Puskesmas di Malang Sukses Turunkan Stunting, Begini Caranya

·Bacaan 1 menit

Liputan6.com, Malang - Kabupaten Malang sukses menurunkan prevalensi stunting menjadi 10,9 persen pada Februari 2021. Sebelumnya, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stunting Kota Malang adalah 31,74 persen, dan 25,56% pada 2019 berdasarkan hasil Studi Status Gizi Balita (SSGBI) 2019.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Malang Arbani Mukti Wibowo menyatakan, intervensi penanganan stunting dilakukan dengan sistem rujukan berjenjang yang melibatkan kerja sama antar fasilitas kesehatan. Penguatan sistem rujukan berjenjang, diawali dari posyandu, puskesmas hingga rumah sakit.

"Melalui sistem rujukan berjenjang tersebut, diharapkan secara teknis dapat memperbaiki sistem layanan dalam rangka percepatan penurunan stunting," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (16/9/2021).

Terbukti, di Puskesmas Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang berhasil menaikkan berat badan 7 dari 8 anak yang beresiko stunting. Hal ini didukung dengan kerjasama lintas sektoral antara Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Malang dan Dinas Kesehatan setempat.

Dia menambahkan, pelaksanaan sistem rujukan berjenjang dalam penanganan stunting, melibatkan kader, bidan, dokter Puskesmas hingga Bupati melalui penetapan prioritas pencegahan stunting.

"Tugas ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan, namun secara teknis juga ditindak lanjuti oleh BKKBN dan Bappeda," sambungnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Screening Anak

Direktur Eksekutif Habibie Institute for Public Policy and Governance (HIPPG) Widya Leksmanawati. (Istimewa)
Direktur Eksekutif Habibie Institute for Public Policy and Governance (HIPPG) Widya Leksmanawati. (Istimewa)

Direktur Eksekutif Habibie Institute for Public Policy and Governance (HIPPG) Widya Leksmanawati dalam webinar baru-baru ini menyatakan, prioritas penanganan stunting adalah screening anak-anak yang berpotensi menjadi stunting.

“Yang harus kita selamatkan adalah anak-anak yang saat ini sedang menderita gizi kurang, gizi buruk atau anak dengan gagal tumbuh pada anak usia dibawah 24 bulan. Anak-anak inilah yang beresiko mengalami stunting," ujarnya

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel