Purposive Sampling Adalah Teknik Pengambilan Sampel, Ketahui Definisi dan Tujuannya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Purposive sampling merupakan salah satu teknik sampling non random sampling dimana peneliti menentukan pengambilan sampel dengan cara menetapkan ciri-ciri khusus yang sesuai dengan tujuan penelitian sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan penelitian.

Purposive sampling yang juga disebut sebagai sampel penilaian atau pakar adalah jenis sampel nonprobabilitas. Hal ini sering dilakukan dengan menerapkan pengetahuan ahli tentang populasi untuk memilih secara nonrandom sampel elemen yang mewakili penampang populasi.

Dalam pengambilan sampel probabilitas, setiap elemen dalam populasi memiliki peluang bukan nol yang diketahui untuk dipilih melalui penggunaan prosedur pemilihan acak. Untuk lebih detailnya, berikut telah dirangkum oleh Liputan6.com tentang pengertian purposive sampling, tujuan hingga kategori berdasarkan jenis kasusnya dari berbagai sumber, Rabu (14/4/2021).

Definisi Purposive Sampling

ilustrasi Purposive Sampling  (iStockphoto)
ilustrasi Purposive Sampling (iStockphoto)

Purposive sampling (juga dikenal sebagai judgement, selective atau subyektif sampling) adalah teknik pengambilan sampel di mana peneliti mengandalkan penilaiannya sendiri ketika memilih anggota populasi untuk berpartisipasi dalam penelitian.

Sementara itu menurut Notoatmodjo, purposive sampling merupakan pengambilan sampel yang didasarkan suatu pertimbangan, misalnya sifat populasi dan ciri yang sebelumnya telah diketahui.

Tak hanya itu menurut Arikunto, Purposive sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang tidak berdasarkan aturan (random), daerah, ataupun strata. Pengambilan sampel ini berdasarkan adanya pertimbangan pada tujuan tertentu.

Kemudian menurut Sugiyono, definisi purposive sampling ini yaitu teknik penentuan sampel penelitian melalui proses pertimbangan yang matang. Dengan begitu, hasilnya akan representatif.

Secara umum, purposive sampling adalah metode pengambilan sampel non-probabilitas dan ini terjadi ketika “elemen yang dipilih untuk sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti. Para peneliti sering percaya bahwa mereka dapat memperoleh sampel yang representatif dengan menggunakan penilaian yang tepat, yang akan menghemat waktu dan uang”.

Alternatifnya, metode purposive sampling mungkin terbukti efektif ketika hanya sejumlah orang yang dapat berfungsi sebagai sumber data primer karena sifat desain penelitian, maksud dan tujuan penelitian. Misalnya, untuk penelitian yang menganalisis pengaruh dari tragedi pribadi seperti kematian keluarga terhadap kinerja manajer tingkat senior, peneliti dapat menggunakan penilaiannya sendiri untuk memilih manajer tingkat senior yang dapat berpartisipasi dalam wawancara yang mendalam.

Tujuan Purposive Sampling

Ilustrasi Purposive Sampling Credit: pexels.com/Melanie
Ilustrasi Purposive Sampling Credit: pexels.com/Melanie

Tujuan digunakannya purposive sampling adalah untuk menentukan sampel sebuah penelitian yang memang memerlukan kriteria-kriteria tertentu agar sampel yang diambil sesuai dengan tujuan penelitian. Purposive sampling cocok digunakan untuk penelitian kualitatif atau penelitian-penelitian yang tidak melakukan generalisasi.

Rumus Menentukan Ukuran Sampel

Ilustrasi Purposive Sampling  (Sumber: Pixabay)
Ilustrasi Purposive Sampling (Sumber: Pixabay)

Purposive sampling sering kali digunakan pada penelitian kualitatif atau analisis eksploratori. Hal ini berarti semakin banyak sampel maka semakin baik karena inferensi bukanlah tujuan utamanya. Banyaknya ukuran sampel bergantung pada alasan pengambilan sampel dilakukan dan jenis teknik puposive sampling mana yang digunakan. Perihal seberapa baik sampel dapat mewakili populasi atau representatif bukanlah tujuan utama dari penelitian tersebut.

Kategori Purposive Sampling Berdasarkan Jenis Kasus

Ilustrasi Purposive Sampling Credit: pexels.com/Suzy
Ilustrasi Purposive Sampling Credit: pexels.com/Suzy

Dalam purposive sampling, penilaian pribadi perlu digunakan untuk memilih kasus yang membantu menjawab pertanyaan penelitian atau mencapai tujuan penelitian. Berdasarkan jenis kasusnya, purposive sampling dapat dibagi menjadi enam kategori berikut:

1. Kasus tipikal

Menjelaskan kasus yang rata-rata dan normal.

2. Kasus ekstrim atau menyimpang

Mengambil sampel dari kasus-kasus yang dianggap tidak biasa atau jarang terjadi seperti menggali alasan kegagalan perusahaan dengan mewawancarai eksekutif yang telah dipecat oleh pemegang saham.

3. Kasus kritis

Pengambilan sampel kasus kritis berfokus pada kasus tertentu yang dramatis atau sangat penting.

4. Sampel heterogen atau maksimum

Pengambilan sampel variasi heterogen atau maksimum bergantung pada penilaian peneliti untuk memilih peserta dengan karakteristik yang beragam. Hal ini dilakukan untuk memastikan adanya variabilitas maksimum dalam data primer.

5. Sampel homogen

Pengambilan sampel homogen berfokus pada "berfokus pada satu subkelompok tertentu di mana semua anggota sampel serupa, seperti pekerjaan atau tingkat tertentu dalam hierarki organisasi".

6. Sampel teoritis

Pengambilan sampel teoretis adalah kasus khusus dari pengambilan sampel purposif yang didasarkan pada metode induktif Teori Beralas.

Keuntungan dan Kerugian dalam Menggunakan Purposive Sampling

Ilustrasi Purposive Sampling Credit: pexels.com/Fauxels
Ilustrasi Purposive Sampling Credit: pexels.com/Fauxels

Berikut adalah pemaparan mengenai keuntungan dan kerugian menggunakan purposive sampling dalam penelitian Anda.

1. Keuntungan Purposive Sampling (Judgment Sampling)

  1. Pengambilan sampel dengan tujuan adalah salah satu metode pengambilan sampel yang paling hemat biaya dan hemat waktu.

  2. Purposive sampling mungkin merupakan satu-satunya metode yang sesuai yang tersedia jika sumber data primer yang dapat berkontribusi untuk penelitian terbatas jumlahnya.

  3. Teknik pengambilan sampel ini dapat efektif dalam mengeksplorasi situasi antropologis di mana penemuan makna dapat memperoleh manfaat dari pendekatan intuitif.

2. Kerugian Purposive Sampling (Judgment Sampling)

  1. Kerentanan terhadap kesalahan dalam penilaian oleh peneliti.

  2. Tingkat keandalan yang rendah dan tingkat bias yang tinggi.

  3. Ketidakmampuan untuk menggeneralisasi temuan penelitian

Dalam hal ini, kekurangan dengan menggunakan metode purposive sampling (judgement sampling) tidak terlalu populer dalam studi bisnis, dan mayoritas pembimbing disertasi biasanya melakukan saran pemilihan metode sampling alternatif dengan tingkat relibilitas yang lebih tinggi dan bisa yang rendah seperti kuota, cluster, dan metode sampling sistematis.