Putri Candrawathi Dukung Skenario Sambo, Tak Kembalikan Senjata Brigadir J

Merdeka.com - Merdeka.com - Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut Terdakwa Putri Candrawathi tidak memiliki niat untuk mengembalikan senjata api dinas milik Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Senjata api yang dimaksudnya itu yakni jenis HS.

"Hari Jumat tanggal 8 Juli 2022, sekira pukul 15.40 di rumah Saguling Terdakwa Putri tetap tidak ada niat untuk mengembalikan senjata api dinas jenis HS dan senjata api jenis stayer yang sudah diamankan dan dijauhkan selama satu hari dari korban Nofriansyah oleh saksi Ricky Rizal Wibowo," kata JPU dalam persidangan, Rabu (18/1).

Dengan adanya kesengajaan Putri untuk tidak mengembalikan senjata dinas milik Brigadir J, yang disimpan di dalam mobil merek Lexus dengan nomor polisi B 1 MAH.

Hal ini membuktikan Putri ikut mendukung skenario yang disusun Ferdy Sambo yang saat itu menjabat sebagai Kadiv Propam Polri.

"Sehingga, peran fisik Terdakwa Putri Candrawathi dengan sengaja tidak mengembalikan senjata api dinas jenis HS milik korban Nofriansyah yang disimpan di dalam dashboard mobil Lexus LM nomor polisi B 1 MAH, menjadi petunjuk kuat adanya kehendak dan rencana Terdakwa Putri Candrawathi terhadap senjata api jenis HS," ujarnya.

"Akan digunakan dan sudah dipersiapkan untuk mendukung skenario tembak menembak di rumah dinas Duren Tiga nomor 46, yang disusun oleh saudara Ferdy Sambo dan Terdakwa Putri Candrawathi dan juga sebagai rencana untuk merampas nyawa korban Nofriansyah Yosua Hutabarat," sambungnya.

Selain itu, Putri juga saat itu sempat memberikan perintah kepada Bharada Richard Eliezer alias Bharada E untuk menyimpan senjata tersebut ke lantai tiga atau di lemari senjata api yang berada di Saguling, Jakarta.

Apa yang dilakukan Putri Candrawathi ini disebut JPU untuk tetap melaksanakan kehendaknya yakni merampas nyawa korban Brigadir J.

"Yang mana lantai 3 adalah private, tidak sembarang ART atau ajudan dapat naik ke lantai 3. Karena untuk dapat naik ke lantai 3, harus seizin dan perintah dari Terdakwa Putri atau saudara Ferdy Sambo," sebutnya.

Untuk memuluskan rencananya itu, Putri bersama dengan Ferdy Sambo ternyata mengajak Kuat Ma'ruf untuk naik ke lantai dan menemui eks Kadiv Propam Polri.

"Hal tersebut menguatkan bahwa saksi Kuat Ma'ruf mengetahui kehendak dan rencana Putri Candrawathi merampas nyawa korban Nofriansyah, dan meminta dukungan kepada saksi Kuat Ma'ruf dan juga meminta saksi Ricky Rizal Wibowo dengan cara ikut berangkat ke rumah Dinas Duren Tiga nomor 46," ungkapnya.

"Seolah-olah akan melaksanakan isolasi mandiri. Padahal diketahui oleh Terdakwa Putri Candrawathi bahwa saksi Rikcy Rizal Wibowo dan saksi Kuat Ma'ruf tidak melakukan tes PCR," tambahnya.

Kemudian, Ricky Rizal dan Kuat Ma'ruf diminta untuk tetap membackup Ferdy Sambo dan Putri Candrawthi saat melakukan eksekusi terhadap Brigadir J.

"Terdakwa Putri yang sudah berkehendak merampas nyawa Nofriansyah ikut mendampingi dan mendengarkan pada saat saudara Ferdy Sambo meminta kesanggupan saksi Richard Eliezer, untuk menembak korban Nofriansyah dan dijawab oleh saksi Richard Elizer 'Siap Komandan'," paparnya.

"Dan Terdakwa Putri ikut mendengarkan pembicaraan antara saudara Ferdy Sambo dengan Richard Eliezer perihal pelaksaan merampas nyawa korban Nofriansyah yang mana pada saat Ferdy Sambo menyampaikan berulang kali kepada Nofriansyah," pungkasnya. [rhm]