Raker dengan DPR RI, Mentan SYL Tegaskan Serius Garap Porang dan Walet

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) menegaskan bahwa komoditas porang dan sarang burung walet merupakan komoditas prioritas yang akan digarap serius untuk memenuhi kebutuhan ekspor. Terutama ke pasar China dan negara-negara lain di Asia dan Eropa yang memiliki harga jual tinggi.

"Harus diakui bahwa harga yang paling mahal saat ini adalah ke negara China. Bukan berarti negara-negara lain tidak, tetapi yang harganya mahal itu ke Cina," ujar Mentan saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI, Rabu, 25 Agustus 2021.

Meski jadi negara tujuan, kata Mentan, saat ini China mulai selektif terhadap barang ekspor yang diterimanya. Bahkan mereka mulai melakukan tracking terhadap komoditas porang dan walet untuk memastikan dua komoditas tersebut dalam keadaan mulus dan berkualitas.

"Mereka melakukan tracking mulai dari mana sarang burungnya, dari mana lahan penanamannya, di mana rumah processing-nya, di mana rumah industri pengolahannya sampai di mana tempat pengeringannya. Intinya mereka sangat menjaga bahwa dua komoditi ini kalau tidak bersih banget dan tidak sesuai dengan persyaratan yang mereka punya, maka mereka tidak akan beli," katanya.

Karena itu, Mentan meminta dukungan Komisi IV DPR RI dan seluruh stakeholder lainya untuk membuka ruang konsultasi dalam menjadikan porang dan walet sebagai komoditas unggulan Indonesia yang bisa memperkuat perekonomian negara.

"Dua tahun ini porang dan walet baru kami garap secara serius. Tapi bukan berarti porang adalah komoditas baru. Porang itu adalah tanaman liar yang berada di hutan-hutan. Kedua adalah sarang burung walet yang secara perlahan tapi pasti bisa kita tangani untuk ekspor," katanya.

Potensi Porang

Di sisi lain, pemerintah juga mendorong proses hilirisasi sampai pembuatan produk olahan bernilai tinggi seperti tepung porang, beras porang, kue porang dan produk kosmetik yang dibuat dengan bahan baku porang.

"Selain itu porang juga memberi nilai kesejahteraan tinggi terhadap petani, di mana hasil Musim Tanam (MT) 1 per 8 bulan bisa menghasilkan Rp40 juta, kemudian pada MT 2 bisa menghasilkan Rp80 juta. Apalagi tanaman ini bisa ditumpangsarikan dengan tanaman pisang yang memiliki masa panen 7 bulan. Artinya, ini potensi yang besar yang bisa memberi kemakmuran," tutupnya.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel