Rakyat Selandia Baru dukung eutanasia, legalisasi ganja masih belum jelas

·Bacaan 2 menit

Wellington (AFP) - Warga Selandia Baru telah memberikan suara yang sangat besar untuk melegalkan eutanasia, demikian hasil referendum pendahuluan yang dirilis Jumat. Saat bersamaan pemungutan suara lain untuk melegalkan penggunaan ganja tanpa rekomendasi medis (recreational cannabis) sepertinya bakal gagal.

Referendum ganda diadakan pada 17 Oktober, bersamaan dengan pemilihan umum yang mengembalikan Perdana Menteri Jacinda Ardern ke tampuk kekuasaan setelah meraih suara terbanyak.

Angka awal menunjukkan 65,2 persen pemilih mendukung eutanasia, sedangkan 33,8 menentang. Sementara itu 53,1 persen menentang legalisasi ganja tanpa rekomendasi medis, dibandingkan dengan 46,1 persen yang mendukungnya.

Angka awal itu tidak termasuk suara-suara khusus -termasuk surat suara yang diberikan di luar negeri- yang menyumbang hampir 20 persen dari total suara dan masih bisa memungkinkan hasil referendum ganja sejalan dengan hasil referendum euthanasia.

Namun demikian, dukungan yang luar biasa untuk eutanasia mengartikan aturan itu bakal lolos, terlepas dari bagaimana suara khusus itu dibagi manakala angka-angka akhir dirilis Jumat depan.

Hasil referendum eutanasia mengikat, sedangkan referendum ganja tidak.

Legislasi yang membolehkan kematian yang dibantu secara medis itu disahkan parlemen tahun lalu tetapi parlemen menunda penerapannya sampai rakyat bersuara lewat referendum.

Berdasarkan undang-undang itu, orang dewasa yang sehat secara mental yang memiliki penyakit mematikan yang kemungkinan besar bakal membunuhnya dalam waktu enam bulan dan tengah mengalami "penderitaan tak terperikan" bisa meminta dosis medis fatal.

Permintaan harus ditandatangani oleh dokter pasien dan dokter independen, dengan psikiater dipanggil jika salah satu dari mereka meragukan kemampuan orang itu dalam membuat keputusan yang tepat.

Menteri Kehakiman Andrew Little mengatakan UU itu akan mulai berlaku November tahun depan.

Ardern mendukung RUU hak mati itu dengan menyatakan dia tahun lalu enggan menyetujui referendum karena itu adalah satu-satunya cara dalam memajukan undang-undang tersebut.

Dia malu-malu selama kampanye pemilu tentang sikapnya menyangkut ganja tanpa rekomendasi medis, meskipun wanita berusia 40 tahun itu mengaku sejak lama merokok ganja.

Kantor Ardern pada Jumat memastikan bahwa dia telah memilih "ya" dalam kedua referendum.

Dia "akan mendukung setiap undang-undang yang sesuai dengan keinginan rakyat menyusul keluarnya hasil akhir pekan depan", kata juru bicara Ardern.

Di bawah undang-undang ganja yang diusulkan itu, siapa pun yang berusia di atas 20 tahun bisa membeli maksimum 14 gram ganja per hari, dan setiap keluarga boleh menanam paling banyak empat pohon ganja.

Ganja tanpa rekomendasi medis tetap ilegal jika suara "tidak" masih di atas 50 persen Jumat depan.


ns/dm/jah