PVMBG Sebut Status Gunung Semeru Tetap Waspada

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Status Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur tetap pada level II atau waspada berdasarkan hasil evaluasi selama sepekan. Evaluasi itu secara visual, instrumental dan potensi ancaman bahayanya.

Hal itu disampaikan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Geologi Kementerian ESDM Kasbani, Rabu (16/12/2020).

"Kami telah melakukan evaluasi untuk aktivitas Gunung Semeru sejak 8 hingga 15 Desember 2020. Hasilnya status Semeru tetap level II atau waspada,” ujar dia dalam keterangan tertulis.

Ia menuturkan, berdasarkan pengamatan visual, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut, kemudian erupsi masih berlangsung tidak menerus, tetapi umumnya kolom erupsi tidak teramati. Hal ini karena tertutup kabut.

Teramati asap kawah utama berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 500 meter dari puncak. Cuaca cerah hingga hujan, angin lemah hingga sedang ke arah utara, timur laut, timur, selatan, barat dan barat daya. Suhu udara sekitar 21-27 derajat celsius.

"Pada 12 Desember 2020 pukul 23.58 WIB dan 13 Desember 2020 pukul 05.23 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 1.500 meter dan 3.500 meter dari ujung lidah lava (250 meter dari kawah aktif) mengarah ke tetangga yaitu ke Besuk Kobokan,” kata dia, dilansir dari Antara.

Ia menambahkan, selama periode evaluasi, teramati aktivitas guguran lava pijar Gunung Semeru dengan jarak luncur 400-700 meter ke arah Besuk Kobokan. Kolom asap letusan teramati dengan ketinggian 200-500 meter warna asap putih tebal condong ke arah utara.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Pengamatan Instrumental

Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa itu mengeluarkan awan panas sejauh 1,5 kilometer dari puncak. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)
Gunung Semeru yang tertinggi di Pulau Jawa itu mengeluarkan awan panas sejauh 1,5 kilometer dari puncak. (Liputan6.com/Dian Kurniawan)

Sementara itu, berdasarkan pengamatan instrumental, jumlah dan jenis gempa yang terekam periode 8-15 Desember 2020 didominasi oleh gempa guguran, letusan dan embusan. Gempa-gempa vulkanik (gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan tremor) terekam dengan jumlah rendah.

“Selama periode pengamatan, gempa awan panas guguran terekam sebanyak dua kali, sedangkan getaran banjir terekam sebanyak 11 kejadian,” tutur dia.

Kasbani menuturkan, setelah kejadian awan panas guguran pada 1 Desember 2020, secara visual menunjukkan ada penurunan jumlah kejadian guguran lava pijar dengan jarak luncur berkisar antara 400-700 meter arah Besuk Kobokan. Sedangkan awan panas guguran masih teramati sebanyak dua kejadian.

“Kegempaan masih berfluktuaktif, didominasi oleh gempa-gempa permukaan. Jumlah kejadian gempa guguran, letusan, dan gempa embusan dalam periode itu masing tinggi yang mengindikasikan pergerakan magma ke permukaan masih terjadi,” tutur dia.

Potensi Ancaman Bahaya

Petugas polisi memeriksa lokasi penambangan pasir yang terkena dampak letusan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Indonesia, Selasa (1/12/2020). Pihak berwenang sedang memantau beberapa gunung berapi setelah sensor mendeteksi peningkatan aktivitas dalam beberapa minggu terakhir. (AP Photo)
Petugas polisi memeriksa lokasi penambangan pasir yang terkena dampak letusan Gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur, Indonesia, Selasa (1/12/2020). Pihak berwenang sedang memantau beberapa gunung berapi setelah sensor mendeteksi peningkatan aktivitas dalam beberapa minggu terakhir. (AP Photo)

Hasil evaluasi juga menyebutkan jumlah kejadian getaran banjir mulai meningkat, mengindikasikan mulai meningkatnya kejadian lahar di aliran Besuk Kobokan seiring meningkatnya curah hujan di wilayah setempat.

Ia menuturkan, potensi ancaman bahaya yakni akumulasi material hasil erupsi (letusan dan aliran lava) maupun pembentukan kubah lava berpotensi menjadi guguran lava pijar, atau pun awan panas guguran.

"Material guguran lava dan atau awan panas yang sudah terendapkan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Gunung Semeru, berpotensi menjadi lahar jika berinteraksi dengan air hujan," kata dia.

Selain itu, lanjut dia, interaksi endapan material guguran lava atau awan panas guguran yang bersuhu tinggi dengan air sungai akan berpotensi terjadinya erupsi sekunder.

"Berdasarkan hasil evaluasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru secara visual, instrumental dan potensi ancaman bahayanya hingga tanggal 15 Desember 2020, maka statusnya masih pada Level II (waspada)," ujar dia.

Ia mengimbau masyarakat tidak beraktivitas dalam radius satu kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak empat kilometer arah bukaan kawah di sektor selatan-tenggara, serta mewaspadai awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.

Radius dan jarak rekomendasi itu akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya, kemudian masyarakat diminta menjauhi atau tidak beraktivitas di area terdampak material awan panas karena saat ini suhunya masih tinggi.

"PVMBG juga merekomendasikan agar masyarakat juga mewaspadai potensi luncuran awan panas di sepanjang aliran Besuk Kobokan," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini