Radhar Panca Dahana Tutup Usia, Berikut Profil Sang Budayawan

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kabar duka kembali menyelimuti dunia seni Tanah Air. Budayawan sekaligus seniman Radhar Panca Dahana dikabarkan meninggal dunia pada Kamis malam, 22 April 2021 pukul 20.00 di Jakarta.

Menurut kabar yang disebarkan oleh kakak kandung sastrawan itu, Radhar Tribaksoro, RS Cipto Mangunkusumo menjadi tempat Radhar Panca Dahana menghembuskan napas terakhirnya.

"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, Telah berpulang malam ini pk. 20.00 adik saya tercinta Radhar Panca Dahana di UGD RS Cipto Mangunkusumo," kata Tribaskoro dalam akun media sosial Facebooknya Kamis malam

Tribaskoro meminta kepada masyarakat Indonesia membantu doa untuk sang adik yang telah berpulang. Dia juga meminta agar kesalahan Radhar Panca Dahana dimaafkan.

"Mohon maaf atas semua kesalahan dan dosanya. Mohon doa agar ia mendapat tempat yang terbaik di sisiNya. Aaminn YRA," sambungnya.

Lantas, siapa sebenarnya sosok Radhar? Berikut rangkumannya.

Lulusan UI

Menyelesaikan studinya di sekolah menengah atas selama enam tahun, serta menjadi sosok pemberontak sejak kecil, nyatanya membentuk kepribadian yang teguh pada sosok Radhar. Saat lulus SMA, harapan Radhar masuk ke Universitas Padjajaran harus pupus.

Namun, ia tetap gigih mencoba hingga akhirnya diterima diperguruan tinggi lain, yakni universitas Indonesia (UI). Radhar menyelesaikan mata kuliah sosiologi UI hanya dalam kurun 2,5 tahun.

Jurnalis

Siapa sangka, Radhar remaja pernah menjalani perannya sebagai seorang jurnalis. Sekiytar akhir tahun 1970-an, Radhar terlibat sebagai reporter dalam Koran Remaja buatan Arswendo Atmowiloto. Karya-karya tulisnya tertuang dalam cerpen remaja yang akhirnya terbit di berbagai majalah di ibu kota.

Profesi jurnalis kian digeluti saat ia menjadi reporter pemula di sebuah media cetak. Radhar pun diminta mengisi beragam rubrik. Di tengah kesenangannya di dunia jurnalistik, Radhar terpaksa berhenti lantaran orangtuanya tak mengizinkannya bekerja agar tetap melanjutkan sekolah.

Tinggal di Prancis

Tahun 1997 menjadi momen Radhar yang gigih meraih studi di negeri orang. Prancis menjadi negara yang ia tuju. Studinya sendiri berada di Ecole des Hautes Etudes en Science Sociales, dengan meriset postmodernisme di Indonesia. Alih-alih menyelesaikan pendidikan doktoralnya, Radhar memilih pulang ke Tanah Air lantaran di tahun yang sama tengah terjadi kekacauan politik.

Seniman aktif

Radhar Panca kerap dikenal sebagai salah satu seniman yang aktif memperjuangkan nasib Taman Ismail Marzuki (TIM). Selain itu, sosoknya turut bergabung dalam Forum Seniman Peduli TIM. Terlebih, Radhar Panca menyoroti rencana pengelolaan TIM yang dibuat oleh Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Vonis gagal ginjal

Kondisi Radhar sempat menurun drastis. Ia dilanda stres lantaran divonis idap gagal ginjal kronis. Penyakit ini membuat fungsi organ ginjalnya perlahan menurun hingga akhirnya tak bisa lagi bekerja. Bahkan, dokter sempat menyatakan kedua ginjalnya sudah tak mampu lagi beroperasi.

Meninggal usai cuci darah

Penyakit gagal ginjal kronis itu membuat Radhar harus rutin menjalani pengobatan cuci darah. Ternyata, usai perawatan cuci darah di RSCM, Radhar menghembuskan napas terakhirnya.