Rahayu Berharap Suaminya Bukan Teroris

Laporan wartawan Harian Surya, Sudarmawan

TRIBUNNEWS.COM,MADIUN-- Agus Anton Figiyan (32) warga RT 19, RW 09, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun tak dapat berkutik saat ditangkap anggota Densus 88 di kampung halamannya, Jumat (26/10) sekitar pukul 23.00 WIB.

Bapak 4 anak ini, langsung digelandang dan dibawa anggota Densus 88 tanpa sepengetahuan istrinya, Ny Rahayu Ningsih (32) dan keempat anaknya.

Bahkan, istri Agus mengaku jika sampai saat ini putus kontak dengan suaminya. Alasannya, selain tidak hafal nomor ponselnya, Hand Phone (HP) miliknya juga dibawa suaminya.

Selain itu, dia mengetahui suaminya tidak berada di rumah saat terbangun pagi, Sabtu (27/10) sekitar pukul 04.30 WIB. Pasalnya, suaminya yang sebelumnya menemani anak ketiganya tidur, tidak berada di tempat.

Selain itu, rumah besar yang digunakan usaha mebeler itu, juga dikunci dari luar. Beruntung, istri Agus masih memiliki kunci lainnya.

"Saya tidak tahu, kemana suami saya yang jelas kemarin malam usai membenahi talang rumah, setelah salat isya' masih menemani anak ketiga saya tidur di dalam rumah. Tahu-tahunya pagi dia tak ada, rumah dikunci dari luar dan HP saya juga dibawa suami saya," terang Ny Rahayu Ningsih kepada Surya, Sabtu (27/10).

Selain itu, Ny Rahayu megaku jika selama ini tidak pernah kenal satu per satu teman dan rekan suaminya. Alasannya, selama ini menganggap teman suaminya itu, merupakan rekan bisnis dalam usaha mebeler atau penjual kayu jati.

Rahayu menceritakan jika di dalam rumah yang dijadikan usaha mebeler itu merupakan warisan ayah kandungnya, Mbah Demo (55). Pasalnya, sejak lulus Fakultas Mipa jurusan Kimia dari Universitas Negeri Jember (Unej) Tahun 2004 lalu, suaminya belum pernah bekerja dimana-mana, kecuali meneruskan usaha orangtuanya itu.

Usaha itu, diteruskan suaminya setelah lulus kuliah Tahun 2004. Bahkan sejak menikah Tahun 2001 lalu, suaminya dan Rahayu Ningsih masih sama-sama sebagai Mahasiswa Unej. Hanya saja, Rahayu Ningsih dari FKIP jurusan Biologi.

"Suami saya lulus dan saya lulus di Tahun 2004 di bulan yang tak sama, akhirnya baru kami pindah ke Madiun meneruskan usaha Bapak saya ini. Suami saya sejak lulus tak pernah kerja kemana-mana lagi," ungkapnya.

Selama menikah hampir 11 tahun itu, kata Rahayu sudah dikaruniahi 4 orang anak yang masih kecil-kecil. Diantaranya, Lilin Aljazirah (9,5) siswi kelas IV MI, Refina Aljazirah (7,5) siswi kelas II MI, Safirah Aljazirah (3) serta Aisyah Aljazirah (3 bulan) yang masih dalam pangkuannya saat Surya mendatangi rumahnya.

"Tolong diberi tahu suami saya ada masalah apa kok ditangkap polisi, kasihan anak - anak saya yang masih kecil-kecil ini," ungkap ibu berjilbab ini.

Suaminya, kata Rahayu selama ini melarang dirinya memajang fotonya di rumah yang ditempatinya itu. Alasannya, hal itu bakal mempersulit malaikat masuk rumahnya.

Oleh karenanya, di rumah itu tidak ada foto yang dipasang dan di pajang di dinding. Akan tetapi, di balai rumah itu ada 3 pigora besar yang berisi kliping tulisan 18 Tingkat Manusia di Akhirat, Indahnya Surga Dahsyatnya Neraka, serta Hidup Sesudah mati.

"Sudah tak ada foto-foto suami saya. Karena dilarang dipajang di dinding rumah. Yang ada hanya foto di ijazah dan surat nikah," ungkapnya.

Menurut Rahayu suaminya itu, asalnya dari Wuluhan, Kabupaten Jember. Selama ini, merupakan suami yang penyayang terhadap istri dan anak-anaknya. Bahkan dari keempat anaknya itu, tidak ada yang pernah dimarahinya.

"Jangankan marah membentak saja suami saya tidak pernah," anak pertama Mbah Demo dari 5 bersaudara ini menjelaskan.

Kendati demikian, Rahayu berharap jika kabar penangkapan suaminya yang diduga masuk dalam jaringan terorisme itu tidak benar. Pasalnya, dia tak mengetahui semua sepak terjang suaminya diluar rumah.

"Mudah-mudahan bukan suami saya, kasihan anak-anak saya. Dia suami yang sangat baik dan perhatian," pungkasnya.

Sementara, salah seorang tetangga Agus Anton Figiyan mengaku jika selama ini, Agus dikenal sangat baik dan ramah terhadap seluruh tetangganya.

"Dia sangat baik tak pernah macam-macam atau neko-neko," ungkap perempuan di kanan rumah mebeler itu.

Sedangkan, salah seorang pekerja mebeler di rumah Agus Anton Figiyan, Wawan (28) mengaku jika selama ini bosnya tergolong sebagai orang yang baik dan perhatian terhadap anak buahnya. Oleh karenanya, 3 anak buahnya yang membuat mebeler mulai dari kursi, meja, hingga buffet selalu loyal dan tetap bekerja di mebeler milik Agus itu.

"Bapak (Agus) orangnya baik dan perhatian terhadap kami," tandasnya.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.