Ramadan: Antara Puasa, Belanja dan Perekonomian

Dian Lestari Ningsih, heroekoes
·Bacaan 4 menit

VIVA – Bulan Ramadan telah tiba dan bagi umat muslim bulan Ramadan adalah saatnya menjalankan kewajiban berpuasa selama satu bulan penuh. Berpuasa menurut KBBI merupakan salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yang membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Menahan diri adalah inti dari berpuasa. Karena seharian menahan diri dari makan dan minum, maka saat menjelang maghrib banyak diantara kita yang “lapar mata” dan tidak mampu mengontrol keinginan untuk membeli segala macam makanan dan minuman yang mulai banyak bertebaran di pinggir jalan.

Berburu takjil adalah hal yang jamak dilakukan oleh masyarakat Indonesia selama Ramadan. Berbagai macam makanan dan minuman yang menggugah selera diborong dengan harapan nantinya akan dimakan saat berbuka puasa.

Selain itu Ramadan juga identik dengan lonjakan belanja aneka macam kebutuhan rumah tangga. Lonjakan tersebut meliputi meningkatnya jumlah barang maupun jenis barang yang dibeli. Barang-barang yang bersifat keinginan seolah berubah menjadi kebutuhan untuk dibeli. Inilah yang menyebabkan perubahan pola konsumsi selama Ramadan.

Perubahan Pola Konsumsi

Pola konsumsi masyarakat di Indonesia selama Ramadan banyak mengalami perubahan. Perubahan itu lebih disebabkan karena faktor psikologis. Karena berpuasa, orang cenderung merasa bahwa asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya cenderung berkurang. Sehingga muncul keinginan untuk mengganti kekurangan yang dirasakan selama siang dengan menggantinya pada saat malam setelah berbuka puasa.

Fenomena yang terjadi adalah banyak rumah tangga yang berusaha menyediakan menu spesial hampir selama Ramadan. Menu makan yang biasanya dikonsumsi sebelum Ramadan akan berubah menjadi lebih lengkap, dengan aneka tambahan makanan pembuka dan juga makanan penutup.

Aneka sajian es, mulai dari es buah, es kelapa muda, sampai es teh lengkap terhidang di meja. Beraneka lauk pauk dan sayuran dihidangkan saat berbuka. Padahal saat tidak berpuasa, hidangan makanan dan minuman saat makan siang atau malam bagi kebanyakan masyarakat kita adalah menu seadanya saja, bukan menu yang diada-adakan.

Selama Ramadan permintaan buah dan aneka pelengkapnya cenderung meningkat. Orang cenderung melengkapi hidangan untuk berbuka. Yang biasanya tidak makan kurma, jadi membeli kurma. Yang biasanya makan tanpa buah, jadi membeli buah.

Yang biasanya makan tanpa es kelapa muda jadi membeli kelapa muda, dan masih banyak lagi perubahan pola konsumsi yang cenderung meningkat selama Ramadhan tersebut. Belum lagi persiapan menjelang lebaran.

Persiapan yang dilakukan menjelang lebaran pun tidak kalah heboh. Permintaan aneka bahan kue seperti terigu, telur, mentega, keju, aneka buah, daging dan bahan makanan lainnya pun akan meningkat saat menjelang lebaran.

Selain bahan makanan, permintaan aneka pakaian serta peralatan beribadah juga seringkali meningkat selama Ramadhan dan menjelang lebaran. Peningkatan permintaan tersebut pada akhirnya akan memicu kenaikan harga dan berimbas pada tingkat inflasi.

Inflasi Selama Bulan Puasa

Meningkatnya permintaan masyarakat terhadap barang-barang konsumsi, sesuai hukum permintaan, cenderung akan meningkatkan harga yang pada akhirnya akan meningkatkan inflasi selama bulan Ramadhan tersebut. Data BPS menunjukkan peningkatan nilai inflasi setiap Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, seperti yang terjadi pada lima tahun terakhir.

Inflasi bulan Juni dan Juli 2016 tercatat sebesar 0,66 persen dan 0,69 persen, merupakan dua nilai inflasi terbesar selama tahun 2016. Sedangkan pada tahun 2017, inflasi bulan juni yang bertepatan dengan momen puasa dan Idul Fitri mencatatkan nilai inflasi sebesar 0,69 persen. Pada tahun 2018, Ramadhan dan Idul Fitri jatuh di bulan Juni mencatatkan inflasi sebesar 0,59 persen. Pola yang sama juga terjadi di tahun 2019, dimana inflasi tercatat sebesar 0.68 persen pada Mei 2019. Namun pada pada tahun 2020, karena adanya pandemi covid-19 dengan diberlakukannya PSBB, membuat Ramadhan dan Idul Fitri yang tidak seperti biasa. Hal ini bisa dilihat dari nilai inflasi yang hanya sebesar 0,08 persen pada Mei 2020. Pada bulan April 2021 juga mencatatkan inflasi walaupun tidak begitu besar yaitu 0,13 persen. Bagaimana dengan inflasi Mei 2021 dimana masih ada momen lebaran? Apakah akan memperlihatkan adanya lonjakan nilai inflasi atau tidak, kita tunggu saja rilis angka inflasi dari BPS.

Sisi Positif Terhadap Perekonomian

Meningkatnya pola konsumsi masyarakat selama Ramadan dan Idul Fitri, bisa dilihat sebagai angin segar bagi perekonomian di Indonesia. Semakin banyaknya permintaan konsumen menunjukkan pasar yang bergairah, serta makin banyak uang beredar dan berputar di masyarakat. Dalam skala mikro, dengan meningkatnya konsumsi rumahtangga, akan menghidupkan usaha-usaha mikro kecil yang biasa muncul saat Ramadhan, misalnya usaha penyediaan makanan dan minuman dadakan yang menjual takjil dan menu berbuka, usaha catering makanan dan minuman untuk puasa dan lebaran, usaha industri kue-kue lebaran berbasis rumahan, serta usaha-usaha mikro kecil lainnya yang menjadi bergairah dengan meningkatnya permintaan dari konsumen dalam hal ini rumah tangga.

Ibarat kata pepatah, sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Meskipun peningkatan konsumsi tersebut lebih bersifat dalam tatanan mikro, namun jika dikumulatifkan dalam tataran Indonesia, maka bisa dipandang sebagai peningkatan permintaan domestik dari sisi rumah tangga. Dalam tatanan makro, tentu bisa dilihat bahwa PDB menurut penggunaan memiliki komponen berupa konsumsi rumah tangga. Sehingga jika konsumsi tersebut meningkat, diharapkan pertumbuhan ekonomi juga meningkat. Berbelanja selama puasa bisa dilihat sebagai hal yang positif karena dampak positifnya terhadap perekonomian.