Ramadan dan Sebuah Nostalgia

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Novita Prima

Ramadan, bulan yang senantiasa dinantikan dan selalu dirindukan. Ramadan seringkali meninggalkan nostalgia tak terkira, begitu pula Ramadan yang kulalui di penghujung tahun 90-an hingga di permulaan 2000-an. Jadi begini kisahnya.

Tepat tengah malam di malam-malam bulan Ramadan, dapur rumahku telah gaduh oleh harmonisasi suara yang berasal dari bunyi macam-macam perabot dapur. Dentingan spatula berbahan stainless steel beradu dengan penggorengan, desis air yang hampir matang di dalam panci berisik sekali seolah memanggil agar segera diangkat dari tungku kompor minyak murahan, suara-suara piring yang diatur secara bertumpuk juga turut menyumbang harmonisasinya. Tak seperti malam-malam biasa, pada malam bulan Ramadan ibuku akan bangun sekitar pukul dua belas malam untuk mempersiapkan aneka masakan yang akan dijual sebagai menu santap sahur. Sejam setelahnya, aku menyusul bangun untuk membantu persiapan tersebut.

Berteman kantuk, suara gaduh perabot dapur, dan aneka rupa aroma masakan yang menyusup di hidung, aku mulai menata meja besar untuk menyajikan masakan-masakan ibuku sebagai menu santap sahur. Meja besar itu aku atur sedemikian rupa di muka rumah kami. Rumah kami tidak mempunyai halaman, hanya ada dua badukan di sisi kiri dan kanan (badukan ialah tempat duduk berbentuk seperti bangku panjang permanen yang menempel di bagian depan rumah yang terbuat dari batu bata dan dilapisi semen). Oleh karena rumah kami tidak memiliki halaman, meja yang aku atur tersebut akan menempati seperempat badan jalan perkampungan rumah kami.

Setelah meja besar sempurna terpasang, berikutnya sebuah kompor minyak kupindahkan dari dapur ke muka rumah. Kompor minyak tersebut kuletakkan di dekat kaki meja sebelah kanan. Kompor minyak ini dipergunakan untuk memanaskan rawon agar ketika ada pembeli yang memesannya, kuah rawon tetap hangat dan sedap disantap untuk sahur. Setelah dua perabot besar tersebut menempati tempatnya masing-masing, aku beralih pada aktivitas mondar-mandir. Mengapa mondar-mandir? Tentu saja kusebut demikian karena setidaknya tidak kurang dari tujuh kali aku harus bolak balik dari dapur ke depan rumah untuk menata segala hal yang akan dipergunakan ibuku berjualan. Dari hal remeh temeh seperti karet gelang untuk mengunci bungkusan sampai ke panci besar tempat di mana potongan daging sapi berenang dalam limpahan kuah hitam dengan dominasi bumbu kluwek ditempatkan, tak luput kupersiapkan.

Sekitar pukul 1.30 dini hari, acara meletakkan wadah-wadah yang berisi aneka rupa masakan ini biasanya telah selesai. Semua telah sempurna tersaji di atas meja. Dari sisi sebelah kiri ada panci sedang berkelir putih yang berisi potongan tahu, daging ayam, dan telur bulat berkuah kari kental, bergeser sedikit di sebelahnya ke arah kanan ada mangkuk saji besar bermotif bunga-bunga berisi masakan bumbu bali (bumbu merah) yang dilengkapi potongan ikan bandeng, tahu, dan telur bulat padat yang di antaranya terlihat berwana merah kecokelatan pertanda telur telah dimasak cukup lama dan bumbu-bumbu andalan ibuku telah meresap jauh ke dalamnya. Pada menu ini terkadang potongan ikan bandeng digantikan oleh ikan tongkol atau daging sapi, tergantung ketersediaan di pasar dan permintaan pelanggan.

Di pojokan sebelah kanan kuletakkan wadah besar berkelir merah yang di dalamnya terdapat gunungan serundeng. Serundeng adalah menu pelengkap makanan berbahan dasar kelapa parut yang dibumbui aneka macam bumbu khas nusantara bercampur gula jawa yang kemudian dimasak sedemikian rupa hingga menghasilkan kelapa parut melimpah bumbu berwarna kecokelatan yang rasanya legit, manis dan gurih. Serundeng ini terkadang juga diramaikan oleh potongan daging sapi di dalamnya.

Berjualan Menu Sahur

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Berpindah ke barisan berikutnya masih di meja yang sama, aku menjajarkan stoples besar rempeyek kacang dan grago (grago ialah sebutan lokal di daerahku untuk udang kecil yang dikeringakan, atau biasa kita kenal sebagai ebi) serta blek kerupuk (blek ialah kaleng kerupuk besar berbentuk balok vertikal dan diberi kaca transparan di bagian depannya agar kerupuk dapat terlihat langsung tanpa membuka penutupnya). Sambal goreng kering tempe, bumbu pecel, dan sambal bajak (sambal bajak ialah sebutan lokal di daerahku untuk sambal yang diolah dari cabe rawit, cabai merah besar, tomat, bawang merah, bawang putih, tersasi ditambah gula dan garam secukupnya, sebelum diulek di cobek bahan sambal tersebut digoreng terlebih dahulu dan setelah halus digoreng kembali hingga tanak, cara masak seperti ini dimaksudkan agar sambal awet sampai berhari-hari) menempati ruang sebelahnya, berurutan hingga ke pojokan meja. Sisa ruang di meja akan kupergunakan untuk menyiapkan pincuk nasi (pincuk ialah wadah nasi yang dibentuk sedemikian rupa terbuat dari daun pisang atau kertas minyak pembungkus nasi), setumpuk kantung plastik dan sejumlah besar karet gelang. Karet gelang ini digunakan untuk mengunci bungkusan nasi.

Pukul 2.00 dini hari, biasanya masih segelintir orang saja yang mampir ke lapak kami. Di saat belum terlalu sibuk melayani pembeli itulah aku dan ibuku akan bergantian bersantap sahur. Dengan bergantian begitu bila ada pembeli yang datang salah satu dari kami tetap bisa melayani. Mendekati pukul 2.30 akan semakin banyak orang yang mengantre. Kami dituntut cepat dan tepat ketika melayani pembeli. Pekerjaan kami diburu oleh waktu.

Semua orang menginginkan cepat dilayani. Mereka yang membeli nasi dengan cara dibungkus ingin segera membawa nasi bungkusnya ke rumah dan dihidangkan di atas meja lalu mereka bersantap sahur bersama keluarga. Sedangkan mereka yang membeli dengan cara makan di tempat pun sama saja, mereka ingin dengan segera memangku piring nasi di atas telapak tangan dan kemudian menyatap seluruh isinya hingga tandas.

Telapak tangan kami yang kemerahan akibat sering menopang pincukan berisi nasi dan lauk pauk yang masih panas tak kami hiraukan. Kami terus melayani pembeli dengan cepat. Kami tak ingin mereka kecewa lalu tak ingin mampir lagi untuk membeli hanya karena kami lambat melayani dan mereka tidak dapat merasakan nikmat bersantap sahur sebab dihantui waktu imsak yang kian mendekat. Seringkali di menit-menit terakhir akan masuk waktu imsak, pembeli justru membludak, padahal saat itu kami baru saja duduk mengaso dari kegiatan melayani pembeli yang kami lakukan tanpa henti sejak dini hari. Meskipun begitu, dengan senang hati kami melayani. Orang-orang muda yang indekos di sekitar lingkungan rumah kami adalah golongan yang suka mengantre pada menit-menit terakhir. Mereka biasanya datang sekaligus satu rombongan hingga tak jarang membuat kami kewalahan.

Lelah yang kami rasakan memang berbeda dibandingkan dengan hari-hari lain saat kami berdagang nasi di pagi hingga siang hari. Kata ibuku, wajar jika lelah itu kami rasa bagaikan dilipat ganda, karena bekerja pada malam hari lebih menguras tenaga, meskipun tak ada terik mentari yang membakar dengan sengatnya, namun pada malam hari seharusnya tubuh kita istrirahat dari bekerja untuk memulihkan stamina. Kenyataannya kami malah bekerja habis-habisan untuk memenuhi kebutuhan santap sahur pelanggan.

Meskipun setiap hari di malam bulan Ramadan kami harus berjuang melawan kantuk dan diikuti kerja tanpa henti hingga pagi, kami melakukan semua itu dengan sukacita. Ketika dapat menyajikan aneka rupa hidangan tepat sebelum pelanggan datang memenuhi lapak kami ada perasaan lega menghampiri. Dan ketika beberapa di antara mereka ada yang bersendawa sesaat setelah menandaskan makanan dan minumannya, gembira seketika kami rasa. Seluruh kerja keras kami lunas ketika kami dapat melayani seluruh pembeli sebelum waktu imsak terdengar di telinga dan tak lama kemudian diikuti kumandang adzan subuh yang bersahutan memenuhi seluruh perkampungan.

Tetap Berjuang meski Lelah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Sekali dua kami yang hanya manusia biasa pernah mengeluh lelah, namun ketika bersamaan dengan azan subuh berkumandang kami mendapati seluruh dagangan hanya menyisakan wadah-wadah dan panci kosong melompong, lelah itu seketika sirna. Nikmat dari hasil jerih payah memang tak terkira rasanya. Berkah Ramadan begitu kami rasakan, sepanjang berjualan di saat sahur tersebut bila kuingat-ingat hampir tidak pernah dagangan yang kami jual tersisa tanpa ada yang membelinya. Sungguh berbeda dengan hari-hari biasa saat kami bedagang dari pagi hingga siang hari. Pada saat berdagang di hari biasa itu, terkadang nasi bungkus yang kami titipkan di warung-warung kopi pernah dalam sehari hanya laku tak sampai hitungan jari tangan sebelah sisi, hingga kemudian saat siang hari ketika mengambil uang setoran nasi, aku harus membawa pulang kembali berbungkus-bungkus nasi yang kukemasi dari warung kopi.

Menangis rasanya di dalam hati mendapati kenyataan yang begitu perih. Letih setelah berjalan kaki dari rumah ke warung kopi semakin menjadi ketika bertemu kenyataan seperti ini. Kalau sudah begini, seringkali ibuku membagikan nasi bungkus yang tak laku dijual itu secara cuma-cuma kepada siapa saja yang membutuhkannya atau terkadang ada saja orang yang mau membeli dengan potongan harga.

Ibuku selalu berkata, “Lebih baik dapat berbagi meskipun yang kita punya hanya sedikit saja dan meskipun yang dapat kita bagikan hanya nasi bungkus yang tak laku dijual karena memang tidak hanya kita yang menitipkan nasi di warung kopi, banyak dagangan namun sedikit pelanggan. Nanti kalau sudah rezeki pasti tak kan lari.”

Hidup memang tak selalu mudah, akan selalu ada onak di dalamnya yang turut melengkapi setiap gulirnya. Seperti halnya sebuah rencana yang tak semua bisa terwujud begitu saja. Yang kami tahu janji Allah itu pasti. Seperti malam-malam Ramadan kami yang terlewati tanpa satu nikmat pun terkurangi. Semua masakan yang kami perdagangkan laku dalam hitungan jam dan para pelanggan pun senang karena kami selalu sigap melayani.

Ramadan kali ini ketika kuingat kembali semua hal yang pernah kulalui di tahun-tahun sebelumnya seringkali meninggalkan sesimpul senyum di wajah. Aku pernah ada pada masa di mana ketika aku hendak bersantap sahur saja harus meluangkan sedikit waktu yang ada. Di Ramadan 2020 ini, begitu banyak waktu melimpah di rumah bersama keluarga karena pandemi Covid-19. Ibadah bulan Ramadan semuanya dilakukan dari dalam rumah dan untuk membeli makanan pun tak bisa untuk makan di tempat, lebih baik delivery order atau dibungkus saja. Semua itu untuk menjalankan anjuran physical distancing dari pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 yang tengah mewabah.

Fragmen sederhana yang kami lalui beberapa tahun sebelumnya sungguh berbeda dengan kondisi saat ini. Hal itu semakin mengingatkanku bahwa tak ada yang kekal di kehidupan ini. Semua hanya numpang lewat saja, dan kita sebagai manusia hanya menjalankan peran sebaik-baiknya serta selalu mengingat segala kuasa-Nya. Sama halnya dengan pandemi Covid-19 yang harus kita lalui di Ramadan tahun ini, pada suatu masa, entah kapan persisnya wabah ini akan undur diri atas kuasa Ilahi dan inshaallah kita akan dipertemukan kembali pada keberkahan Ramadan di kemudian hari.

#ChangeMaker