QRIS Bisa Jadi Senjata UMKM Masuk Ekosistem Digital

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta UMKM menjadi salah satu sektor ekonomi yang paling terdampak Covid-19. Untuk membawa UMKM mampu bertahan melewati pandemi Covid-19, sejumlah kalangan menyarankan untuk go digital.

Selain itu, hingga kini permasalahan umum yang dialami oleh UMKM adalah akses keuangan atau permodalan. Padahal, Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta saat ini fondasi digitalisasi Indonesia sebenarnya cukup kuat, untuk membantu UMKM dapatkan akses permodalan.

"Kita lihat pondasi digital Indonesia seperti penetrasi internet dengan digitalsiasi sebenarnya menjadi modal penting memperluas inkulisivitas keuangan untuk UMKM," katanya saat saat webinar tema 'UMKM Go Digital: Akselerasi Pertumbuhan dengan Melek Pembayaran Digital melalui QRIS dan Akses Permodalan' di Jakarta, Kamis (30/9/2021).

Namun demikian UMKM belum memanfaatkan digitalisasi padahal bisa memberikan solusi untuk masuk ke dalam akses keuangan formal.

Untuk itu ia mengatakan program standar kode QR Nasional QRIS QRIS dapat menajdi solusi bagi UMKM agar mampu menuju ekosistem keuangan formal.

Menurut Filianingsih UMKM bisa memulai akses pembayaran untuk meningkatkan kualitas UMKM agar mempermuah akses permodalan. Seperti penerapan QRIS dimana eksosistemnya sudah masuk keseluruhan ekosistem digital dimana bisa menjadi game changer bagi UMKM.

Dengan QRIS yang mempermudah akusisi data maka UMKM maka dengan mudah dapat di profiling oleh Bank Indonesia. Sehingga data transaksi pembayaran dapat digunakan sebagai credit scoring yang mendorong keyakinan bank/non bank untuk menyalurkan kredit.

"Ini bisa menjadi pintu masuk UMKM untuk masuk untuk pembayaran hingga permodalan," katanya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Masalah Lain

Pameran produk UMKM asal Banten di MaxxBox Lippo Village, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.  (dok: Pramita)
Pameran produk UMKM asal Banten di MaxxBox Lippo Village, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. (dok: Pramita)

Chandra Firmanto selaku Managing Partner PT Indogen Capital dalam kesempatan yang sama juga menambahkan, permasalahan yang sering dihadapi UKM atau UMKM di Indonesia adalah tidak dapat menentukan target pasar dengan benar. Dimana penentuan target pasar sangat penting untuk memulai bisnis dan mendapatkan transaksi penjualan yang bagus.

Ia menyampaikan bahwasanya dalam menentukan segmentasi pasar maka harus dimulai dari apa yang menjadi perhatian (Concern) para konsumen saat ini.

"Sebab orang-orang di kota-kota lapis 2 dan 3 telah melakukan bisnis dengan cara yang mapan selama beberapa dekade, oleh karena itu pemberian solusi digital yang tepat harus dimulai dengan berfokus kepada area pendapatan dan optimalisasi biaya, sebab 2 area tersebut merupakan bagian penting bagi para pebisnis terutama UMKM dan UKM untuk tetap naik kelas," ucapnya.

Kemudian, lanjutnya, hal kedua yang harus diperhatikan dalam menargetkan segmentasi pasar adalah utamakan hal-hal simple yang dapat memberikan value sesuai dengan pasar.

Seperti diketahui, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan signifikan dari perkembangan merchant QRIS. Pada triwulan I 2020 saat QRIS pertama kali dikenalkan, tercatat 3,08 juta merchant pengguna, kemudian naik menjadi 6,69 juta merchant di triwulan I 2021, lalu menjadi 7,85 juta merchant pada triwulan II 2021.

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Malang, Doddi Sartono menyampaikan bahwa perkembangan penggunaan QRIS (QR Code Indonesia Standard) di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang cukup menggembirakan.

Hal ini ditunjukkan dengan capaian merchant QRIS sebesar 103 persen atau 250.041 dari target sebanyak 238.000.

“Saat ini di KPwBI Malang dari target yang ditetapkan 2021 sebanyak 238.000 merchant QRIS saat ini telah kami capai 250.041. Jadi sudah 103 persen, Kita kedepan masih tetap berupaya terus mengenalkan, mengedukasi, merekrut supaya mempunyai kesempatan yang sama memiliki QRIS,” katanya.

Selain itu, Doddi mengakui bahwa porsi terbesar sebaran penggunaan QRIS merchant KPwBI Malang saat ini masih di sekitar kota dan kabupaten Malang yakni sebesar 72,23 persen. Hal ini karena letak wilayah dan iklim bisnisnya sehingga bisa menyerap QRIS sebagai sarana pembayaran.

“Kedepan kita juga akan ke daerah-daerah lain Bantul, Probolinggo agar akseptasi QRIS di masyarakat semakin meningkat,” tambahnya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel