PVMBG Siapkan Skenario Terburuk Jika Gunung Anak Krakatau Meletus

·Bacaan 2 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyiapkan skenario terburuk menyusul meningkatnya aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK). Salah satunya berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait mitigasi bahaya letusan Gunung Anak Krakatau.

"Salah satunya minggu ini kita akan melakukan latihan gabungan dengan membuat skenario baik itu hanya lontaran pijar sampai yang terburuk bahaya sekunder. Mungkin bahaya peringatannya ada di BMKG," kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan dalam diskusi virtual diikuti merdeka.com, Senin (25/4).

Menurut Hendra, langkah kedua yaitu Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral akan memodernisasi peralatan-peralatan di gunung api. Salah satunya di Gunung Anak Krakatau.

"Kita akan memberdayakan hasil BPPTKG peralatan yang dikembangkan teknologinya untuk membantu sistem monitoring yang sudah di Gunung Anak Krakatau," kata Hendra.

Gunung Anak Krakatau Siaga

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebelumnya mengungkap penyebab Gunung Anak Krakatau (GAK) dari level dua atau siaga hingga berstatus level tiga atau siaga. Status level tiga itu setelah PVMBG melakukan pemantauan secara virtual dan aktivitas vulkanik.

"Memang sejak 15 April terutama secara virtual sudah terekam baik hembusan asap maupun tinggi erupsi kolom yang bervariasi dari 1.000 sampai 2 ribu dari permukaan air laut. Malahan 3 hari terakhir sudah mencapai 3 ribu meter," kata Kepala PVMBG Hendra Gunawan dalam diskusi virtual diikuti merdeka.com, Senin (25/4).

Hendra menjelaskan, dari data kegempaan terjadi peningkatan jumlah vulkanik GAK sejak Januari hingga 24 April 2022. Peningkatan jumlah vulkanik itu kemudian berulang dari bulan Februari hingga 15 April 2022.

"Kemudian berulang meningkat lagi pada bulan tanggal 15 April gempa vulkanik dalam diikuti oleh tremor menerus yang amplitudo tremornya semakin hari semakin meningkat. Jadi ini memang sudah ada kecocokan aktivitas secara visual maupun aktivitas kegempaan," kata Hendra.

Hendra mengatakan, dari pemantauan secara visual terlihat bagaimana kondisi tekanan yang ada di dalam tubuh GAK mulai terekam intensif sejak tanggal 21 April. Kemudian diikuti meningkatnya tinggi kolom abu 3 ribu meter dari permukaan laut.

"Kalau kita lihat dari pemantauan emisi gas SO2 ini terjadi peningkatan juga di mana pada 15 April gas SO2 dikeluarkan 68 ton per hari kemudian tanggal 17 April menjadi 181 ton per hari dan terakhir tanggal 23 April melonjak drastis menjadi 9 ribu ton per hari," ujar Hendra.

Hendra menambahkan, melihat kondisi tersebut dari hasil evaluasi dari semua aspek terhadap kebencaan yang mungkin diakibatkan oleh erupsi GAK ada kecenderungan akan meningkat. Oleh sebab itu Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menaikkan status GAK menjadi level siaga.

"Kita tidak pernah bisa memprediksi kondisi tapi yang kita lihat pola kecenderungan itu yang menjadi dasar sehingga pada 24 April pukul 18.00 WIB menaikkan status aktvitas GAK dari level 2 menjadi level 3 atau level siaga," kata dia. [gil]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel