Rakyatnya Kurang Makan Tapi Pemerintahnya Takut dengan Kata 'Kelaparan'

Merdeka.com - Merdeka.com - Satu anak gizi buruk parah dibawa ke klinik di Somalia rata-rata setiap menit setiap hari. Jutaan orang Somalia terancam kelaparan, bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dipicu kekeringan terburuk dalam empat dasawarsa.

Kendati krisis ini sangat parah, pemerintah Somalia enggan mengumumkan negaranya menghadapi kelaparan. Demikian menurut wawancara dengan pejabat pemerintah, petugas lembaga bantuan, dan pengamat yang mengetahui pembahasan internal pemerintah.

Padahal, kata petugas lembaga bantuan, pengumuman kelaparan itu bisa memperbanyak aliran bantuan dan perhatian dari pendonor Barat yang saat ini lebih fokus pada perang di Ukraina.

Presiden Somalia, Hassan Sheikh Mohamud yang berkuasa sejak Mei lalu, menolak penetapan bencana kelaparan karena sejumlah alasan. Alasan pertama dan utama, pemerintah khawatir hal itu dapat merusak kepentingan publik yang sekarang dimainkan kelompok teroris Al Shabab. Pemerintah juga khawatir pengumuman itu dapat mendorong eksodus masyarakat dari wilayah terdampak ke kota-kota besar, mengurangi sumber daya yang sudah sedikit dan memicu meningkatnya kriminalitas.

"Risikonya terlalu besar untuk mengumumkan kelaparan," kata Presiden Mohamud pada September lalu, dilansir The New York Times.

Dia menambahkan, pengumuman itu tidak hanya berdampak pada korban kelaparan tapi juga menghentikan pembangunan.

Darurat kelaparan ini tidak hanya terjadi di Somalia dengan populasi 16 juta jiwa, tapi diperkirakan 37 juta orang di kawasan Tanduk Afrika juga terdampak. Salah satu penyebab utama krisis ini adalah perubahan iklim.

Para petugas lembaga bantuan di Somalia takut kejadian 2011 terulang kembali, ketika ratusan ribu orang meninggal karena kelaparan.

"Pemerintah takut dengan "F-word" - famine (kelaparan)," kata seorang petugas bantuan yang meminta tidak disebutkan namanya.

"Tapi situasinya sangat parah dan semakin lama mereka menunggu, bakal semakin buruk."

Penetapan bencana kelaparan bisa dilakukan jika 20 persen rumah tangga di wilayah tersebut mengalami kekurangan makanan ekstrem, jika 30 persen anak-anak menderita gizi buruk parah, dan jika dua orang dewasa atau empat anak-anak dari setiap 10.000 orang meninggal setiap hari karena kelaparan. Penetapan kelaparan ini hanya bisa dilakukan pemerintah dan badan-badan PBB.

Cuaca ekstrem

Tinjauan terakhir terkait situasi di Somalia diterbitkan pada September lalu, memproyeksikan kelaparan bakal terjadi di dua distrik di kawasan Bay selatan antara Oktober dan Desember, dan kekeringan parah akan berlangsung sampai awal tahun depan.

Cuaca ekstrem yang kerap dikaitkan dengan perubahan iklim, memperparah kondisi di Somalia dalam beberapa tahun terakhir, menyebabkan kekeringan parah, kelaparan, kemiskinan, dan pengungsian di dalam negeri. Negara ini diprediksi mengalami lima musim hujan bercurah rendah, berdampak gagal panen.

Di beberapa daerah, harga bahan pangan naik tiga kali lipat disebabkan gagal panen, terganggunya pasokan karena pandemi dan dampak perang Rusia-Ukraina. Karena kekeringan berlangsung lebih lama dan berdampak pada lebih banyak orang dan daerah daripada 2011, para ahli khawatir krisis tahun ini bisa menyebabkan lebih banyak orang meninggal.

Klinik dan rumah sakit di seluruh Somalia melaporkan jumlah pasien anak-anak gizi buruk naik dua kali bahkan tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu, menurut UNICEF. PBB juga memperingatkan lebih dari setengah juta anak-anak terancam meninggal.

Para petugas lembaga bantuan mengatakan mereka sedang berpacu dengan waktu agar tidak semakin banyak warga Somalia yang meninggal karena kelaparan seperti bencana 2011.

"Satu anak meninggal itu terlalu banyak, apalagi ratusan," jelas Nimo Hassan dari Somali Nongovernmental Organizations Consortium. [pan]