Rahim untuk Disewakan: Kisah Ibu Pengganti di India

Oleh Beatrice Le Bohec | AFP News

Saat Lili merayakan ulang tahun pertamanya di Australia, jauh di India ibu penggantinya mengenang hari ketika Lili dilahirkan.

Seita Thapa, seorang wanita India, melahirkan Lili di klinik Surrogacy Centre India di New Delhi pada Februari 2012. Seita menyewakan rahimnya kepada pasangan gay yang menggunakan telur dari wanita lain.

Seita mengatakan, klinik itu memberikan kursus yang “mempersiapkan kami secara mental untuk menyadari fakta bahwa bayi yang kami lahirkan bukanlah anak kami.”

Jasa komersial ibu pengganti adalah industri yang sedang naik daun di India. Banyak pasangan asing yang tidak memiliki anak mencari cara murah dan mudah untuk menjadi orangtua.

Meskipun pemerintah India mendorong negara itu sebagai tujuan wisata medis, masalah orang asing kaya yang membayar penduduk India yang miskin untuk memiliki bayi telah menimbulkan kekhawatiran etis dalam pikiran orang India tentang "pabrik bayi".

Konfederasi Industri India, sebuah asosiasi bisnis terkemuka, memperkirakan industri tersebut sekarang menghasilkan lebih dari $2 miliar (sekitar Rp19,4 triliun) pada pendapatan per tahun.

Dalam upaya membungkam pihak pengkritik, India baru-baru ini mengeluarkan aturan pelarangan pasangan gay dan single dari luar negeri menggunakan ibu pengganti, yang menyebabkan kritik tajam dari pendukung hak dan klinik kesuburan yang menyebut langkah itu diskriminatif, tetapi industri itu terus berjalan tanpa peraturan khusus.

Pemilik klinik menyangkal perlakuan buruk terhadap ibu, mengatakan itu adalah kepentingan mereka untuk memperlakukan wanita dengan baik agar mereka memiliki bayi yang sehat.

Thapa (31), yang memiliki rambut hitam legam dan mata gelap khas orang dari timur laut India, mengatakan dia tidak memiliki keraguan apa yang dia lakukan adalah benar dengan membiarkan pasangan Australia menggunakan rahimnya untuk memenuhi impian mereka menjadi orang tua.

"Saya ingin menjadi ibu pengganti karena ingin menyetorkan uang ke rekening untuk anak-anak saya demi masa depan mereka. Saya juga ingin membantu orang yang tidak bisa punya anak," kata Thapa.

"Saya bangga telah melahirkan seorang bayi yang cantik.”

"Bayi dan orang tuanya saya doakan selamanya. Saya merasa seperti bagian dari keluarga," ujar mantan juru masak itu, mata cerahnya tiba-tiba berlinang air mata.

Dia menolak mengatakan berapa banyak uang yang dia peroleh dari menjadi ibu pengganti. Klinik itu mengatakan kepada AFP bahwa para ibu mendapatkan $6.000 (sekitar Rp58 juta) dari total biaya prosedur 28.000 dolar Amerika (sekitar Rp271 juta).

Selama kehamilannya, Thapa tinggal bersama suaminya di akomodasi di New Delhi yang disewa oleh klinik Surrogacy Centre India, bersama lebih dari 100 ibu pengganti lainnya.

Anak Thapa sendiri berada di kampung halaman mereka di Darjeeling dan tidak pernah tahu ibu mereka sedang hamil.

"Saya tidak memberitahu mereka agar sekolah mereka tidak terganggu," katanya.

Pada 2012, sebanyak 291 bayi lahir di klinik yang dibuka pada 2008 tersebut. Mereka sekarang tinggal di 15 negara yang berbeda, termasuk Kanada, Australia, Jepang, Norwegia dan Brasil.

Di New Delhi dan di India, ada puluhan klinik seperti Surrogacy Center tetapi banyak menolak untuk membuka pintu mereka kepada media.

Menurut Dr Shivani Sachdev Gour, direktur Surrogacy Center, perempuan yang direkrut tidak pernah ingin memiliki bayi yang mereka kandung selama sembilan bulan. "Mereka punya anak sendiri, mereka sudah selesai membangun keluarga mereka," katanya. Gour mengatakan, para pengkritik ibu pengganti adalah "bodoh."

"Mereka harusnya datang ke sini untuk bertemu dengan orangtua yang bermimpi memiliki anak. Bagaimana mereka bisa menolak pasangan untuk mendapatkan hak ini?"

Marcia (40), warga asal Brasil yang tinggal di Luksemburg, adalah salah satu kasusnya.

Setelah mencoba selama tiga tahun, Marcia baru saja tiba dengan suaminya di New Delhi untuk menandatangani kontrak dengan klinik.

Dia mengatakan awalnya akan mencoba memberikan embrionya sendiri dan ditransfer ke dalam rahim ibu pengganti tapi kalau hal itu gagal, ia akan memilih "donasi telur".

"Pada awalnya sulit untuk membiasakan diri dengan gagasan wanita lain mengandung anak saya, tetapi jika ini adalah satu-satunya solusi, maka kami akan memiliki bayi dengan cara ini. Seperti mukjizat,” kata Marcia.

Mamta Sharma (29) dari salah satu negara bagian termiskin di India, Uttar Pradesh, telah menjadi ibu pengganti dua kali, terakhir tahun lalu untuk pasangan Australia.

"Hidup saya berubah dengan uang yang saya punya," kata ibu empat anak yang menggunakan honornya sebagai ibu pengganti untuk membeli rumah baru.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.