Qadari Pede PDIP Cs Bakal Setuju Amandemen untuk Jokowi 3 Periode

·Bacaan 2 menit

VIVA – Penasihat relawan JokPro, M. Qadari optimis partai politik terutama PDI Perjuangan (PDIP) akan setuju dengan amandemen UUD 1945 terkait wacana Joko Widodo lanjut 3 periode sebagai Presiden RI. Menurut dia, parpol akan bersikap realistis.

"Karena mereka juga akan merealistis, mereka juga akan melihat cara berpikir dan arah dukungan dari masyarakat. Sampai sekarang tidak ada calon yang sangat populer," ujar Qadari dalam Kabar Petang tvOne yang dikutip VIVA pada Selasa, 22 Juni 2021.

Dia menjelaskan keyakinannya karena dinamika politik menuju 2024. Ia bilang beberapa parpol dengan suara besar seperti PDIP dan Golkar memiliki figur yang dijagokan jadi capres atau cawapres. Namun, figur yang digadang-gadang itu kecil kemungkinan menang.

"Begini, sekarang misalnya partai-partai yang punya kandidat ya misalnya, Partai Golkar dengan Pak Airlangga, surveinya berapa, oke kalau diperjuangkan, tetapi nanti kan ada sumber daya. Ada proses, dan belum tentu menang," jelas Qadari.

Baca Juga: Refly Harun Mau Galang Kampanye Jokowi Tidak 3 Periode

Pun, Qadari menyinggung peluang kemenangan PDIP bila setuju duet Prabowo Subianto dengan Puan Maharani di Pilpres 2024. Menurut dia, PDIP juga sudah berhitung jika Puan jadi cawapres dari Prabowo. Begitu peluang kemenangan juga ketika Puan diusung PDIP menjadi capres.

"Misalnya Prabowo-Puan, atau Puan calon presiden, bagaimana peluang PDIP untuk menang sebagai partai politik pemilu legislatif, apakah bisa diulangi dengan Puan menjadi calon presiden," tuturnya.

Bagi dia, jika duet Prabowo-Puan maka akan menguntungkan Gerindra. Sebab, dari teori efek ekor jas atau coattail effect, dengan Prabowo capres jelas berpengaruh terhadap Gerindra.

"Ada komplikasinya sendiri. Nanti akan menang adalah Pak Prabowo dan Partai Gerindra. Jadi, menurut saya dari kacamata PDIP misalnya ya yang lebih pasti menang pemilu legislatf itu tetap Pak Jokowi," sebut Qadari.

Kemudian, ia tak masalah bila elite parpol termasuk PDIP masih menolak wacana 3 periode. Sebab, ia merujuk suara rakyat yang nantinya juga akan jadi acuan parpol dalam bersikap.

"Ya, nggak papa, saya kan memang dakwahnya ke masyarakat, bukan ke politisi. Kalau masyarakat sudah mendukung, semua nanti akan ikut," tuturnya.

Dia mencontohkan pengalaman pentolan relawan Projo, Budi Arie Setyadi. Kata Qadari, Budi Arie dan relawan Projo saat itu mengusulkan Jokowi sebagai capres 2014. Namun, Budi Arie justru disemprot elite PDIP terutama Tjahjo Kumolo yang saat itu jabat Sekjen DPP PDIP.

"Kena marah oleh DPP PDIP, bahkan yang marah Pak Sekjen gitu loh. Tapi, kenyataannya apa? Pak Jokowi yang dicalonkan, malah kemudian, Pak Tjahjo Kulomo, Sekjen yang marahi Pak Arie tadi jadi menteri gitu loh. Dua kali," ujar Qadari.

"Saya hanya beri ilustrasi, saya nggak mau jadi menteri. Yang namanya elite itu di awal dia pasti akan normatif dulu. Tetapi, pada akhirnya dia akan realistis, melihat situasi dan kondisi masyarakat," jelas Qadari.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel