Radhar Panca Dahana, Sastrawan yang Bakatnya Terlihat Sejak Sekolah Dasar

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kabar duka datang dari budayawan tanah air. Radhar Panca Dahana dikabarkan meninggal dunia. Kabar duka tersebut dibenarkan pihak keluarga.

Dilansir dari situs resmi Kementerian Pendidikan, Radhar Panca Dahana dikenal sebagai esais, sastrawan, kritikus sastra, dan jurnalis yang telah melahirkan banyak karya semasa hidupnya.

Pria yang lahir di Jakarta, 26 Maret 1965 telah menghasilkan puluhan esai, kritik, karya jurnalis, kumpulan puisi, naskah drama, pertunjukan teater, dan beberapa buku tentang teater telah dihasilkannya.

Radhar Panca Dahana memang dianugerahi bakat menulis. Ketika masih duduk bangku kelas lima sekolah dasar, ia sudah mampu menulis sebuah cerita pendek “Tamu Tak Diundang.” Karyanya itu dimuat oleh harian Kompas.

Kemampuan menulisnya itu mengantarnya menjadi seorang redaktur tamu majalah Kawanku.

Selama beberapa bulan, ia membantu menyeleksi naskah cerpen dan puisi yang masuk. Ia mulai mengarang cerita pendek, puisi, dan membuat ilustrasi ketika duduk di kelas tiga SMP. Beberapa karyanya, di antaranya, dimuat di majalah Zaman, yang waktu itu redakturnya adalah Danarto.

Pencapaiannya saat ini adalah mengelola rubrik “Teroka” di harian Kompas, memimpin Federasi Teater Indonesia, Bale Sastra Kecapi, dan Teater Kosong yang ia dirikan serta pengajar di Universitas Indonesia.

Kini, Radhar Panca Dahana menetap di Tangerang bersama istri dan seorang anaknya.

Ketika Arswendo Atmowiloto membuat Koma (Koran Remaja) pada akhir 1970-an, Radhar turut terlibat sebagai reporter dan menandai kiprahnya sebagai jurnalis. Ia mencantumkan nama aslinya Radhar sebagai reporter dan Reza sebagai penata artistik.

Pada periode itu produktivitasnya mengarang cerpen remaja sangat tinggi. Waktu itu terbit berbagai majalah kumpulan cerpen di Jakarta, seperti Pesona dan Anita, menjadi tempat penampungan karyanya.

Cerpen Radhar Panca Dahana kala itu juga mengisi media massa cetak, seperti majalah remaja Gadis, Nona, dan Hai, bahkan, majalah dewasa, seperti Keluarga, Pertiwi, dan Kartini. Karier Radhar sebagai jurnalis pemula semakin berkembang ketika ia diterima bekerja di harian Kompas.

Valens Doy, wartawan senior berpengaruh, menempatkannya sebagai pembantu reporter atau reporter lepas. Ia diminta menulis rubrik apa saja: olahraga, kebudayaan, pendidikan, berita kota tentang kriminalitas, dan hukum.

Akan tetapi, pekerjaannya sebagai jurnalis terhenti saat orang tuanya tidak mengizinkannya bekerja. Radhar harus kembali ke bangku sekolah. Pendidikan SLTA-nya (melalui SMA 11 Jakarta, SMA 46 Jakarta, dan sebuah SMA di Bogor) dihabiskan dalam waktu enam tahun.

Meninggal Dunia

Kini Radhar Panca Dahana telah tiada. Dia dikabarnya meninggal dunia di ruang IGD RSCM.

Rencananya jenazah akan dibawa ke rumah duka di Pamulang, Tangerang Selatan.

"Mohon maaf atas semua kesalahan dan dosanya. Mohon doa agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya," ujar Radhar Tribaskoro melalui pesan berantai yang diterima Liputan6.com, Kamis (22/4/2021).

Saksikan video pilihan di bawah ini: