Puslabfor Polri Terima 175 Sampel Penderita Gagal Ginjal Akut

Merdeka.com - Merdeka.com - Sebanyak 175 sampel diterima Puslabfor Polri untuk diteliti kasus dugaan adanya tindak pidana kasus gagal ginjal akut pada anak. Tercatat sebanyak 195 anak dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit tersebut.

"Puslabfor polri telah menerima 175 sampel kasus gagal ginjal akut yang terdiri dari obat, urin, dan darah," ujar Kabag Penum Divhumas Polri Kombes Nurul Azizah melalui konferensi pers, Rabu (9/11).

Sedangkan, untuk hasilnya dari Puslabfor Polri, Nurul belum dapat merinci terkait penyebab kasus gagal ginjal itu.

Polisi bekerjasama dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melakukan gelar perkara sehingga kasus dinaikkan menjadi tahap penyidikan.

"Tim Bareskrim juga menghadiri gelar perkara yang dihadiri BPOM rencana selanjutnya, tim gabungan akan melakukan koordinasi dengan puslabfor terkait dengan pengembangan TKP dan melengkapi berkas dokumen penyelidikan," tutur Nurul.

Adapun pihak penyidik juga telah melanjutkan penyelidikan terhadap dua perusahaan yang diduga sebagai penyuplai bahan obat-obat pembuat sirop ke PT Afi Farma Pharmacrutical Industries (Afifarma).

"Tim investigasi dari Dittipider Bareskrim Polri telah melanjutkan penyelidikan PT TBK dan CPNI yang diduga sebagai pemasok bahan baku obat yg mengandung EG dan DEG ke PT AF," sambung Nurul.

Pemeriksaan tersebut berkaitan dengan dokumen-dokumen penjualan dam penyebaran bahan baku sebagai pembuatan obat sirop.

Sebelumnya, Penyidik Bareskrim Polri telah melakukan pemeriksaan terhadap perusahaan farmasi PT Afi Farma Pharmaceutical Industries (Afi Farma). Pemeriksaan dilakukan terkait dengan kasus gagal ginjal akut terhadap anak.

"Update terkait dengan penyelidikan kasus gangguan gagal ginjal akut pada anak bahwa tim gabungan Bareskrim Polri telah melakukan pemeriksaan terhadap PT AF," kata Kabagpenum Div Humas Polri Kombes Nurul Azizah kepada wartawan, Senin (7/11).

Pemeriksaan yang dilakukan oleh penyidik yakni dengan melakukan pengecekan terhadap sejumlah dokumen pembelian bahan baku obat, dan mengambil sampel bahan yang ada di perusahaan tersebut.

"Selain itu, saat ini juga dilakukan pendalaman terhadap dokumen serta uji laboratorium bahan baku yang telah diambil sampel," ujarnya. [rhm]