Rahasia PTPN V Semakin Digdaya pada Masa Pandemi Covid-19

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Pekanbaru - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) V membukukan pendapatan unaudit hingga Rp5,3 Triliun sepanjang 2020 atau hampir 27 persen lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya, Rp4,18 Triliun. Raihan ini menasbihkan kinerja PTPN V tetap mumpuni dimasa sulit pandemi Covid-19.

Chief Executive Officer PTPN V Jatmiko K Santosa mengatakan, raihan ini merupakan hasil kerja keras atas transformasi selama dua tahun terakhir. Di mana sejak tahun 2019 perusahaan menancapkan pondasi kuat untuk perubahan lebih baik.

"Ketaatan pada aturan, validitas data, transformasi digital, dan kembali ke khittah kita sebagai perusahaan perkebunan negara yang hadir untuk sawit rakyat, membantu kita dapat mengarungi tahun 2020 dengan baik hingga mencatatkan hasil yang positif," kata Jatmiko di Pekanbaru.

Jatmiko menjelaskan, pendapatan yang diraih pada 2020 itu juga tercatat melampaui target pemegang saham yang mematok pendapatan sebesar Rp4,6 triliun. Angka ini 14,37 persen melebihi ekspektasi shareholders.

Dari pendapatan tersebut, Jatmiko mengatakan PTPN V berhasil mencatatkan Net Profit Margin 7,6 persen sehingga laba setelah pajak unaudit mencapai Rp405 miliar. Angka itu juga melonjak jauh dari raihan tahun sebelumnya sebesar Rp67,29 miliar.

"Kita bersyukur dari segi finansial laba setelah pajak tahun 2020 mencapai Rp405 miliar dan ini adalah rekor tertinggi sepanjang 12 tahun terakhir," ungkap Jatmiko.

Pencapaian finansial tersebut tidak terlepas dari produktivitas perusahaan yang juga mencatatkan rekor tertinggi.

"Alhamdulillah produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sawit kita tertinggi sepanjang sejarah PTPN V berdiri mencapai 23,87 ton per hektare pertahun atau 0,46 persen di atas RKAPP dan meningkat 0,81 persen dibanding tahun sebelumnya," ujar Jatmiko.

Lampau Target

Peningkatan produktivitas tersebut berbanding lurus dengan produksi TBS yang mencapai 1,59 juta ton di sepanjang 2020 atau meningkat dari tahun 2019 yang 1,46 juta ton.

Sedangkan untuk produk utama seperti CPO dan PKO, PTPN V telah memproduksi hingga 544.010 ton CPO dan 107.875 ton PKO (palm kernel oil/minyak inti sawit) dengan masing-masing rendemen mencapai 21,39 persen atau 4,24 persen.

Sebagai perusahaan yang tumbuh bersama petani rakyat, PTPN V konsisten menyerap 950.783 ton TBS dari para petani mitra. Angka itu melengkapi total TBS yang diolah pabrik kelapa sawit PTPN V, baik dari kebun inti maupun dari para petani mitra dan pembelian pihak ke III yang mencapai 2,54 juta ton di sepanjang 2020.

"Alhamdulillah, praktis semua target 2020 terlampaui. Pendapatan, produktivitas, rendemen, pembelian TBS. Insya Allah PTPN V menjadi satu-satunya PTPN yang melewati semua parameter," kata Jatmiko.

Jatmiko mengucapkan terimakasih atas tekad, semangat, dan perjuangan semua karyawan. Diapun menyatakan perusahaan optimis menatap 2021 termasuk rencana pemegang saham untuk menjadikan PTPN V sebagai perusahaan perkebunan negara yang perdana sahamnya dilepas kepada publik.

Lebih jauh, ia mendeskripsikan obituari PTPN V di tahun 2020 adalah program berkesinambungan sejak 2019. Menurutnya, Perusahaan tidak sekedar ingin bertahan di tengah pandemi, namun terus berupaya tumbuh dan menggerakkan ekonomi masyarakat melalui implementasi berbagai program

Di antaranya PTPN V untuk Sawit Rakyat yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan petani. Sehingga saat pandemi melanda di tahun 2020, perseroan dapat bergerak cepat mengambil peran dalam mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang dicanangkan pemerintah.

"Hingga 2020, tak kurang 8.900 hektare perkebunan sawit rakyat dari 33 Koperasi Unit Desa yang telah diremajakan oleh PTPN V. Hingga 2023 kita akan sampai 21 ribu Hektare," jelas Jatmiko.

Single Manajemen

Menurutnya, pola single manajemen dan keberanian PTPN V dalam memberikan jaminan dan transparansi pembiayaan, jaminan bibit unggul dan jaminan produktivitas kepada para petani, menjadi alasan utama bagi para petani untuk meremajakan sawit mereka kepada perusahaan.

"Kita berikan jaminan produktivitas. Jika produktivitas sawit mitra berada dibawah standar nasional, kita ganti! 2019 kemarin, rerata produktivitas petani kita mencapai 23,25 ton TBS per hektare pertahun," kata Jatmiko.

Selain itu, Jatmiko juga menjelaskan jika perusahaan yang 100 persen telah mengantongi sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) tersebut turut menyiapkan bibit unggul bersertifikat bagi para petani.

Dia menjelaskan, PTPN V telah membangun tujuh sentra yang menampung 1,5 juta bibit unggul dan siap untuk dilepas ke petani sawit Riau dengan harga yang murah.

Program lainnya, PTPN V juga memboyong teknologi pemetaan geospasial ke tengah perkebunan sawit plasma. Penggunaan teknologi drone dimaksudkan agar mendapatkan data yang presisi sehingga petani tidak salah mengambil langkah dalam berkebun.

"Saat ini realisasi peremajaan sawit rakyat PTPN V adalah yang terbesar di lingkungan perkebunan negara, dan program PSR kita menjadi rujukan bagi PTPN grup. Bahkan, GAPKI turut mendukung dan mengapresiasi program yang telah kita jalankan saat ini," paparnya.

Tidak hanya berfokus pada sawit rakyat yang memang memegang porsi besar dalam industri sawit nasional, di tahun 2020 PTPN V juga menggandeng para UMKM lokal untuk menggerakkan roda ekonomi masyarakat. Seperti mengadakan kontrak kerjasama dengan pandai besi setempat untuk memasok seluruh alat panen Perusahaan.

"Tahun 2020 tahun perjuangan karena pandemi Covid-19 mengubah semuanya. Tapi PTPN V akan senantiasa menempuh berbagai langkah untuk dapat menjadi bagian dalam program pemulihan ekonomi nasional (PEN) yang tengah digalakkan pemerintah," ucap Jatmiko.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: