Putra Mahkota Jepang Izikan Putrinya Menikah dengan Warga Biasa

Renne R.A Kawilarang, BBC Indonesia
·Bacaan 3 menit

Putra Mahkota Jepang Fumihito mengatakan ia "menyetujui" rencana putrinya yang lama tertunda untuk menikah dengan pacarnya, menurut laporan berbagai media.

Putri Mako sedianya akan menikah dengan Kei Komuro, orang biasa yang tidak memegang gelar kebangsawanan, pada 2018, setahun setelah mereka tunangan.

Dalam pernyataan bulan November ini, Putri Mako, menyatakan tetap akan melanjutkan pernikahan yang semula dijadwalkan pada 2018 namun mundur menyusul berita terjadinya sengketa keuangan antara ibu Komuro dan mantan tunangannya.

Istana menyanggah bahwa penundaan itu terkait dengan berita masalah keuangan ibu Komuro.

Namun putra mahkota Fumihito mengulangi lagi bahwa masalah keuangan itu harus ditangani terlebih dahulu, menurut kantor berita Kyodo.

"Agar banyak orang diyakinkan dan dapat merayakan (pernikahan), saya telah katakan bahwa isu ini penting untuk ditangani," kata putra mahkota, adik Kaisar Naruhito, pewaris tahta pertama kekaisaran.

"Pandangan saya adalah, banyak orang yang belum yakin dan gembira (atas pernikahan mereka)," kata Putra Mahkota Fumihito, atau yang juga dikenal sebagai Putra Mahkota Akishino.

Komuro, yang saat ini melanjutkan studi hukum lebih lanjut di Universitas Frodham, New York, menurut Kyodo, mengatakan tahun lalu bahwa keluarganya tak punya masalah keuangan.

Ia mengatakan isu utang yang belum dibayar kepada mantan tunangan ibunya telah diselesaikan. Namun mantan tunangan ibunya malah mengatakan soal utang belum selesai.

Putri Mako dan Kei Komuro dalam jumpa pers pertunangan mereka pada September 2017.
Pasangan ini menunda pernikahan yang semula direncanakan pada 2018.

Tidak jelas kapan pasangan yang sama-sama berusia 29 tahun ini, akan melangsungkan pernikahan.

Putri Mako, anak tertua Pangeran Fumihito dan Putri Kiko, akan dijabut gelar kerajaannya begitu menikah dengan Komuro.

Pernikahan yang tertunda dua tahun itu, telah mendapat izin.

"Konstitusi menyebutkan perkawinan harus didasarkan pada persetujuan kedua belah pihak. Bila itu yang mereka inginkan, saya rasa, itu yang harus saya hargai sebagai orang tua," kata Putra Mahkota Fumihito, menurut kantor berita Jepang, Kyodo.

Analysis box by Rupert Wingfield-Hayes, Japan correspondent
Analysis box by Rupert Wingfield-Hayes, Japan correspondent

Pangeran Akishino terdengar tak begitu antusias terkait pilihan suami putrinya. Mengapa? Masalah ini rumit dan sekaligus membosankan.

Sebelum Perang Dunia II, anggota kekaisaran Jepang akan mengatur pernikahan dengan saudara jauh atau dengan putra atau putri keluarga para aristokrat. Namun konsitutsi pasca perang Jepang menyebabkan banyak kelompok artistokrat dan cabang-cabang kecil keluarga kerajaan dibubarkan. Akibatnya, yang tertinggal adalah keluarga inti kekaisaran.

Dewasa ini, para putri muda Jepang tak punya pilihan lain, kecuali menikah dengan orang biasa.

Putri Mako telah memutuskan untuk menikah dengan pacarnya sejak bangku kuliah, Kei Komuro. Pemuda ini tidak kaya dan juga tidak memiliki jaringan yang cukup luas. Ibu Komuro dilaporkan meminjam uang dari tunangannya saat itu untuk membiayai pendidikan anaknya. Apakah uang itu pemberian atau pinjaman? Komuro mengatakan pinjaman itu pemberian tapi mantan tunangan ibunya menyatakan itu uang utang.

Apapun itu, Putra Mahkota Fumihito tak begitu senang dengan cara calon menantunya menangani sengketa keuangan.

Bila Putri Mako jadi menikah dengan Komuro, sang putri akan kehilangan gelar kerajaan dan semua bantuan keuangan. Ia akan menjadi orang biasa.

Dan inilah penjelasan yang lebih membosankan. Seorang teman yang mengamati kehidupan di Jepang selama lebih dari 25 tahun, mengatakan alasannya karena terkait pekerjaan.

"Alasannya sama saja seperti yang dialami anak-anak muda Jepang lain yang kesulitan untuk menikah," katanya.

"Dia tidak memiliki pekerjaan yang layak dengan kepastian kerja seumur hidup. Dua puluh tahun lalu, 80% pria Jepang memiliki pekerjaan yang dapat disebut jaminan seumur hidup. Sekarang, di bawah 50%. Apa yang disebut mimpi Jepang, saat ini menjadi hal yang sulit bagi banyak anak muda Jepang."