Putri Candrawathi: Apakah Salah Saya Cerita ke Suami kemudian Dituduh Jadi Dalang?

Merdeka.com - Merdeka.com - Putri Candrawathi membacakan pleidoi atau nota pembelaan sebagai terdakwa kasus dugaan pembunuhan Brigadir J. Dalam kesempatan itu, dia memohon keadilan kepada Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel).

"Kalaulah boleh saya bertanya, apakah salah jika saya bercerita secara jujur pada suami atas perbuatan keji yang merenggut dan merusak kehormatan dan harga diri saya dan keluarga? Apakah karena saya bercerita sebagai seorang istri pada suami, kemudian Saya dituduh menjadi dalang atas semua ini?" tutur Putri di PN Jaksel, Rabu (25/1).

"Ataukah rasa sakit karena perbuatan keji ini harus saya simpan dan pendam sendiri hingga mati berkalang tanah, agar semua tampak seolah baik-baik saja dan tidak ada yang pernah terjadi?" sambungnya.

Kepada Majelis Hakim, Putri mempertanyakan apakah dirinya patut dipersalahkan seolah-olah dalang dari kasus pembunuhan. Sementara dirinya tidak pernah memiliki niat atau bahkan mengetahui rencana pelaksanaan pembunuhan terhadap Brigadir J.

"Yang Mulia, kalaulah para pencaci dan penghasut di luar sana mengetahui rasanya menjadi perempuan yang mengalami kekerasan seksual dan beratnya harus menceritakan kembali secara jujur kekejian yang terjadi pada suami. Kalaulah mereka bisa merasakan situasi ketika di satu sisi adalah korban namun di sisi lain dituduh sebagai otak pembunuhan. Yang Mulia, kalaulah harapan Saya masih didengar, semoga tidak ada lagi Perempuan yang menghadapi kondisi seperti itu," ujarnya.

Putri pun meminta izin untuk mengetuk pintu hati Majelis Hakim dan berharap dapat secara jernih melihat fakta serta bukti yang muncul di persidangan. Dia berharap Majelis Hakim arif dan bijaksana.

"Yang Mulia, sungguh, saya ingin menjaga dan melindungi anak-anak kami, mendampingi mereka, dan kembali memeluk mereka serta menebus segala kegagalan saya sebagai seorang ibu," kata Putri.

Dia berharap, hukuman hanya akan diberikan terhadap orang yang benar-benar bersalah, bukan hanya karena tidak kuasa membedakan mana kebenaran dan kegelapan yang tumbuh dari gelombang hinaan, cemooh, tudingan dan paksaan publik.

"Yang Mulia, besar harapan kami, janganlah kebencian membuat kita tidak adil. Semoga Tuhan membimbing jalan kita semua," katanya.

Reporter: Nanda Perdana
Sumber: Liputan6.com [eko]