenyum daripada Harus Menjelaskan Perasaan

“We're actors in our lives, pretendin' to be who we want people to think we are.”― Simone Elkeles, Perfect Chemistry

Saat kita sudah sangat tertekan, rasanya lebih mudah untuk tersenyum di hadapan orang lain daripada repot-repot menjelaskan perasaan dan isi hati kita yang sesungguhnya padanya. Setidaknya dengan menghadirkan senyuman, orang lain tak akan menuntut kita untuk menjelaskan persoalan yang sedang tidak ingin kita ungkit untuk sementara waktu.

Pura-Pura Bahagia Kadang Menjadi Semacam Pelindung Diri

“When someone is pretending to be something, or hiding who they are or what they believe, they're really more... protecting themselves.”― Kelsey Sutton, Some Quiet Place

Kamu merasa dengan pura-pura bahagia, kamu bisa menciptakan pelindung untuk diri sendiri. Setidaknya tidak ada orang yang ingin mengulik emosi dan permasalahanmu lebih dalam lagi. Efeknya mungkin hanya sementara, tapi setidaknya dengan pura-pura bahagia kamu tidak menimbulkan "kecurigaan" pada orang lain yang menuntutmu untuk menjelaskan sesuatu yang sedang tidak ingin kamu bicarakan.

Hanya Saja, Kita Tak Bisa Terus Menerus Pura-Pura Bahagia

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/VitalyRomanovich
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/VitalyRomanovich

“We can pretend that we’re living life. But we will never be able to pretend that the outcome of such pretending will be anything less than the death of our pretending.”― Craig D. Lounsbrough

Hanya saja kita tak bisa terus menerus pura-pura bahagia. Kita tak bisa terus memakai topeng kebahagiaan di depan orang lain. Ada kalanya kita perlu jujur dengan emosi dan perasaan kita, khususnya di depan orang-orang terdekat kita. Sebab saat kita bisa lebih jujur dengan emosi dan perasaan kita, orang-orang terdekat kita bisa lebih mudah memahami diri kita dan membantu kita untuk merasa lebih nyaman.

“You can’t get the help that you need if you are pretending that everything is ok.”― Brenda Diann Johnson

Izinkan dirimu untuk lebih jujur dengan emosi dan perasaanmu. Tidak semua masalah harus kamu pendam seorang diri. Tak ada salahnya untuk sesekali meminta bantuan pada orang lain. Kita tak bisa menyenangkan hati semua orang setiap saat. Tak bisa memenuhi semua ekspektasi orang. Bagaimana pun, kita juga manusia biasa.

Semoga hatimu segera pulih. Semoga kebahagiaan bisa kamu temukan dengan cara yang palin indah tanpa harus dengan kepura-puraan.

#ElevateWomen

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel